Yuliana (keempat dari kanan) bersama rekan-rekan menjual sayur di Pasar Wosi Manokwari, Papua Barat, Selasa (4/11/2014). Foto: CAHAYA PAPUA | Dina Rianti

Keuntungan Yuliana Tipis, Kian Sulit Jika Harga BBM Naik

Rencana pemerintah untuk menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) dipastikan memukul perekonomian masyarakat.

CONTOH paling dekat yang bisa dipakai untuk mengukur pukulan ekonomi tersebut adalah mama-mama penjual sayur dari Pegunungan Arfak yang sehari-harinya menjajakan jualan sayur di Pasar Wosi, Manokwari. Karena kekuatiran dampak ekonomi tersebut, akhirnya mama-mama ini mempertanyakan rencana kenaikan BBM yang ditawarkan pemerintahan Jokowi – Jusuf Kalla.

Yuliana Indow misalnya. Untuk membawa sayurnya dari Distrik Minyambouw di Kabupaten Pegunungan Arfak, ke Pasar Wosi Manokwari, ia harus merogoh kantong Rp. 250 ribu. Maklum saja, biasanya para sopir tidak akan menerima jika mereka menaikkan muatan secara berlebih, karena akan mengganggu penumpang lain.

Itu sebabnya, kadang pemilik sayur harus menambah biaya lebih untuk mendapatkan ruang lebih besar di kendaraan. Kalau tidak, hasil panen sayur mereka tidak bisa dijual. “Kalau BBM naik. Saya akan keluarkan uang lebih banyak untuk bayar mobil,” kata Yuliana membandingkan.

Cerita tidak sampai disana. Setelah sayur tiba di pasar, Yuliana biasanya masih harus tinggal di rumah keluarganya di Manokwari selama 3-4 hari untuk menghabiskan jualannya. Karena tinggal di rumah keluarga hanya pada malam hari, praktis ia tidak punya cukup waktu untuk memasak. Akibatnya, Yuliana harus membeli makanan bungkus. Hitung saja, satu hari 3 kali makan selama 4 hari, di kali dengan harga makanan minimal Rp. 10.000 per bungkus. Paling minimal yang keluarkan Rp. 120 ribu.

Setelah jualan laku, Yuliana masih harus membeli bahan kebutuhan pokok seperti minyak Goreng, beras dan bumbu dapur untuk dibawa kembali ke rumahnya. Jarak Distrik Minyambouw dengan Kota Manokwari yang ditempuh memakai kendaraan gardan ganda bisa 1,5 jam. Sebagian jalan kesana tidak beraspal, tapi dilapisi kerikil dan berkelok-kelok. Dengan begitu sudah pasti harga satu jenis kebutuhan pokok di distrik Minyambouw bisa berkali-kali lipat di banding harga di Manokwari.

Ini salah satu contoh penjual bahan pokok yang biasa berjualan ke Pegunungan Arfak. Ia biasanya juga melintasi distrik Minyambouw sebelum ke ibukota kabupaten Pegunungan Arfak di Ullong. Disana harga bahan pokok berkali-kali lipat mahalnya jika dibandingkan dengan Kota Manokwari. Gambar ini diambil Senin, (15/9/2014). Foto: CAHAYA PAPUA| Duma Tato Sanda

Ini salah satu contoh penjual bahan pokok yang biasa berjualan ke Pegunungan Arfak. Ia biasanya juga melintasi distrik Minyambouw sebelum ke ibukota kabupaten Pegunungan Arfak di Ullong. Disana harga bahan pokok berkali-kali lipat mahalnya jika dibandingkan dengan Kota Manokwari. Gambar ini diambil Senin, (15/9/2014). Foto: CAHAYA PAPUA| Duma Tato Sanda

Biaya bahan pokok belum termasuk biaya pulang. Satu penumpang ke Minyambouw tanpa barang bawaan yang banyak, saat ini mencapai Rp. 120 ribu. Itulah biaya minimal yang harus dikeluarkan Yuliana untuk pulang ke Minyambouw.

Lalu berapa hasil jualan sayur Yuliana? “Biasa 400 – 500 ribu (rupiah),” ungkapnya. Sayur yang biasa dijual Yuliana ke Manokwari bisa 4 – 5 karung untuk satu kali jalan.

Ia mengaku tidak mendapatkan banyak untung saat ini, apalagi kalau BBM naik. Yuliana juga kuatir, sebab jika BBM benar-benar naik, harga sayur belum tentu naik. Kalaupun naik, belum bisa menutupi biaya yang mereka keluarkan.

Kalo harga BBM naik berarti kita punya harga sayur ini bagaimana? Apalagi kalau sayur sedang tumpah di pasar, terpaksa kita jual murah,” Yuliana mencontohkan.

Keluh kesah juga disampaikan seorang sopir pedalaman jurusan Manokwari-Anggi, Gunawan. Pria berusia 33 tahun ini mengaku sebagai sopir ia akan semakin tertekan dengan kenaikan harga BBM. Ini karena ia akan semakin sulit mendapatkan solar.

Pasalnya, selama ini dikatakan, BBM sudah beberapa kali mengalami kenaikan harga. Namun itu tidak berarti antrian di depot SPBU berkurang. Buktinya antrian solar selalu panjang.

“Setiap hari kita harus antri dari pagi untuk dapat solar. Bahkan ada yang harus rela menginap demi mendapatkan solar,” kata Gunawan.

Gunawan mengaku tidak keberatan jika pemerintah menaikkan BBM, tapi yang penting tidak ada antrian BBM lagi. “Antrian itu menyita waktu kita. Seharusnya kita sudah bisa bolak balik cari angkutan. Tapi karena antri BBM kita hanya bisa dapat penumpang untuk satu kali naik satu atau dua kali saja,” ujarnya.

Menurut Gunawan, jika BBM naik, sudah pasti harga trasportasi ke Anggi dan distrik lain di wilayah Pegunungan Arfak juga naik.

“Saya juga sebenarnya was-was karena harga sembako dan peralatan mobil juga akan naik,” katanya.

Gunawan mengaku harus pandai-pandai mengatur pendapatan untuk setoran ke bos, –-hasil pencarian tiap hari yang biasa disetor ke pemilik kendaraan– juga untuk disisihkan sebagai penghasilan sehari-hari. |DINA RIANTI

EDITOR: DUMA TATO SANDA

Tinggalkan Balasan