Ketua KPAI Arist Merdeka Sirait saat berada di Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat.

KPAI dari Bintuni: Pemicu Utama Kekerasan Anak Adalah Miras

BINTUNI, CAHAYAPAPUA.com – Ketua Komnas Perlindungan Anak Indonesia, Arist Merdeka Sirait saat berkunjung ke Bintuni menegaskan bahwa saat ini Indonesia sudah dinyatakan darurat kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Dikatakan dari 21,6 juta kasus pelanggaran hak anak di Indonesia, 58% diantaranya adalah kejahatan seksual. Sementara untuk di Papua, jumlah kekerasan terhadap anak menempati urutan ketujuh setelah Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB).

“Dari 21,6 juta pelanggaran, 58% adalah kejahatan seksual. Sehingga tidak berlebihan sejak tahun 2013 Indonesia darurat kejahatan seksual, jauh sebelum ada satu deklarasi Indonesia daurat narkoba dan pornografi.

Dari 34 provinsi yang dikumpulkan dan 179 perwakilan yang tersebar di lembaga perlindungan anak, Papua memasuki urutan ketujuh, setelah NTT, NTB dan Papua. Dan dibawah itu Medan. Apakah itu karakter, itu yang sedang dianalisis,” jelasnya.

Salah satu faktor utama pemicu terjadinya tindak kekerasan terhadap anak adalah miras. Oleh karena itu ia menghimbau ada aturan pengendalian tentang miras, bahkan jika diperlukan adalah stop sama sekali terhadap peredaran miras.

“Bagi saya dari perspekstf perlindungan anak dan perempuan, saya kira bukan hanya pengendalian tapi stop miras,” tegas Sirait.
Faktor lain yang menyebabkan tingginya angka kekerasan terhadap perempuan dan anak, menurutnya adalah mudah akses tayangan pornografi maupun pornoaksi.

Bahkan tayangan ini mudah diakses oleh anak-anak. Meskipun demikian pengaruh miras masih cukup dominan.“Ini menunjukan bahwa masyarakat secara psikologis sedang sakit sehingga pelampiasan ke miras, ketika miras tersedia. Apa yang terjadi disini adalah antisipasi bahwa kekerasan terjadi dimana-mana bukan hanya terjadi di luar Kota Bintuni,” ujarnya.

Terkait dengan kasus pembantaian di Bintuni beberapa waktu lalu, dimana dua korban diantaranya adalah anak-anak, Sirait menegaskan bahwa kasus tersebut bukan lagi hanya kekerasan fisik tapi sudah masuk tindak pidana yang sangat luar biasa.

“Harapan saya datang kesini untuk memberikan kesadaran dan kampanye untuk berhenti melakukan kekerasan, berhenti konsumsi miras dan berhenti melakukan tindakan yang tidak sesuai kaidah keagamanan yaitu kekerasan,” tegasnya.Ia berharap kedepn Teluk Bintuni benar-benar terbebas dari tindakan kekerasan terhadap ibu dan anak. |ARI MURTI