Karsono (kiri) setelah menyelesaikan panen, mencari penghasilan tambahan sebagai buruh tani, Selasa (22/11) untuk mencari pemasukan tambahan. Ratusan petani Manokwari merugi akibat turunnya kesuburan tanah di Distrik Masni.
Karsono (kiri) setelah menyelesaikan panen, mencari penghasilan tambahan sebagai buruh tani, Selasa (22/11) untuk mencari pemasukan tambahan. Ratusan petani Manokwari merugi akibat turunnya kesuburan tanah di Distrik Masni.

Kesuburan Tanah Menurun, Ratusan Petani Manokwari Merugi

MANOKWARI, Cahayapapua.com– Ratusan petani padi di wilayah Distrik Masni, Manokwari kesulitan meningkatkan produksi. Kesuburan tanah yang mulai menurun membuat mereka mengalami kerugian.

“Dari penelitian yang dilakukan beberapa pihak terkait, zat asam di lahan sawah kami cukup tinggi. Disisi lain, air yang mengalir ke sawah kurang mengandung zat kapur,” kata Karsono salah satu petani Masni, Selasa (22/11).

Dia menjelaskan, lahan pertanian di wilayah Masni tersebar di Satuan Pemukiman VI, VII dan VIII. Saat ini mereka sudah memasuki musim panen kedua tahun 2016.

Menurutnya, kondisi lahan yang kini tak subur lagi membuat produksi padi di daerah ini relatif rendah.”Kami disarankan untuk membeli kapur, bagi kami itu sangat berat karena tidak sedikit yang harus kami beli,” katanya.

Karsono mengungkapkan, sudah tiga musim panen produksi gabah di wilayah tersebut kurang menguntungkan. Perhektare lahan sawah, rata-rata hanya bisa menghasilkan 40 sak gabah kering.

Harga jual beras petani di daerah tersebut, rata-rata hanya Rp. 9 juta perhektare. Sementara biaya operasional yang harus dikeluarkan dari proses pembajakan, pemeliharaan hingga panen rata-rata mencapai Rp.8 juta perhektare.
“Dari 40 sak tersebut, saya giling hanya menghasilkan 1 ton 80 kilo beras. Sementara harga jual beras ditingkat petani hanya Rp.9 ribu perkilo gram,” katanya merinci.

Menurut dia, tidak sedikit petani yang hanya bisa menutupi biaya operasional melalui hasil penjualan beras mereka. Tidak sedikit pula, diantara mereka yang nombok.

Ia mengharap pemerintah daerah segera melihat persoalan ini. Warga ingin, pengairan lahan pertanian mereka dilakukan melalui sungai Wariori. Diyakini, air di sungai tersebut cukup mengandung kapur yang dibutuhkan untuk meningkatkan kesuburan tanah.

“Selama ini air ke sawah pertanian SP VI, VII dan SP VIII dari mata air gunung dan kurang mengandung zat kapur. Solusinya kita harus mendapat air dari Sungai Wariori,” katanya lagi.

Perwira Seksi Teritorial Kodim 1703/Manokwari Lettu Inf Prapto Widodo yang ditemui saat memantau proses panen di Kampung Prafi Mulya, Selasa mengatakan, pihaknya akan berkoordinasi dengan petugas penyuluh lapangan dan berkoordinasi dengan instansi terkait.

Menurutnya, TNI AD turut berpartisipasi untuk mendorong ketahanan dan swasembada pangan di daerah, termasuk Kodim Manokwari. Selama ini Kodim Manokwari memanfaatkan peran Bintara Pembina Desa (Babinsa) pada sektor pertanian.

“Segenap persoalan yang dialami petani tentu menjadi perhatian kita semua. Terkait persoalan yang dihadapi petani di SP VI, VII dan SP VIII harus kita hadapi sama-sama agar tidak mengganggu produksi beras Manokwari,” kata dia. (IBN)

Tinggalkan Balasan