Pangdam XVIII/Kasuri Mayjen TNI Joppy Onesimus Wayangkau

Kodam Kasuari Segel Helikopter Tambang Emas Ilegal Wariori

MANOKWARI, Cahayapapua.com— Komando Daerah Militer XVIII/Kasuari Papua Barat menegaskan, telah menyegel dua helikopter yang dipakai dalam operasi tambang emas ilegal di Sungai Wariori, Distrik Masni, Manokwari. Kodam juga menegaskan telah melarang aktivitas tambang ilegal yang sudah berlangsung bertahun-tahun tersebut.

Penegasan ini disampaikan Pangdam XVIII/Kasuri Mayjen TNI Joppy Onesimus Wayangkau secara terbuka dalam Raker bupati dan wali kota se Provinsi Papua Barat, Selasa (21/3) malam.

Pengeyegelan tersebut bermula dari laporan warga mengenai dugaan keterlibatan aparat TNI yang membekingi aktivitas tambang ilegal tersebut. Karena itu Pangdam mengutus intelijen untuk memastikan informasi tersebut. Pangdam juga mengaku sempat meninjau langsung lokasi tersebut.

“Selama 2 minggu kami melakukan pengecekan ke lokasi yang dilaporkan adanya 2 unit helikopter dan lokasi tambang ilegal, sekaligus memastikan tentara yang beking tambang tersebut,” kata Pangdam.

Di lapangan keberadaan helikopter benar, sementara ia mengaku tentara aktif tidak ada. Seorang pilot helikopter diketahui merupakan warga negara asing dan seorang lagi mantan anggota TNI.

“Pilotnya orang bule. Saya perintahkan dibawa ke Imigrasi dan mengecek surat keimigrasian dan apabila tidak ada, maka langsung di deportasi saja,” tegas Pangdam. Saat itu Pangdam menegaskan kepada pilot agar tidak boleh terbang. Jika melanggar akan ditembak. Ia menegaskan kedua pilot tersebut tidak mengantongi ijin terbang di wilayah Manokwari.

Pangdam menegaskan penyegelan tersebut bukan berarti Kodam hendak mencampuri urusan dinas pertambangan provinsi Papua Barat, namun ia menegaskan bahwa aktivitas tambang tersebut ilegal. “Hal ini saya pikir tepat untuk disampaikan secara terbuka pada momen raker ini, sehingga diwaspadai oleh semua kepala daerah di provinsi Papua Barat,” tegas Pangdam.

Saat ini aktivitas tambang di daerah itu sebut Pangdam sudah disegel. Penyegelan sempat ditolak kepala suku setempat namun akhirnya mereka dapat menerima, setelah diberi penjelasan. Saat memberi penjelasan itu, kepala suku bahkan diiing-imingi rumah oleh penambang namun sampai saat ini tidak terealisasi. Kepala suku seperti dituturkan Pangdam mengaku akan memalang lokasi tambang.

Sementara itu Kepala Pusat Penerangan Kodam Kasuari Kolonel Inf. Wahyudin Handoyo mengatakan adanya dugaan keterlibatan banyak aktor dibalik aktivitas ilegal tersebut. “Banyak pihak yang terkait. Mestinya ada perijinan. Apakah sudah ada dari instansi terkait?,” Wahyudin bertanya.

Berdasar informasi yang dihimpun Cahaya Papua, lokasi tambang ilegal berada di lereng gunung. Untuk menuju ke lokasi itu harus melewati sejumlah gunung, yang perjalanannya ditempuh dua hari satu malam. Selama perjalanan butuh beberapa kali istirahat. Kadang penambang mendirikan camp untuk berteduh.

Selain perjalanan darat, menuju ke lokasi tersebut juga menggunakan perjalanan udara. Dikabarkan telah dioperasikan dua unit helikopter yang diduga didatangkan dari pangkalan udara Nabire, Papua. Sekali penerbangan berbiaya sekitar Rp. 100 juta. Avtur untuk menerbangkan helikopter itu saat ini diduga disimpan di rumah warga di Wasegi.

Selain itu saat ini para penambang di lokasi tersebut sudah mencapai sekitar 1000 orang. Mereka berasal dari Manokwari dan daerah lain seperti Nabire. Bahkan dikabarkan eks penambang Gunung Botak, di Pulau Buru, Namlea, Provinsi Maluku, sudah berada disana.

Menurut seorang sumber yang sudah pernah ke lokasi tersebut, para penambang disana dikoordinir sekitar dua orang mandor yang mendatangkan alat eksavator, disewa dari Manokwari.

Bupati Manokwari Demas Paulus Mandacan akhir 2016 pernah menegaskan keberadaan tambang illegal tersebut. Saat itu Demas mengaku pihak Pemda belum mendapat pengajuan izin dari penambang untuk menambang lokasi tersebut. (*/MAR)

Tinggalkan Balasan