Warning: include(/home/u8694510/public_html/wp-content/plugins/wp-super-cache/wp-cache-base.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/cahaya/public_html/wp-content/plugins/wp-super-cache/wp-cache.php on line 70

Warning: include(/home/u8694510/public_html/wp-content/plugins/wp-super-cache/wp-cache-base.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/cahaya/public_html/wp-content/plugins/wp-super-cache/wp-cache.php on line 70

Warning: include(): Failed opening '/home/u8694510/public_html/wp-content/plugins/wp-super-cache/wp-cache-base.php' for inclusion (include_path='.:/usr/local/lib/php') in /home/cahaya/public_html/wp-content/plugins/wp-super-cache/wp-cache.php on line 70

Warning: include_once(/home/u8694510/public_html/wp-content/plugins/wp-super-cache/ossdl-cdn.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/cahaya/public_html/wp-content/plugins/wp-super-cache/wp-cache.php on line 90

Warning: include_once(): Failed opening '/home/u8694510/public_html/wp-content/plugins/wp-super-cache/ossdl-cdn.php' for inclusion (include_path='.:/usr/local/lib/php') in /home/cahaya/public_html/wp-content/plugins/wp-super-cache/wp-cache.php on line 90

Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/cahaya/public_html/wp-content/plugins/wp-super-cache/wp-cache.php:70) in /home/cahaya/public_html/wp-content/plugins/wp-super-cache/wp-cache-phase2.php on line 1164
Kematian Salsabila picu warga bergerak hitamkan DPRPB - Cahaya Papua
Ratusan warga berbaju hitam berunjuk rasa ke kantor DPR Papua Barat mendesak pihak terkait menuntaskan pembunuhan terhadap Salsabila dan mendesak upaya lebih serius pihak terkait menekan kasus pemerkosaan dan pembunuhan terhadap anak di Manokwari, Senin (5/3).

Kematian Salsabila picu warga bergerak hitamkan DPRPB

MANOKWARI, Cahayapapua.com— Ratusan massa yang bersimpati terhadap korban pembunuhan gadis belia 11 tahun Salsabila Putri pekan lalu, mendatangi kantor DPR Papua Barat di Manokwari, Senin (5/3).

Aksi damai yang dilakukan massa simpatisan tersebut didominasi oleh kaum perempuan, dengan menggunakan baju berwarna hitam sebagai bentuk belasungkawa.

Massa simpatisan melakukan long march dari lapangan Penerangan Sanggeng sekira pukul 08.00 WIT dan tiba di kantor DPRPB sekira pukul 10:20 WIT.

Setiba di kantor DPRPB massa sempat dibuat kecewa, dikarenakan ketua DPRPB tidak berada ditempat. Sejumlah massa pun sempat mengancam akan memalang kantor DPRPB jika tidak bertemu dengan ketua DPRPB.

Namun, kekecewaan massa tersebut berhasil diredam dengan hadirnya anggota DPRPB Frida T Kelasin didampingi oleh anggota DPRPB lainnya yakni Yonadap Togrea, Mugiyono anggota komisi B, Pdt. Josias Klasjok anggota komisi E, dan Saul Rante Lembang Ketua Komisi C, DPRPB.

Panglima Parlemen Jalanan, Ronald Mambieuw pada orasinya menyesalkan kinerja DPRPB dinilai belum mampu mensosialisasikan UU No 17 2016 tentang perlindungan anak dan ibu. “Kami minta DPRPB harus mensosialisasilan UU nomor 17 tahun 2016,” tegasnya.

Salah satu keluarga korban, Ella Yarangga, adik ketiga dari ibu korban, meminta pelaku dihukum seberat-beratnya dengan hukuman seumur hidup atau hukuman mati.

“Kami tidak punya hak untuk mengakimi, tapi kami minta kepada yang berwenang untuk menghukum pelaku dengan hukuman mati. Pelaku harus diberi hukuman berat hingga ada efek jera,” tegasnya sembari mempertanyakan masih adanya residivis yang masih berkeliaran di Manokwari.

