Penjual jamu keliling, Ibu Muki. |CAHAYAPAPUA.com /TOYIBAN

Kegigihan Penjual Jamu Gendong Keliling

MANOKWARI, CAHAYAPAPUA.com—– Dari desa Kragilan, Nguter, Sukoharjo Solo, Jawa Tengah, Ibu Muki merantau jauh-jauh ke Manokwari. Bermodal semangat serta skill secukupnya, ia bekerja sebagai penjual jamu gendong demi masa depan 4 orang anaknya.

26 tahun sudah ia lalui di Manokwari, tak terhitung berapa banyak langkah kakinya menapaki lorong demi lorong kota ini untuk menjajakan jamu gendong hasil racikanya. Ya,, tidak percuma, kini hasil kerja kerasnya terbayar tuntas.

Empat orang anaknya berhasil menyelesaikan studi perkuliahan. Dua orang anaknya saat ini sudah bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan pelayaran ternama di Negeri ini. Sementara dua orang anaknya yang lain pun kini sudah bekerja sebagai guru berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Manokwari.

Berikut beberapa kutipan berbincangan antara Cahaya Papuadengan Ibu Muki:
CP:Ibu sejak kapan berjualan Jamu gendong, dan bagaimana memulainya?
IM:Sejak 1979 lalu, sejak awal saya melakukanya dengan berjalan kaki sambil menggendong jamu. Saat itu setiap pagi jalan dari jam 6 sampai jam 10 siang baru pulang. Terus sore jalan lagi dari jam 4 sampai jam 6.
CP:Bagaimana hasil penjualan saat itu?
IM: Ya,, yang namanya jualan, kadang laku kadang tidak. Dulu pemukiman masi sepi, tidak seperti sekarang ini. Tapi, kita jalani saja, kalau sungguh-sungguh, rejeki pasti ada.
CP:Saat ke Manokwari ibu sama siapa. Lalu bagaimana prosesnya saat itu.
IM: Saya, suami dan adik suami saya. Saat itu belum ada kapal penumpang, yang ada kapal barang. Kami ikut kapal barang dari Surabaya. Saat sampai di Kupang, sapi-sapi naik kapal, jadi kami satu kapal dengan sapi. Sapi dibagian tengah, sementara kami dan para penumpang lainya di setiap tepian kapal. Bahkan saat itu, kami harus harus bertahan selama 35 hari hanya untuk menunggu kapal barang datang. Sempat kami kehabisan makanan di Surabaya, terpaksa harus jual perhiasan agar bisa beli makan.
CP:Suami ibu kerja apa di Manokwari?
IM:Bapak jualan Es buah dan jendol. Bersama bapak kami berjuang untuk membesarkan dan menyekolahkan anak-anak.
CP:Apa yang menyemangati ibu, sehingga harus rela bersusah payah banting tulang di tempat rantau?

IM:Biasa saja, cuma satu yang membuat kami semangat. kami hanya ingin anak-anak kami pintar dan punya bekal agar bisa sukses.
CP:Bagaimana cara ibu mengatur pengeluaran dari penghasilan ibu?
IM:Kalau untuk hidup saya dengan suami di Manokwari, ya hidup seadanya. Saya dengan bapak tidak mau neko-neko. Saat selesai SMA, semua kuliah diluar Papua. Ada yang di jawa ada juga di Balil Papan. Kami mengirimi mereka secara bergantian. Anak-anak juga mengerti. Misalnya sebelum pembayaran dilakukan, sebulan sebelumnya sudah kasih kabar. Sehingga saya dengan bapak bisa ancang-ancang.
CP:Saat itu, jamu yang ibu jual ibu beli dari jawa atau bikin sendiri?
IM:Saya beli dari Jawa, ada merk air mancur, sido muncul, nyoya menir, Sidopolon, itu yang serbukan. Ada juga yang ramuan-ramuan, itu juga saya beli dari toko jamu.
CP:Saat ini ibu masih jualan?
IM:Masih tapi tidak seperti dulu. Paling seminggu satu kali atau dua kali. Anak-anak sebetulnya sudah melarang, mereka minta supaya saya berhenti berjualan. Tapi saat tetap berjualan, bukan untuk cari kebutuhan seperti dulu. Saya jualan hanya untuk olahraga dan hiburan.
CP:Saat ini anak-anak ibu dimana?
IM:Anak saya yang nomor dua dan nomor 3 kerja di perusahaan pelayaran. Yang pertama kerja sebagai kepala sekolah di SMP Prafi. yang keempat, mengajar sebagai guru SD di kota Manokwari. Setelah mereka pada kerja, mereka pun mengerti sama orang tuanya, saat saya butuh mereka pasti datang.
CP:Apa pesan ibu untuk anak-anak?
IM:Saya tidak berharap banyak. Saya cuma pesan hidup dirantau harus hati-hati, dan kerja baik-baik.
Komplek Wirsi, Arkuki dan Kampung Ambon menjadi saksi kegigihan ibu Muki dalam mengais rejeki demi menyukseskan ke empat anaknya. Di komplek ini ia blusukan dari rumah kerumah menjual jamu gendongnya.

Tidak percuma, kegigitan Ibu Muki dan suaminya tercinta telah membuahkan hasil yang sangat berarti bagi anak-anaknya. Kesuksesan itu tidak terjadi begitu saja. Panas,hujan, tangis dan lelah mewarnai jerihpayah Ibu Muki dan suaminya.

Dibulan pertama saat ia tiba di Manokwari tahun 1989 lalu. Ia pernah merasa tidak kerasan di Manokwari. Sebab kondisi Manokwari saat itu masih sepi, berkali-kali lipat berbeda dengan kondisi di kampung halamanya. Kala itu ia sempat minta dicarikan pinjaman agar dia bisa pulang.

Ibu Muki, adalah satu dari sekian penjual jamu gendong di Manokwari. Dikampungnya ia tak memilih sawah yang bisa digarap untuk menopang hidup. Satu-satunya jalan rejeki bagi ibu Muki adalah dengan cara merantau. | TOYIBAN