Solidartas Kemanusiaan dan Keadilan

KPAI Sebut Tersangka Pembunuh Frelly Terancam Pasal Pembunuhan Berencana

MANOKWARI, CAHAYAPAPUA.com— Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Aris Merdeka Sirait, menyatakan, penyidikan kasus pembunuhan terhadap Frelly dan dua anaknya di Teluk Bintuni, telah dilimpahkan ke TNI.

Aris, dalam kunjungannya ke Manokwari Senin lalu, mengatakan, penyidikan di limpahkan ke TNI karena tersangka, Samuel Jitmau, adalah anggota TNI. Kasus tersebut saat ini ditangani DEN POM XVII Cenderawasih di Jayapura.

“Saya memberi apresiasi kepada pihak TNI, dan ini yang harus kita dukung. Panglima sudah merilis SJ adalah tersangka utama dalam kasus tersebut,” ucap Aris di Mapolda Papua Barat, Senin (29/9).

Aris mengungkap, sesuai klarifikasi Komnas Perlindungan Anak kepada Polda Papua Barat, tersangka juga terancam pasal 340 KUHP. “Dimungkinkan pasal 340 tentang perencanaan, jadi bisa hukuman seumur hidup dan mungkin juga bisa hukuman mati,” jelasnya.

Dirinya menjelaskan motif pembunuhan tersebut, berdasarkan keterangan psikolog serta beberapa bukti foto dan luka yang terdapat di tubuh para korban, diduga tersangka menaruh dendam terhadap korban. Namun menurut Aris, motif tersebut masih harus dibuktikan.

Dari hasil tersebut juga disimpulkan kalau tersangka mengenal korban, juga sebaliknya. Aris menambahkan dalam kasus ini juga terdapat beberapa bukti-bukti keterangan dari para saksi mata serta barang-barang milik korban dan tersangka.

Aris menyatakan berdasarkan keterangan yang diterimanya ada satu saksi kunci yang melihat tersangka membersihkan parangnya di sebuah kali yang tak jauh dari rumah korban. “Jadi golok tersebut dia bawa dari luar bukan dari rumah korban, dan itu kemungkinan ada dendam,” tutur Aris.

Selain itu pelaku juga membawa peralatan elektronik dari korban berupa Ipad (tablet) serta ponsel milik korban yang saat ini masih terus dalam pengembangan.
Kasus tersebut menurutnya harus terus dikawal, mengingat tersangka merupakan oknum anggota TNI yang melakukan tindak pidana kepada masyarakat sipil.

Aris menyatakan Komnas Perlindungan Anak mengawal kasus tersebut di peradilan militer hingga putusan peradilan dikeluarkan.
Frelly Dian Sari (26 tahun), bersama dua anaknya, Cicilia Putri Natalia (6 tahun) dan Andhika (2 tahun) ditemukan tak bernyawa dalam kondisi mengenaskan akhir Agustus lalu di rumah mereka, di Teluk Bintuni.|ADITH SETYAWAN