Koalisi Parpol di Pilkada Manokwari, “Keharusan yang Mencemaskan”

MANOKWARI, Cahaya Papua.com—— Mantan Komisioner KPU Papua Barat yang juga Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Manokwari, Pilep Wamafma menilai gagasan membangun koalisi pada Pilkada Manokwari yang diapungkan empat partai politik diantaranya Golkar, Gerindra, Demokrat dan PAN merupakan sebuah keharusan.
Meski begitu, langkah berkoalisi juga mencemaskan karena berpotensi menjadi sumber ketegangan baru, baik antara anggota koalisi maupun antara bakal calon dengan partai.
Disebut niscaya sebab secara normatif tak satupun dari partai ini yang bisa sendiri mengusung calon kepala daerah karena tidak memenuhi kuota perolehan 20 persen kursi di DPRD Manokwari.
Sementara disebut bisa menjadi sumber ketegangan, sebab gagasan koalisi ini baru tercetus setelah sejumlah partai anggota koalisi sudah melakukan penjaringan bakal calon.
“Jika koalisi hendak diarahkan untuk mengerucutkan dukungan kepada 1 calon maka PR terbesar koalisi ini adalah bagaimana menciptakan format yang sama dalam menentukan dukungan. Syarat-syaratnya harus disepakati bersama sejak awal,” kata mantan Komisioner KPU Papua Barat yang juga Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Manokwari, Pilep Wamafma.
Potensi memanasnya hubungan antara bakal calon yang sudah mendaftar dengan partai politik, menurut Pilep juga besar.
“Gagasan koalisi akan menimbulkan tanda tanya kepada belasan bakal calon yang sudah mendaftar, apakah akan mendapat dukungan atau tidak. Belum lagi kalau bakal calon sudah berkontribusi bagi Parpol saat pendaftaran. Menurut saya ketegangan seperti ini bisa berdampak pada stabilitas politik di Manokwari,” ucapnya.
Selasa (9/6) malam lalu, empat pimpinan partai politik di Manokwari diantaranya Ketua DPD Golkar, Dedy S. May; Ketua DPC Partai Demokrat, Frengky Awom; Ketua PAN Manokwar, Yusak Iryo dan Sekretaris Partai Gerindra, Heri Rumbin serta sejumlah pengurus teras 4 partai ini menggelar pertemuan di Billy Café Manokwari.
Pertemuan ini digelar untuk menjajaki koalisi pada Pilkada Manokwari yang melibatkan Parpol anggota Koalisi Merah Putih—Pendukung Prabowo Subianto pada Pilpres 2014 lalu.
Keempat pimpinan partai ini menyatakan koalisi merupakan keharusan karena tidak ada partai di Manokwari yang bisa sendiri mengusung pasangan calon. Kedua, sejauh ini 4 partai ini belum melabuhkan dukungan kepada satu pasang calon sehingga masih terbuka kemungkinan untuk mengusung calon yang sama.
Ketiga, terdapat bakal calon yang mendaftar di 4 partai ini. Kelima, koalisi dinilai bisa meminimalkan anggaran Pilkada. Keenam, KMP dipahami sebagai koalisi permanen dari pusat hingga daerah.
Selain menyasar anggota KMP, koalisi ini juga menyatakan akan membuka diri jika ada partai lain yang hendak bergabung. | TOYIBAN
EDITOR : PATRIX B. TANDIRERUNG