Ketua Koperasi Nelayan Enenem Jaya di Kampung Arguni, Fakfak, Jamaluddin Mumuan. Foto: CAHAYAPAPUA.com | Patrix Barumbun Tandirerung

Kebutuhan Ikan di Proyek Tangguh LNG Dipasok Nelayan Lokal

ARGUNI, FAKFAK, CAHAYAPAPUA.com — Nelayan lokal di sekitar Teluk Arguni Distrik Kokas, Kabupaten Fakfak dan Distrik Babo, Kabupaten Teluk Bintuni kini tak perlu ragu untuk melaut atau dibayangi kekuatiran merugi karena hasil tangkapannya tak diserap pasar.

Kehadiran BP, perusahaan Inggris yang beroperasi di kawasan ini cukup membantu nelayan setempat. Kebutuhan ikan untuk konsumsi karyawan yang jumlahnya ribuan orang, kini dipasok nelayan lokal.

Jamaluddin Mumuan, nelayan yang juga Ketua Koperasi Nelayan Enenem Jaya di Kampung Arguni, kini tekun memotivasi 15 anggotanya agar melaut karena melihat prospek pasar.

“Dulu saya bisnis teripang sampai di Kepulauan Aru. Tapi hasilnya tidak memadai. Sekarang saya lebih fokus membina koperasi nelayan. Anggota koperasi juga jadi rajin melaut. Pasarnya jelas soalnya BP mau terima,” kata Jamal—sapaan akrabnya, di Kampung Arguni, Jumat (28/11) lalu.

Sebelum nelayan bekerjasama dengan pihak perusahaan, hasil tangkapan biasanya dijual ke pasar ikan. Keuntungan pun relatif lebih tipis sebab banyak pesaing.

Lalu, pihak BP menghubungi mereka 2008 lalu. Perusahaan bersedia membeli ikan hasil tangkapan nelayan bahkan memfasilitasi pembentukan koperasi untuk memperkuat kelembagaan nelayan. BP juga menyalurkan bantuan perahu, mesin tempel, hingga pendingin.

Membaca peluang itu, koperasi nelayan Enenem langsung melakukan reposisi. Dari koperasi yang menjual bahan pokok menjadi koperasi penyalur ikan. Anggotanya terdiri dari 15 nelayan. Lewat lembaga ini, nelayan bekerja sama dan saling membagi keuntungan.

Untuk memperkuat posisi nelayan, BP mewajibkan kontraktor logistik proyek Tangguh, Indocater, menerima hasil tangkapan nelayan untuk kebutuhan konsumsi karyawan.

Dari kawasan Teluk Arguni, nelayan memasok ikan kakap, Tengiri, Mubara. Sementara dari kawasan Otoweri, Taroi, Babo dan Weriagar, nelayan memasok udang dan kepiting.

Selain untuk konsumsi karyawan di proyek Tangguh LNG, biasanya nelayan juga menerima pesanan ikan dari karyawan yang hendak pulang kampung. Sekali memasok, nelayan biasanya mengirim sekitar 200-500 kg. Dalam seminggu, nelayan memasok ikan 2 kali.

“Biasanya kami terima berapapun jumlah ikan yang dipasok. Sejauh ini sebetulnya pasokan dari nelayan masih kurang,” sebut Tangguh Expansion Community Affair, Frengky Kaiwai. |PATRIX BARUMBUN TANDIRERUNG

Tinggalkan Balasan