Deputi BNPB Wisnu Widjaja (kanan) bersama Kepala Pelaksana BPBD Manokwari Raymon Yap meninjau kondisi Kali Merah di Distrik Masni, Manokwari Jumat Petang, (12/12/2014) Foto: CAHAYAPAPUA.com | Zack Tonu Bala

Langganan Banjir, Kesiapsiagaan Warga Kali Merah Manokwari Ditingkatkan

MANOKWARI,CAHAYAPAPUA.com- Salah satu lokasi rawan banjir di Kabupaten Manokwari adalah Kampung Kali Merah distrik Masni. Hampir setiap tahun wilayah ini terendam banjir luapan Kali Merah yang merupakan anak dari Kali Prafi.

Aliran kali yang sering berpindah-pindah juga struktur kali yang landai dan berkelok-kelok menjadikan Kali Merah sangat mudah meluap yang kemudian menggenangi pemukiman serta kebun milik wargasetempat.

“Di sini ada 12 tikungan (kali) jadi kalau ada banjir, air langsung lari lurus dan menuju ke kampung. Jadi kami masyarakat di sini minta supaya kali ini dikasih lurus supaya air tidak lari ke kampung lagi tapi langsung lurus terus, “ kata Abraham Kalimerah, tokoh masyarakat Kali Merah di sela-sela peninjauan oleh tim dari BNPB, Jumat pekan lalu.

Jumat (12/12) petang, Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB Wisnu Widjaja didampingi Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Papua Barat Derek Ampnir bersama Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Manokwari Raymon Yap meninjau sejumlah titik rawan banjir di Kali Merah.

Meski sepakat dengan pola normalisasi kali, namun Pemkab Manokwari dalam jangka pendek lebih berfokus pada memperkuat kesiapsiagaan masyarakat Kali Merah. Normalisasi misalnya dengan memasang tanggul di pinggir kali, selain membutuhkan anggaran yang besar juga butuh waktu yang cukup lama.

“Sesuai arahan dari bapak deputi, kita perkuat kesiapsiagaan masyarakat dulu. Mereka kita latih bagaimana supaya bisa beradaptasi dengan situasi rawan banjir ini. Kalau normalisasi itu program jangka panjang, “ kata Ray, panggilan karib Raymon Yap.

Setelah meninjau langsung, Wisnu Widjaja mengakui kondisi di Kali Merah yang terletak di bantaran kali rentan terhadap bencana banjir akibat meluapnya Kali Merah. Meskipun begitu, menurut dia, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk menentukan tindakan seperti apa yang tepat untuk bisa mengatasi ancaman bencana banjir yang terjadi di wilayah itu.

“Karena hanya dengan berkunjung sesaat itu kan tidak bisa kita membuat keputusan seperti apa, harus dilihat secara menyeluruh. Itu sungai yang berpindah-pindah dan dataran rendah sehingga kalau terjadi hujan lebat bisa meluap, “ ujar Wisnu.

Dia menambahkan, fokus utama BNPB kini bukan lagi pada respon tapi pencegahan dan mitigasi. Karena itu, yang terpenting adalah mengetahui ancaman seperti apa yang akan terjadi pada wilayah yang sudah ditetapkan sebagai daerah rawan bencana.

“Kita lebih ke pengurangan resiko bencana (PRB). Pencegahan itu lebih penting daripada hanya respon. Kalau respon kita terlambat terus, kerugiannya akan besar terus, “pungkas Wisnu.

Seperti telah diberitakan, Pemprov Papua Barat bahkan sejak awal November telah menetapkan status siaga darurat banjir dan tanah longsor. |ZACK TONU BALA

 

EDITOR: BUSTAM

Tinggalkan Balasan