Tim Ekspedisi NKRI sub korwil V Bintuni.

BINTUNI, CAHAYAPAPUA.com– Kegiatan ekspedisi NKRI di Kabupaten Teluk Bintuni selain mendapat dukungan dari pemerintah daerah juga dari masyarakat adat. Hal ini diungkapkan koordinator tujuh suku Teluk Bintuni, Abraham Wekaburi saat dikonfirmasi belum lama ini.

Menurutnya pihaknya mendukung kegiatan ekspedisi NKRI yang berlangsung kurang lebih selama empat bulan.“Jadi pada prinsipnya saya sebagai koordinator tujuh suku mendukung mereka (tim ekspedisi NKRI, red.). Mudah-mudahan mereka punya program berhasil untuk membantu masyarakat yang ada di kawasan tujuh suku ini,” ujarnya.

Dukungan tersebut tidak terlepas dari tujuan tim ekspedisi yang nilai baik, yaitu melakukan pendataan untuk membantu program pemerintah. Namun untuk melaksanakan penjelajahan di kawasan Teluk Bintuni, menurutnya tim ekspedisi harus didampingi oleh masyarakat adat yang mengetahui persis kondisi alam yang ada.“Karena alam dari setiap wilayah adat sedikit berbeda, ada yang berawa, gunung dan pesisir tapi jangkauannya yang sedikit susah. Sehingga harus ada kerjasama dengan masyarakat tujuh suku,” ujarnya.

Diakui sejak awal tim ekspedisi NKRI telah menjalin kerjasama dengan koordinator tujuh suku. Menurutnya kehadiran tim ekspedisi di Teluk Bintuni terbilang terlambat, karena sebagian besar kawasan hutan telah dirusak oleh perusahaan dianggap tidak bertanggung jawab.“Alam ini sudah rusak, tetapi mudahan dengan ekspedisi ini bisa membantu agar yang telah rusak dapat segera diperbaiki,” harapnya.

Abraham menjelaskan bahwa dalam melakukan penjelajahan di hutan, tim ekspedisi hendaknya mematuhi aturan adat, karena ada wilayah hutan yang memiliki aturan adat tertentu sehingga tidak boleh langgar.“Sehingga mereka tidak bisa jalan sendiri dan harus bersama masyarakat adat yang ada di wilayah itu, supaya berhasil dalam programnya. Karena di Bintuni ini daerah misterius, sehingga daerah misterius itu harus dijaga,” terangnya.

Dalam melakukan penjelajahan ditegaskan bahwa peserta tim dilarang mengambil satwa liar yang dilindungi. Selain dilindungi undang-undang, satwa liar juga harus dijaga dengan baik.“Kalau satwa liar aturan sudah ditetapkan, sehingga harus dijaga dan bukan mengambil, kalau mengambil kan berarti sudah salah. Nanti alam yang tidak terima,” tandasnya.

Diakui di wilayah kawasan hutan Teluk Bintuni terdapat sejumlah tempat yang terbilang keramat, sehingga harus dijaga dengan baik. Pihaknya selaku tokoh adat menegaskan akan membantu dan berkoordinasi dengan tim ekspedisi dalam melaksanakan tugasnya. (MRT)