Kesadaran wajib pajak lima daerah di wilayah kerja kantor Pajak Pratama meliputi Manokwari, Manokwari Selatan, Pegunungan Arfak, Teluk Bintuni dan Teluk Wondama dinilai masih rendah. Foto: Beritamoneter

KPP Manokwari: Kesadaran Wajib Pajak Masih Rendah

MANOKWARI, CAHAYAPAPUA.com-Kepala Kantor Pajak Pratama (KPP) Manokwari Vincentius Sukamto menyatakan, kesadaran wajib pajak di lima daerah wilayah kerjanya masih rendah.

Lima wilayah kerja KPP Manokwari tersebut meliputi  Kabupaten Manokwari, Manokwari Selatan, Pegunungan Arfak, Teluk Bintuni dan Teluk Wondama.

Ia mengungkapkan, dari 90 ribu wajib pajak dari lima kabupaten tersebut, pada tahun 2015 hanya 5 ribu yang memenuhi kewajibanya membayar pajak. Penerimaan pajak di KPP Manokwari pada tahun 2015 hanya mencapai Rp. 1,1 triliun.

Vincentius menjelaskan, dari 5 ribu pembayar pajak tahun 2015 tersebut di dominasi oleh kalangan karyawan swasta dan pegawai pemerintahan.

Sementara terkait besaran nilai pajak, ia mengutarakan, penerimaan pajak terbesar berasal dari Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Pajak ini bersumber dari Instansi pemerintahan, perdagangan serta jasa konstruksi.

Sektor pertambangan pun, katanya, menyumbang cukup besar pajak di daerah tersebut. Pajak pertambangan yang selama ini masih menjadi andalan adalah berasal dari pertambangan LNG Tangguh yang beroperasi di Kabupaten Teluk Bintuni.

“Sektor pengolahan pun mulai merangkak. Pendorong utama penerimaan pajak disektor pengolahan adalah keberaan Pabrik Semen Maruni, Manokwari milik PT. SDIC Papua Cement Indonesia,” ujarnya lagi.

Dia merinci, pajak pertambangan dari LNG Tangguh Bintuni menyumbang sekitar 5 persen penerimaan pajak di Manokwari. Begitu pun Industri pengolahan dan perdagangan, sisanya berasal dari subsektor perhotelan, tempat hiburan, reklame dan sumber pajak lainya.

Vincentius berharap kebijakan tax amnesti atau pengampunan pajak yang diberikan pemerintah bisa memacu penerimaan pajak di daerah tersebut. Ia ingin sektor ekonomi di lima kabupaten tersebut terus tumbuh.

“Di daerah lain, sektor perdagangan sudah mencapai hampir 30 persen, kita disini baru 5 persen. Sangat jauh selisihnya,” pungkasnya.(IBN)

Tinggalkan Balasan