Ilustrasi. Foto : Ist

Manokwari Belum Ramah terhadap Perempuan

MANOKWARI,CAHAYAPAPUA.com-Kesenjangan perlakuan antara kaum perempuan dan laki-laki di Kabupaten Manokwari ternyata masih cukup tinggi hampir di semua aspek. Banyak fasilitas publik di Manokwari ternyata belum ramah terhadap kaum perempuan.

Ruang menyusui misalnya, meski sudah diatur dalam aturan, baik di tempat kerja maupun di tempat pelayanan umum di Manokwari sampai saat ini belum tersedia sama sekali. Di bidang pendidikan, banyak sekolah tidak menyediakan toilet khusus wanita namun digabung. Akibatnya banyak murid perempuan merasa tidak aman saat memakai toilet.

Kondisi serupa juga jamak ditemukan di banyak fasilitas umum lainnya. Akses perempuan terhadap beberapa fasilitas penunjang juga masih terbatas. Sebut saja tempat pembuangan sampah (TPS) yang jauh dari lokasi pemukiman warga, termasuk air bersih. Di kota Manokwari hanya ada 2 TPS yakni di pasar Sanggeng dan pasar Wosi.

Pun demikian dengan pelayanan transportasi umum. Sampai saat ini, sebagian besar kelompok masyarakat yang tidak tinggal di jalan utama kota, tidak bisa menggunakan jasa angkutan umum atau angkutan kota.

Para ibu lah yang paling merasakan dampak dari minimnya pelayanan tansportasi umum itu. Sebab, hampir setiap hari mengantar dan menjemput anak mereka di sekolah. Sebagian ibu terpaksa berjalan kaki atau memakai jasa ojek dengan biaya lebih mahal.

Kaum perempuan dan anak juga adalah kelompok yang paling rentan menjadi korban kurang memadainya pelayanan keamanan dan ketertiban. Perempuan paling banyak menjadi korban pencopetan dan sasaran kekerasan dari pelaku yang dalam pengaruh minuman beralkohol.

Semua kesenjangan tersebut dipaparkan pada kegiatan diseminasi laporan akhir profil gender Kabupaten Manokwari yang dilaksanakan AIPD (Australia-Indonesia Partnership for Desentralization) bekerjasama dengan Pemkab Manokwari, Kamis (4/12/2014) di Swiss-belhotel Manokwari.

Profil gender Kabupaten Manokwari itu merupakan hasil penelitian oleh tim khusus yang dipimpin Afia E.P.Tahoba, dari Unipa Manokwari.

Salah satu poin yang direkomendasikan untuk mengatasi isu kesenjangan gender yang tinggi di Manokwari adalah percepatan pembentukan Pokja PUG (pengarusutamaan Gender).

“Selanjutnya Pokja PUG dapat merumuskan prioritas PUG dalam RPJMD dan mengembangkan perencanaan dan penganggaran yang tanggap gender dalam rencana aksi daerah (RAD),”kata Afia dalam paparannya.

Kegiatan ini dibuka oleh Plt Kepala Dinas Pertanian Perkebunan dan Peternakan (P3) Kabupaten Manokwari Kukuh Saptoyudo mewakili Bupati Bastian Salabai. Acara ini diikuti oleh utusan dari SKPD di lingkup Pemkab Manokwari, organisasi perempuan dan penggiat gender di Manokwari.

Dalam sambutan tertulis, Bupati berharap profil gender yang dihasilkan lewat penelitian ilmiah itu bisa menjadi acuan dalam perencanaan dan penyusunan kebijakan daerah yang lebih responsive gender. |ZACK TONU BALA

 

EDITOR: BUSTAM

Tinggalkan Balasan