Selain itu, Nenek Salsabila Putri, Natalia Rawar yang menangis histeris meminta pelaku dihukum setimpal sesuai apa yang diperbuat. “Saya minta supaya pelaku harus dihukum mati, itu cucu saya kasian dia salah apa kasian bapak/ibu dewan tolong, semua masukan kami, saya mohon di perhatikan,” ujar Natalia Rawar. Natalia berharap cukup cucunya yang jadi korban, jangan ada lagi korban lain.

Orator lain Yohanes Rumaikew, ayah dari Jenifer, yang turut serta dalam aksi ini menuturkan, insiden yang menimpa Salsabila Putri nyaris terjadi pada anak kandungnya. Pelaku itu adalah orang yang sama.

“Di hari yang sama tetapi berbeda waktu, anak saya nyaris diperkosa pelaku. Untung pas ketahuan, dan dia langsung melarikan diri,” ungkap Yohanes yang berdomisili di Reremi.

Tidak terima, Yohanes dalam orasinya mengaku langsung melaporkan insiden tersebut ke Mapolres Manokwari, tepatnya di ruang Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu  (SPKT).

“Terus terang saya kecewa. Waktu itu saya datang ketok meja, tetapi yang tugas piket lagi tidur. Pas ada yang bangun saya bilang saja kalau tidur di rumah bukan dikantor,” ujarnya.

Hal berbeda diutarakan Benny Ariks, orang tua korban Viktor Ariks (korban pembunuhan di Pasir Putih tahun 2016). Ia meminta perhatian DPR Papua Barat untuk bersikap menjembatani masyarakat dalam pengungkapan kasus yang dilakukan aparat kepolisian hingga tuntas.

Melengkapi aspirasi tersebut, Sekretaris Umum Ikatan Wanita Sulawesi Selatan (IWSS) Papua Barat Besse Amriati, meminta pemerintah daerah dan kepolisian harus menegakkan Perda miras, karena akar permasalahan kejahatan di Manokwari dipengaruhi oleh minuman beralkohol.

Senada, perwakilan Bhayangkari Papua Barat meminta kepada pemerintah daerah untuk mengaktifkan kembali pos kampling, dia meminta untuk menganggarkan pos kampling disetiap RT/RW.

Massa aksi damai tersebut memiliki 10 poin aspirasi diantaranya meminta pemerintah daerah hingga aparat keamanan bersama masyarakat mengawal kasus tersebut, mempertanyakan peran DPRD menyikapi kasus tersebut, meminta segera memanggil P2TP2A Kabupaten maupun Provinsi untuk melakukan sinergitas dalam penanganan tindakan kekerasan dan kejahatan terhadap anak. Mempertanyakan LP Manokwari terkait masih banyaknya residivis yang berkeliaran di Manokwari. Massa memberikan waktu paling lama dua hari atau 2×24 jam untuk menjawab dan menindak lanjuti aspirasi tersebut.

Usai melakukan orasi dihadapan para anggota dewan simpatisan menyerahkan dokumen aspirasi kepada wakil ketua fraksi Otsus, Frida T. Kelasin. Wakil Ketua Komisi A DPRPB menanggapi aksi masa tersebut menyatakan keprihatinan yang sedalam-dalamnya, bahkan dia mengutuk perbuatan keji tersebut.

“Perasaan kita semua terluka, terhadap kejadian yang menimpa Salsa. Kami memastikan yang diaspirasikan ini untuk mengawal. Kami juga akan memanggil LP Manokwari,” ujarnya.

Dia juga meminta dukungan masyarakat serta pihak berwajib untuk mengawal kasus tersebut serata mengajak masyarakat terutama kaum ibu untuk menjaga anak-anaknya agar terhindar dari aksi kejahatan.

Salsabila Putri merupakan siswa kelas 5 SD Taman Ria Wosi, berumur 11 tahun. Dia cabuli tersangka Hans Koromat alias Hans atau Andy. Hans tertangkap tangan Tim Piranha Polda Papua Barat dan Polres Manokwari dalam waktu 4×24 jam di rumah kerabatnya di Pemukiman Arowi pada pukul 06.30 WIT, Minggu (4/3). |Elyas Estrada | Safwan Ashari | Adlu Raharusun

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: