Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise foto bersama dengan Gubernur Papua Barat Abraham O Atururi setelah menginjakkan kaki di tanah kelahirannya, Manokwari, Papua Barat, Selasa (11/11/2014)

Kunci Pembebasan Diri Yohana Yembise

MANOKWARI, CAHAYAPAPUA.com

Ia memiliki sederet prestasi sejak muda hingga diangkat sebagai menteri. Apakah kunci dalam proses “menjadi” seorang Yohana Susana Yembise?

Yohana Susana Yembise, menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak tak kuasa menahan haru saat kembali menginjakkan kakinya, Selasa (11/11/2014) lalu di Manokwari.

Perempuan pertama Papua yang bergelar profesor dan menjadi menteri ini sempat menitikkan air mata, saat disambut warga secara adat di Tanah Kelahirannya.

Tiba di Bandara Rendani, Manokwari, sekitar pukul 08.00 pagi, Yohana yang pulang kampung langsung disambut dengan tarian adat oleh warga dari suku Byak. Ia pun diberi gelar Inseren Mbo atau perempuan yang dimuliakan. Prosesi inilah yang membuat Yohana meneteskan air mata.

Dalam Rombongan Yohana ada juga Sekretaris Menteri P3A, Sri Danti serta deputi bidang perlindungan perempuan Mudjiati bersama sejumlah staf kementerian. Wakil Gubernur Papua Barat, Rahimin Katjong, Bupati Manokwari Bastian Salabai, Wakil Bupati Manokwari Roberth KR. Hammar serta Gubernur Papua Barat, Abraham O. Atururi.

Agenda Yohana selama 2 hari di Manokwari adalah membuka Musyawarah Daerah Persatuan Wanita Kristen Indonesia (PWKI) ke-8, tatap muka dengan komponen perempuan dan anak tingkat provinsi dan kabupaten Manokwari serta blusukan ke Distrik Warmare.

Yohana mengungkap bawah Presiden Joko Widodo (Jokowi) memiliki pertimbangan khusus memilihnya masuk dalam kabinet. “Ini beban yang berat. Karena saya diberi tugas khusus oleh bapak Presiden untuk mengangkat harkat dan martabat kaum perempuan Papua,” ungkapnya saat membuka Musda PWKI.

“Makanya kunjungan saya ke tanah Papua yang dimulai dari Biak kemudian ke Nabire dan sekarang ke Manokwari adalah untuk melakukan pemetaan dan survei lapangan untuk mengetahui apa-apa saja yang harus kami buat untuk bisa mengangkat kaum perempuan dan anak-anak di Papua,” ujarnya.

Presiden Joko Widodo menunjuk Yohana Susana Yembise sebagai Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dalam Kabinet Kerja 2014-2019 di Istana Merdeka Jakarta, Minggu (26/10/2014) petang. Ia menggantikan Linda Amalia Sari pada Kabinet Indonesia Bersatu II era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono 2009-2014. Sebelumnya Nama Yohana memang santer disebut-sebut akan duduk dalam jabatan itu.

Siapakah Yohana? Ia merupakan dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Cenderawasih Jayapura, Papua. Dia adalah perempuan pertama Papua yang diberi gelar guru besar oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan sebagai profesor doktor bidang desain silabus dan material development.

Istri dari Leo Danuwira ini lahir pada 1 Oktober 1958. Yohana dikukuhkan menjadi profesor doktor oleh Rektor Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura, Papua, Festus Simbiak, di Auditorium Uncen, 14 November 2012. Sebelum Yohana didaulat menjadi profesor, dia memiliki segudang pengalaman dan jabatan dalam pekerjaan.

Karirnya memang cemerlang. Tahun 1992 ia menjadi Diplomat Applied Linguistic TEFL (Dip TEFL) dari Regional English Language Centre (RELC), SEAMEO Singapore. Meski sudah bekerja, ia tetap bertekad untuk melanjutkan pendidikan. Pada 1994 ia menyelesaikan pendidikan di Faculty of Education, Simom Fraser University British Colombia Canada, dengan gelar Master of Art (MA).

Berbagai pengalaman semasa sekolah hingga menjajaki dunia kerja baik dalam negeri maupun luar negeri sudah dialami Yohana. Di antaranya, pernah sebagai anggota Joint Selection Team (JST) Australian Development Scholarship beasiswa ADS/USAID tahun 2011.

Saat muda, Yohana juga adalah aktivis Komite Nasional Pemuda Indonesia. Yohana muda juga pernah mengikuti pertukaran pemuda antara Indonesia dan Kanada.

Gubernur Papua Barat Abraham Oktavianus Atururi  berharap kesuksesan Yohana Yembise menjadi menteri menjadi motivasi dan inspirasi perempuan Papua.

Bram mengatakan, Yohana sudah membuktikan bahwa kedudukan perempuan Indonesia saat ini telah diakui dan memiliki status yang tinggi di banding perempuan Asia Timur dan Selatan. Ia adalah contoh, inspirasi dan teladan bagi perempuan Papua yang sedang berupaya mengejar ketertinggalannya.

“Perempuan jangan hanya sibuk menangani urusan domestik, tetapi juga terlibat secara aktif dalam banyak aspek kehidupan bermasyarakat, seperti pendidikan, perdagangan, atau urusan ekternal lainnya,” kata Bram.

Jika menelisik rekam jejak Yohana, mudah disimpulkan bahwa kunci pembebasan dirinya sebagai perempuan adalah pendidikan, ia tak pernah membedakan apakah proses menjadi itu harus dilalui secara formal atau lewat pendidikan non formal.

Pendidikan sebagai medium pembebasan, sebagaimana disampaikan tokoh pendidik, Paulo Freire pun telah menemukan wujudnya. Kata-kata itu terpatri secara nyata pada sosok Yohana, perempuan Papua yang berhasil keluar dan melepaskan diri dari konstruksi sosial yang belum sepenuhnya berpihak pada perempuan.|PATRIX BARUMBUN TANDIRERUNG

Tinggalkan Balasan