Salah satu sudut perusahaan Semen Maruni di Kabupaten Manokwari. Perusahaan ini memperkerjakan cukup banyak tenaga kerja asing.

Manokwari Bisa Raup 3 Miliar Lebih Setiap Tahun dari TKA

MANOKWARI, CAHAYAPAPUA.com – Setiap tenaga kerja asing (TKA) yang bekerja di wilayah Kabupaten Manokwari wajib membayar retribusi sebesar U$ 100 Dolar perbulan atau U$ 1.200 Dolar setiap tahunnya.

Retribusi dimaksud dibayarkan dalam mata uang Rupiah berdasarkan nilai kurs yang berlaku pada saat pembayaran. Dengan kurs saat ini sebesar Rp.14 ribu untuk satu Dolar Amerika, maka perusahaan yang memperkerjakan TKA mesti menyetor Rp.1,4 juta per bulan atau sebesar Rp.16,8 juta per tahun kepada Pemkab Manokwari.

Nilai tersebut di atas merupakan besaran tarif retribusi perpanjangan Izin Mempekerjakan Tenaga Kerja Asing (IMTA) yang diatur dalam rancangan peraturan daerah (Raperda) Kabupaten Manokwari tentang Retribusi Perpanjangan IMTA.

Raperda tersebut, Rabu siang kemarin dibahas oleh tim pembahas yang terdiri atas gabungan SKPD terkait dengan tim independen yang merupakan utusan dari Kanwil Kumham Papua Barat, akademisi serta dari insan pers.

Direncanakan, Raperda dimaksud dalam waktu dekat ini akan dilimpahkan ke DPRD untuk dibahas dan selanjutnya ditetapkan menjadi Peraturan Daerah.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi N.A Nussy usai pembahasan Raperda tersebut di ruang Sasana Karya kantor bupati berharap, Raperda tentang Retribusi Perpanjangan IMTA dapat diterima dan disahkan DPRD menjadi Perda sehingga Pemkab Manokwari bisa memiliki dasar hukum untuk memungut retribusi tersebut.

Selama ini, kata Nussy, meskipun mengeluarkan perpanjangan IMTA, Pemkab Manokwari tidak mendapatkan tambahan pendatapan lantaran pemungutan retribusi dibayarkan ke pemerintah pusat.

“Nanti dengan terbitnya Perda itu maka stop setor ke pusat dan saatnya setor ke daerah. Makanya kami kejar Perda ini segera terbit karena menambah income daerah karena itu PAD yang sangat besar dengan jumlah TKA yang cukup besar di Manokwari ini, “ ucap Nussy.

Sejauh ini, TKA di Manokwari sesuai data Disnakertrans berjumlah kurang lebih 200 orang. Sebagian besar dari mereka merupakan TKA yang bekerja di PT.SPIC yakni perusahaan yang mengelolah Pabrik Semen Maruni.

“Tapi data itu belum valid karena terjadi perubahan terus setiap tahun karena di Pabrik Semen itu selalu ada pengurangan dan penambahan setiap tahun. Jadi tiap tahun harus diupdate terus, “ ujar Nussy yang mengaku PT.SPIC selalu aktif melaporkan jumlah TKA-nya.
Dengan asumsi jumlah TKA 200 orang, maka setiap tahun Kabupaten Manokwari bisa mengumpulkan PAD dari sumber Retribusi Perpanjangan IMTA mencapai Rp.3,36 miliar. Angka yang sangat fantastis. |ZACK TONU BALA