ilustrasi
ilustrasi

Kepala Suku Biak : Maaf Atas Pengroyokan Danramil

MANOKWARI, Cahayapapua.com— Kepala suku Biak di Kabupaten Manokwari, Petrus Makbon menyampaikan permohonan maaf atas penganiayaan yang dialami Danramil wilayah Kota Manokwari Mayor TNI Suhargono pada insiden di Sanggeng Rabu (26/10).

“Kami belum tahu apakah pelaku pengroyokan itu dilakukan warga kami orang Biak atau bukan, karena saat itu massa cukup banyak dan terjadi saat malam hari. Meskipun demikian, saya atas nama warga mendahului untuk menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada Institusi TNI,” kata Petrus, Minggu malam.

Petrus Berharap, peristiwa itu tidak merusak hubungan baik antara TNI dengan seluruh warga baik dari suku Biak maupun warga dari suku lain di daerah ini.

Ia menyesalkan peristiwa yang terjadi malam itu, seraya berharap agar peritiwa tidak terulang di kemudian hari. Pria ini pun berharap, peristiwa ini tidak menjadi penghalang baik bagi TNI, Kepolisian dan pemerintah daerah untuk melakukan pembinaan bagi warga Sanggeng.

Menurut dia, warga dikompleks tersebut membutuhkan perhatian serius dari semua pihak, terutama menyangkut pembinaan agar bisa bangkit membangun diri dan lingkunganya.

“Warga Sanggeng selama ini masih luput dari perhatian. Sejumlah persoalan terjadi di kompleks tersebut, dari persoalan ekonomi, pengangguran maupun persoalan lainya,” kata dia lagi.

Dia berharap, TNI, Polri, pemerintah daerah, pelaku usaha serta tokoh agama baik Nasrani maupun Islam bersama-sama membangun Sanggeng. Ia tak mau kejadian itu menimbulkan sikap antipati terhadap warga di kompleks tersebut.

Pria yang pernah menghabiskan masa kecilnya di Sanggeng itu mengungkapkan, dinamika dan persoalan terus terjadi di kompleks tersebut. Kondisi ini harus dipandang serta disikapi secara bijak agar tidak memicu konflik berkepanjangan.

Ia ingin Sanggeng menjadi pusat lahirnya anak-anak Papua yang hebat dan bisa diandalkan daerah. “Sanggeng ini sudah melewati beberapa generasi, generasi pertama adalah anak-anak keturunan Belanda, generasi kedua adalah keturunan mereka dan generasi ketiga adalah generasi saat ini dengan berbagai sifat dan karakter anak-anak kita,” ungkapnya lagi.

Dia mengakui, cukup banyak pemuda dan anak-anak yang berperilaku menyimpang di kompleks tersebut. Meskipun demikian, tidak sedikit pula pemuda dan anak-anak yang baik serta memiliki cita-cita hebat.

Petrus tak mau, pandangan negatif tentang beberapa oknum warga Sanggeng di generalisir terhadap keseluruhan warga di kompleks ini.

Menurutnya, prilaku negatif beberapa pemuda dan anak-anak di daerah ini merupakan dampak dari akumulasi peroalan yang terjadi. Ia berharap hal ini ditangani secara serius. (IBN)

Tinggalkan Balasan