Korban gempa bumi Kota Sorong dirawat di halaman rumah sakit Kota Sorong Sele be Solu, Jumat (25/9). Gempa berkekuatan 6,8 SR menguncang daerah tersebut dinihari kemarin.

Korban Gempa Sorong Dirawat Di Halaman Rumah Sakit

SORONG, CAHAYAPAPUA.com– Puluhan pasien korban gempa tektonik yang menguncang Kota Sorong, Papua Barat, dirawat di halaman rumah sakit Kota Sorong Sele be Solu menyusul kekuatiran petugas terhadap kekuatan bangunan rumah sakit tersebut.

Kota Sorong diguncang gempa tektonik berkekuatan 6,8 skala richter, tepatnya pada Jumat dinihari (25/9), sekitar pukul 00.53 WIT. Sedikitnya puluhan orang dilaporkan menjadi korban sementara 200 bangunan diantaranya dilaporkan rusak.

RS Sele be Solu merawat sedikitnya 4 pasien luka berat dan 34 pasien rawat jalan pasca gempa. Pasien dirawat di halaman rumah sakit.
Kepala Ruangan Kelas VIP RSUD Sele be Solu, Maria, mengatakan, para pasien di rawat di halaman RS karena pihaknya kuatir dengan gempa susulan. “Ruangan semua ini mau roboh makanya kita kasih keluar pasien dari ruangan,” tutur Maria di rumah sakit tersebut, Jumat siang.

Sejumlah pasien menyatakan, mereka tertimpa reruntuhan bangunan karena gempa terjadi tengah malam saat mereka sedang tidur. Beberapa diantaranya diperiksa karena terganggu secara psikis.

Yakobus misalnya, ia mengatakan, dirinya tertimpa batu tela serta serpihan kaca beberapa saat setelah gempa. “Saat gempa saya lagi tidur jadi saya kaget karena pas gempa langsung mati lampu, jadi batu tela roboh kena kepala saya. Kalau ditangan ini kena kaca,” tutur Yakobus kepada Cahaya Papua.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Sorong dan BPBD Raja Ampat mencatat gempa bumi tersebut menyebabkan 17 orang luka berat, 45 orang luka ringan, dan 200 rumah rusak. Pantauan lapangan menunjukan, kurang lebih ratusan rumah warga rusak. Beberapa ruas jalan raya juga retak. Kepala BPBD Papua Barat Derek Ampnir, mengatakan, korban luka sebanyak 39 jiwa sementara bangunan yang rusak mencapai 257 unit.

Juru Bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Sutopo Purwo Nugroho, siang kemarin, mengatakan, pasca gempa pihaknya langsung berupaya cepat merawat para korban dan mendirikan sejumlah posko darurat.

Menurut dia, saat ini seluruh korban luka mendapat perawatan di Rumah Sakit Sele be Solu. BPBD mengalami kesulitan karena tak memiliki tenda yang mampu menampung seluruh pengungsi. Saat ini, BPBD masih mendata korban dan jumlah kerusakan yang mungkin masih bertambah.

Sementara itu para korban gempa yang rumahnya rusak berharap adanya bantuan pemerintah agar rumah mereka dapat diperbaiki. Hamidah, salah satu warga Pondok Indah, Kelurahan Malaisimsa, misalnya. Ia merasa sedih lantaran rumah kesayangannya hancur akibat gempa. Ia berharap batuan pemerintah untuk perbaikan rumahnya.

Hal senada disampaikan Yance, menurutnya Pemerintah Kota Sorong, melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana Daerah (BNPBD) Kota Sorong harus mendata rumah warga yang rusak akibat gempa.

Gempa terjadi pada pukul 00.53 WIT dengan pusat berada di laut dengan kedalaman 10 kilometer. Episentrum gempa berada di 31 kilometer timur laut Kota Sorong atau 68 kilometer timur laut Raja Ampat, Papua Barat. Intensitas gempa dirasakan pada skala IV-V Modified Mercalli Intensity di Kota Sorong, skala III-IV MMI di Raja Ampat dan Maybrat, serta II-III MMI di Manokwari.

Kemarin, BMKG masih mencatat terjadinya gempa susulan dengan kekuatan 4,3 SR pada pukul 02.34 WIT, yang disusul berkekuatan 4,1 SR, 4,3 SR, dan 4,4 SR. Intensitas guncangan gempa terasa lemah pada level II-III MMI di Kota Sorong. Gempa tersebut tidak menimbulkan tsunami.

Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kota Sorong, Yakob Rumbiak, secara terpisah menerangkan, setelah gempa utama, terjadi gempa susulan kurang lebih 271 kali.

Ia mengatakan gempa tersebut merupakan gempa terbesar, dibandingkan dengan gempa pada tahun 2009 yang berpusat di Kabupaten Manokwari. “Beberapa waktu lalu ada juga gempa di Kabupaten Maybrat tapi skalanya kecil,” ujarnya. | NASIR