Dampak Banjir merusak tanaman perkebunan warga Muari beberapa bulan lalu. (Doc. Cahayapapua.com)
Dampak Banjir merusak tanaman perkebunan warga Muari beberapa bulan lalu. (Doc. Cahayapapua.com)

Lahan Pertanian Manokwari Rentan Dihantam Bencana

MANOKWARI, Cahayapapua.com— Lahan Pertanian di Kabupaten Manokwari masih rentan dihantam bencana. Setidaknya hal itu terekam dalam sejumlah peristiwa pada tahun 2016.

Bencana tersebut seperti amblesnya ribuan meter lahan sawah padi di wilayah Distrik Sidey yang disebabkan banjir beberapa waktu silam. Dan sekitar 16 hektare lahan sawah di Distrik Masni hanyut dan berubah menjadi sungai.

Kepala Dinas Pertanian Perkebunan dan Peternakan Manokwari Kukuh Saptoyudho, mengatakan, sawah yang ambles di daerah tersebut sepanjang 400 meter dengan lebar sekitar 30 meter.

“Sudah kami tangani dengan mengalihkan jalur sungai agar tidak melongsorkan lahan sawah lainnya. Meski demikian, kami tidak bisa mengembalikan sawah yang sudah ambles tersebut ke kondisi semula,” kata dia.

Dia menyebutkan, sejumlah bencana pertanian terjadi di tiga distrik yang menjadi pusat pertanian padi di Manokwari tersebut. Ia berharap hal ini tidak  akan berdampak serius bagi produksi pertanian di daerah ini.

“Kami tidak tahu dan tidak bisa menyimpulkan apakah ini terjadi sebagai dampak fenomena alam lanina atau bukan, karena kami tidak melakukan penelitian tentang iklim. Kami hanya mendata tentang kerusakan sawah dan irigasi yang terjadi,” katanya lagi.

Selain sawah ambles, sejumlah bencana pertanian terjadi di Manokwari selama tahun 2016 antara lain lahan pertanian padi di Distrik Prafi 105 hektare yang diserang wereng coklat.

Pada awal-awal tahun 2016, kata Kukuh, Bendungan di wilayah Distrik Prafi pun rusak akibat banjir. Pengairan 280 hektare sawah di wilayah terganggu akibat kerusakan tersebut. Karena kekurangan air, lahan yang semestinya dialokasikan untuk menanam padi tersebut dimanfaatkan untuk menanam kedelai.

“Kejadian seperti ini belum pernah kita alami sebelumnya. Mudah-mudahan bencana ini cukup terjadi tahun ini agar para petani tenang dan bisa panen secara optimal,”katanya pula.

Kepala Stasiuan Badan Meteorolgi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Denny Putiray pada wawancara sebelumnya mengatakan, Manokwari tahun ini cukup mengalami dampak atas fenomena alam lanina. Hal ini terbukti dari tingginya curah hujan yang terjadi sejak Januari hingga Oktober 2016.

Sesuai catatan BMKG, curah hujan yang terjadi di Manokwari sejak awal tahun rata-rata diatas normal, dengan curah hujan diatas 400 mili liter. Saat ini, dampak lanina masih terasa meskipun sudah berkurang dibanding beberapa bulan terakhir.

“Bulan ini sudah mulai masuk musim penghujan, dan kalau kita lihat curah hujan agak berkurang. Mudah-mudah dampak lanina terus berkurang sehingga tidak sampai terjadi bencana banjir,” kata dia. (IBN)

Tinggalkan Balasan