Bupati Teluk Bintuni, Ir. Petrus Kasihiw, MT

BINTUNI, Cahayapapua.com— Sampai saat ini belum tercapai kesepakatan terkait lokasi rencana tempat pembangaunan Pembangkit Listrik Tenaga Mesin dan Gas (PLTMG) antara Pemkab Teluk Bintuni dengan PT. PLN.

Bupati Teluk Bintuni, Petrus Kasihiw, Senin (27/11) mengatakan, pada saat perjalanan dinas ke Jakarta, dia menyempatkan bertemu dan berkoordinasi langsung dengan pimpinan PLN pusat. Agenda yang dibahas terkait kondisi listrik yang belum normal dan masalah lokasi PLMG 10 mega watt yang merupakan program Papua Terang.

“PLTMG yang merupakan program Papua terang sebenarnya sudah mau dibangun di tahun 2018, cuma kita ini masih persoalkan lokasi,” buka Bupati Kasihiw kepada wartawan.

Menurut dia, hasil koordinasi dengan PLN, lokasi di Kampung Lama dianggap tidak memenuhi standar, karena setelah dilakukan beberapa kali survei ternyata  lokasi tersebut tidak memenuhi standar kedalaman bagi kapal pengangkut gas yang akan menyuplai bahan bakar PLMG.

Kasihiw mengatakan pihaknya akan mengusulkan lokasi  baru di Muara Bintuni dengan harapan kapal bisa masuk dan tidak terhambat, sehingga PLMG tetap berada di wilayah ibukota kabupaten.

Saat ditanya jawaban PLN soal keinginan Pemda dan masyarakat agar PLMG tetap dibangun di wilayah Bintuni, Kasihiw mengatakan, PLN masih akan mempertimbangkan karena ada pertimbangan dari sisi bisnis, meskipun tidak sepenuhnya berbisnis.  PLN juga berharap agar segera ada kepastian lokasi.

“Ini akan kita diskusikan lagi tetang lokasi apakah di Muara Bintuni apakah di Onar, mudah -mudahan kalau persoalan lokasi sudah selesai, mereka akan segera membangun,” ucapnya.

Bupati menyatakan ada alasan mendasar mengapa Pemda menginginkan lokasi PLTMG tetap berada di wilayah ibukota kabupaten, karena program ini merupakan program pemerintah pusat untuk masyarakat. Selain kekuatiran mengenai gangguan kabel yang kerap terjadi, jika dipaksakan dibangun di Onar, Distrik Sumuri sangat berdekatan dengan lokasi LNG Tangguh.

“Bangunnya jangan seperti ini lagi, nanti kalau ada soal, saya dengar rayap bisa makan kabel itu, semoga yang 4 mega watt itu untuk sebelah (wilayah Distrik Sumuri dan sekitarnya), kaitan dengan 10 mega watt itu tetap dibangun di Bintuni,” harap Kasihiw. (ART)

Leave a Reply