Kepala Perpustakaan, Arsip dan PDE Kabupaten Teluk Wondama Dra. Hermin Sasarimbing bersama staf menunjukan koleksi koran Cahaya Papua.

Koleksi Cahaya Papua di Perpusda Wondama Lebih Lengkap Dibanding di Redaksi

Perpustakaan Daerah Kabupaten Teluk Wondama ternyata punya koleksi khusus koran harian Cahaya Papua. Media ini bahkan menjadi satu-satunya media cetak lokal yang dikoleksi di perpustakaan ini. Setiap hari, koran dikumpul lalu dibukukan dalam beberapa jilid, sejak 2009 hingga sekarang.

“Bagi kami Cahaya Papua dengan segala keterbatasannya merupakan salah satu media cetak yang mengawal roda pembangunan di Tanah Papua. Terlebih Cahaya Papua hadir bersamaan dengan Kabupaten Teluk Wondama. Cahaya Papua juga terus memberikan informasi kepada masyarakat seputar pembangunan Wondama,” kata Kepala Badan Perpustakaan, Arsip dan Pengelolaan Data Elektronik (PDE) Kabupaten Teluk Wondama, Dra. Hermin Sasarimbing, M.Mis, Kamis (11/12).

Menurut Hermin kehadiran media massa baik cetak maupun elektronik, penting dalam upaya mengawal pembangunan.

Meski Hermin menilai media ini bermutu dan kredibel, namun ia menyebut masih sering terjadi kesalahan penulisan kata, “Mungkin wartawan atau editor terburu – buru kejar deadline sehingga ada huruf yang hilang, termasuk penulisan nama narasumber yang belum lengkap. Hal ini saya kira perlu menjadi perhatian,” katanya.

Hermin berharap Cahaya Papua bisa melakukan inovasi, termasuk dalam rubrikasi. Misalnya, dengan menampilkan kolom cerita pendek atau cerpen.

Koleksi koran Cahaya Papua di Perpustakaan Daerah Teluk Wondama.

Koleksi koran Cahaya Papua di Perpustakaan Daerah Teluk Wondama.

“Ya kalau bisa dibuat berkala, karena cerpen ada edukasi di dalamnya. Satu hal lagi, tampilan koran Cahaya Papua yang kini hitam putih perlu berwarna agar lebih menarik minat pembacanya,” katanya.

Wakil Pemimpin Umum yang juga Penanggung Cahaya Papua, Patrix Barumbun Tandirerung mengatakan apresiasi Pemkab Teluk Wondama terhadap karya jurnalistik media ini merupakan motivasi positif yang kuat bagi Cahaya Papua. Justru katanya, koleksi yang dimiliki oleh Pemkab Wondama jauh lebih lengkap dibanding yang dimiliki redaksi. “Kadang ada yang mengambil koran yang tersisa untuk penelitian, klipping dan lainnya,” kata Patrix.

Soal inovasi, ia mengatakan, sejauh ini upaya pengembangan Cahaya Papua menghadapi banyak kendala misalnya terbatasnya fasilitas, ruang dan sumberdaya. “Tahun ini kami mengembangkan platform online untuk menjangkau pembaca yang tidak berlangganan versi cetak serta segmen pembaca muda. Ini semacam layanan plus bagi publik, belum berorientasi profit dan free,” katanya.

Sementara untuk platform cetak ada rencana untuk mengubah rubrikasi dan tampilan secara drastis. Tapi itu akan dilakukan secara perlahan sebab butuh dukungan alat produksi baru dan dukungan sumberdaya redaksi.

Cahaya Papua adalah media cetak harian, berbasis di Manokwari, terbit perdana pada 2004. Bersama harian Radar Sorong koran ini terdaftar di Dewan Pers sejak 2007. Pelanggannya tersebar di wilayah kepala burung tanah Papua terutama Manokwari, Teluk Wondama, Kaimana, Teluk Bintuni, Manokwari Selatan dan Pegunungan Arfak dengan oplah antara 1000-1500 eksemplar per hari.

Sejak 2010 media dengan tag “Santun dan Cerdas” ini tampil dalam konsep hitam putih. Sementara CAHAYAPAPUA.com adalah platform online-nya. |ADLU RAHARUSUN

 

Tinggalkan Balasan