Tim Labfor Polres Sorong Kota kembali melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP), Kamis, untuk mencari bukti kasus pembunuhan terhadap seorang Ibu Rumah Tangga dan anaknya Fitra (7 tahun) yang terbunuh Rabu (26/10/2016) lalu di rumah mereka yang terletak di Jalan Frans Kalasuat, Kelurahan Malanu, Distrik Sorong Utara, Kota Sorong. Polisi menemukan switter yang diduga milik pelaku.
Tim Labfor Polres Sorong Kota kembali melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP), Kamis, untuk mencari bukti kasus pembunuhan terhadap seorang Ibu Rumah Tangga dan anaknya Fitra (7 tahun) yang terbunuh Rabu (26/10/2016) lalu di rumah mereka yang terletak di Jalan Frans Kalasuat, Kelurahan Malanu, Distrik Sorong Utara, Kota Sorong. Polisi menemukan switter yang diduga milik pelaku.

Kejar Pembunuh Ibu dan Anak di Sorong, Polisi Kembali Olah TKP

SORONG, Cahayapapua.com— Tim Laboratorium Forensik (Labfor) Polres Sorong Kota menemukan jaket switer yang diduga milik pelaku pembunuhan seorang Ibu Rumah Tangga (IRT) Nirma Samiu’n dan anaknya Fitra Jakaya berusia tujuh tahun pada Rabu (26/10).

Jaket tersebut ditemukan di rumah korban dalam olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) yang berlangsung Kamis (3/11) di Jalan Frans Kalasuat, Kelurahan Malanu, Distrik Sorong Utara, Kota Sorong. Olah TKP ini menjadi tontonan warga terutama tetangga dekat korban.

Menurut keterangan tetangga korban Mathias Wali, Nirma dan anaknya Fitra dikenal sebagai orang baik selama 5 tahun bertetangga di lingkungan tersebut.

Bahkan keluarga Mathias sudah menganggap korban dan anaknya sebagai dari keluarga mereka. “Kita keluarga ni dekat dengan ibu (korban), baru anaknya Fitra paling cerewet sekali,” kata Mathias.

Mathias bahkan yakin kalau Nirma tidak punya masalah dengan siapapun di lingkungan tempat tinggal korban.

Walau mengenal Nirma memiliki pembawaan yang baik namun Mathias menyebut suami korban Azis justru berbeda. Ia dikenal suka mabuk-mabukan bahkan tak jarang memukul Nirma. Azis juga jarang bergaul dengan tetangga.

“Suaminya jarang kumpul dengan warga. Dia sering mabuk. Biasanya kalau mabuk langsung pukul istrinya. Kalau sudah pukul begitu anaknya yang nanti datang lapor ke mama (istri Mathias, red) di rumah sini,” kata Mathias.

Meski begitu Azis dikenal sebagai pekerja keras. Azis bekerja pada sebuah perusahaan kelapa sawit di daerah itu yang menuntut dirinya keluar pagi dan pulang malam.

Sebelum Nirma dan Fitra meninggal tetangga mengaku melihat Fitra terakhir kali pada siang hari membeli barang di kios yang berdekatan dengan rumah korban. “Itu sudah terakhir kali kita lihat dia, siioooo kasian, dong tuh paling baik,” kenang Mathias.

Mathias berharap pihak kepolisian segera mengungkap pelaku pembunuhan Nirma dan Fitra dan dihukum setimpal dengan perbuatannya.

Sementara itu Kasat Reskrim Polres Sorong Kota. AKP. F Saragih yang dikonfirmasi wartawan soal hasil olah TKP belum memberikan keterangan secara resmi. Namun dari data yang dihimpun sejauh ini pihak kepolisian telah melakukan pemeriksaan terhadap 12 saksi yang merupakan orang dekat korban. (NSR)

One comment

  1. Pak Polisi, memang amat sangat lamban menangani persoalan yang terjadi di masyarakat, mungkin karena kelambatan menangani kemungkinan kekurangan alat pedekteksi atau semacam alat pelacak yang amat dibutuhkan oleh Kerpolisian, semoga saja Kepolisian Khususnya di Wilayah Papua Barat, dapat memecahkan permasalahan yg terjadi di daerah – daerah yang terutama di Papua Barat, Seandainya Kepolisian Lebih Tanggap lagi Untuk Kasus-Kasus Yg Terjadi di Wilayah Papua Barat, berilah Hukuman Tembak Ditempat Bagi mereka yg melanggar Hukum, agar supaya menjadikan Efek Jera Kepada Para Pelanggar Hukum di Republik ini.

Tinggalkan Balasan