Petugas Satpol PP mengangkat bukti minuman keras dari sebuah toko yang terjaring razia di Kota Sorong, Papua Barat, kemarin. Pemerintah Kota Sorong mulai 1 April kemarin telah menetapkan berlakunya Perda Larangan Penjualan Minuman Keras di tempat umum.

Kota Sorong Musnahkan Ribuan Liter Minuman Keras

SORONG, Cahayapapua.com—- Ribuan liter minuman keras (Miras) hasil razia polisi, Jumat (1/4/2016) siang, dimusnahkan di halaman Polres Sorong Kota menyusul berlakunya Peraturan Daerah (Perda) Kota Sorong tahun 2015, tentang larangan menjual minuman keras di daerah tersebut.

Kapolres Sorong Kota, AKBP. Karimudin Ritonga mengatakan pihaknya akan terus melakukan pengawasan penjualan Miras dan apabila kedapatan ada warga yang menjual secara diam-diam pelakunya akan ditindak.

“Kita akan terus melakukan pengawasan dan kalau kedapatan, yah kita tindak sesuai dengan peraturan daerah,” ujar Karimudin kepada wartawan usai acara pemusnahan.

Ribuan liter Miras tersebut merupakan hasil razia dari sejumlah tempat di Kota Sorong oleh kepolisian pelabuhan laut dan Satuan Reserse Narkotika dan Obat-obatan (SatNarkoba) Polres Sorong Kota selama lebih tiga bulan terakhir.

Walikota Sorong, Ec. Lambert Jitmau mengatakan, dirinya sangat mendukung keberadaan Perda Miras di Kota Sorong yang mulai berlaku efektif kemarin, dan berjanji akan terus memantau penegakkan Perda tersebut. “Jika ada warga yang masih menjual Miras, kami akan tindak tegas,” Lambert berjanji.

Lambert menghimbau masyarakat untuk terus memantau adanya penjualan Miras maupun yang mengkonsumsinya untuk dilaporkan pihak keamanan.

“RT/RW, kelurahan sampai distrik apabila melihat masih ada yang jual minuman keras, ataupun mengkonsuminya harap langsung lapor ke polisi untuk ditindak tegas,” ujar Lambert.

Seperti diketahui bersama, dalam kutipan Peraturan Daerah (Perda) Kota Sorong, Nomor 3 Tahun 2015, tentang Pengendalian dan Pengawasan Penjualan Minuman Beralkohol mengatakan, minuman beralkohol hanya dapat dijual langsung untuk diminum ditempat-tempat seperti hotel, restoran, pub, diskotik, life music karaoke dan club malam.

“Sedangkan Miras dilarang dijual di warung dan kios, gelanggang olah raga, remaja kantin, rumah bilyard, panti pijat bumi perkemahan dan wisma yang berdekatan dengan tempat ibadah, juga di sekolah dan rumah sakit serta kawasan pemukiman,” kata Lambert.

Sementara itu dalam razia di Kota Sorong ke beberapa distributor dan toko miras di Kota Sorong kemarin, Lambert Jitmau merasa ditipu pengusaha miras.

Seorang penjual miras yang berlokasi di Jalan Pasar Bersama, tepatnya depan Gedung Olah Raga (GOR) yang mengaku sudah tidak memiliki miras ternyata berbohong.

Kronologinya waktu itu Lambert bersama petugas bertanya-tanya kepada sang pengusaha. Dalam perbincangan itu, sang pengusaha mengaku sudah tidak memiliki miras di gudang.

Tapi Lambert yang merasa curiga dengan pintu ruangan yang ditutup rapat meminta agar pintu dibuka. Tidak terima pengusaha itu terlibat debat dengan walikota. Ujungnya walikota memaksa agar pintu dibuka dan akhirnya terbongkar bahwa pengusaha itu masih menyimpan ratusan liter miras. Miras berbagai merk tersebut tersusun rapi didalam karton.

Lambert mengatakan perbuatan menipu oleh pengusaha ini tidak patut dicontoh, karena merugikan generasi muda. “Dia (pengusaha) secara langsung menipu walikota dan masyarakatnya,” tutur Lambert. Miras tersebut akhirnya disita untuk dimusnahkan. (NSR)

 

Tinggalkan Balasan