Mobil toyota rush yang dirusak warga sebelum terjadinya insiden penembakan. Mobil ini diduga sebagai mobil yang membawa sekelompok aparat keamanan yang menganiaya pemuda di pondok natal. (suarapapua.com)

Komnas HAM: Toyota Rush Milik Anggota Timsus TNI

JAYAPURA,CAHAYAPAPUA.COM– Otto Nur Abdullah, Komisioner Komnas HAM RI mengaku sudah mendapatkan informasi tentang mobil yang diduga membawa sekelompok anggota TNI yang kemudian menganiaya seorang pemuda yang memicu terjadinya penembakan terhadap warga sipil di Paniai, Senin (8/12) lalu.

Menurut Otto, mobil yang digunakan bukan mobil fortuner melainkan toyota rush. Mobil ini dirusak warga sebelum terjadinya insiden penembakan. “Laporan dari warga yang kami dapatkan, mobil itu (yang sebelumnya dikabarkan sebagai mobil fortuner) toyota rush. Milik anggota Tim Khusus TNI dari Yonif 753/AVT. Mereka bertugas di Paniai,” kata Otto, Kamis (11/12) malam.

Dengan adanya petunjuk itu maka investigasi bisa dimulai dari siapa pemilik mobil tersebut. Kemudian, bisa diketahui, siapa orang yang mengendarai mobil tersebut di malam sebelum terjadinya penembakan. “Itu kunci kasus ini. Siapa pelaku penembakan warga sipil Senin lalu, ada pada mobil itu. Ini perlu dikembangkan oleh tim investigasi yang dibentuk nantinya.” kata Otto.

Sebelumnya, Komisioner Komnas HAM ini mengatakan terbuka kemungkinan insiden penembakan pada warga sipil di Paniai ini menjadi sebuah pelanggaran HAM berat. “Tapi juga ada kemungkinan hanya menjadi kasus kekerasan oleh aparat keamanan saja,” kata Otto.

Menurutnya, upaya menjadikan kasus seperti ini sebagai kasus kekerasan oleh aparat keamanan, sering terjadi. Dan ini menjadi pertarungan antara masyarakat sipil dengan pihak penguasa atau aparat keamanan. “Pelanggaran HAM berat itu selalu berkaitan dengan sebuah operasi militer atau keamanan. Polisi memang punya operasi di Paniai. Tapi TNI kita belum tahu,” lanjut Otto.

Dalam kasus penembakan warga sipil di Paniai ini, Otto menilai pemberitaan berbagai media massa di Jakarta, memberikan kesan Panglima TNI maupun Kapolri berusaha mengkambing hitamkan anggota Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPN-PB), atau yang lebih sering disebut dengan Organisasi Papua Merdeka (OPM).

“Kami juga dapat informasi kalau gunung yang disebut sebagai asal penembakan dari kelompok OPM sangat jauh, sekitar 7 kilometer. Jadi tidak masuk akal. Kalau markas Koramil Paniai Timur berada sekitar 30 meter dari lapangan tempat empat warga sipil ditembak,” kata Otto, dikutip dari suarapapua.com.| SUMBER: TABLOIDJUBI.com

Tinggalkan Balasan