Mantan Ketua Harian KONI Papua Barat Albert Rombe (kedua dari kanan) menaiki mobil tahanan sebelum dibawa ke Lapas Manokwari,2016 lalu. (Foto : Doc. Cahayapapua)

Mantan Ketua KONI Resmi Jadi Tahanan Kejaksaan

MANOKWARI, Cahayapapua.com-— Mantan Ketua Harian KONI Papua Barat Albert Rombe, Kamis (19/5), resmi ditahan di Lapas Manokwari oleh Kejaksaan Manokwari dalam kasus dugaan korupsi dana pembangunan kantor KONI Papua Barat tahun anggaran 2012 – 2013. Albert ditahan setelah kasus tersebut diserahkan Polda Papua Barat pada hari yang sama ke pihak Kejari.

Proses penyerahan dan penahanan Albert sempat molor dari jadwal akibat padamnya listrik di Manokwari beberapa saat setelah ia diserahkan, padahal pada yang saat yang sama, bukti administrasi penyerahan dirinya belum rampung.

Penahanan Albert ke Lapas j uga molor akibat tersangka keberatan dengan keberadaan awak media yang saat itu menanti proses penyerahan dirinya di depan kantor Kejari Manokwari. Meski begitu ia akhirnya bersedia diboyong ke Lapas.

Kepala Seksi Pidana Khusus Kejari Manokwari Jhon Ilef Malasam, menyatakan, setelah diserahkan, pihaknya langsung menahan yang bersangkutan di Lapas untuk memudahkan proses hukum.

“Ini mengingat AR sebelumnya ditetapkan jadi tersangka, namun belum ditahan oleh penyidik waktu itu. (tapi) Ketika dipanggil tiga kali, ia tidak kooperatif sehingga langsung diringkus di Makassar. Nah kejaksaan tidak mau hal itu terulang lagi, ” terang Jhon kepada wartawan di kantor Kejari Manokwari.

Selain ditahan di Lapas, pada hari yang sama, pihak Kejari juga secara resmi menerima seluruh berkas dan aset tersangka, meliputi 6 ruko dan 1 gudang yang berada di berbagai tempat di Manokwari.

Mengenai berlarut-larutnya penyerahan tersangka dan aset yang disita oleh polisi hampir dua kali, ia mengatakan, itu terjadi karena aset tersangka yang telah disita polisi masih berisi sejumlah barang yang tidak termasuk dalam kasus tersebut.

“Sesuai berkas perkara menyatakan bahwa negara menyita ruko dan tanahnya, namun saat disita penyidik Polda masih terdapat isi di dalam ruko yang memiliki nilai ekonomis.

Konsekuesinya jika Kejari terima ruko beserta isinya lalu dikemudian hari terdapat kehilangan barang, yang jelas akan timbul permasalahan baru bagi kita (Kejari),” kata Jhon soal alasan dibalik tertundanya penyerahan tersangka sebanyak dua kali.

Ia juga menyatakan Kejari belum bisa memastikan waktu untuk menyidangkan kasus yang bersangkutan di Pengadilan Tipikor Manokwari tanpa penyebut alasannya. Meski begitu ia memastikan Kejari akan berupaya di persidangan untuk mengejar aset yang bersangkutan sebagai pengganti kerugian negara.

Albert Rombe ditetapkan sebagai tersangka dibawah ancaman UU Tipikor dan UU Tindak Pidana Pencucian Uang atau TPPU dengan dugaan kerugian negara Rp 26,7 Miliar.

Menurut Jhon, jika nantinya tersangka terbukti dalam jerat UU Tipikor di persidangan, ia diwajibkan mengganti uang korupsi, jika tidak yang bersangkutan akan diberi hukuman tambahan.

Dalam jerat UU TPPU jika yang bersangkutan terbukti dan tak mampu mengembalikan kerugian negara maka aset yang bersangkutan akan disita oleh negara.

 

Tersangka lain

Di tempat yang sama, ketua tim penyidikan Direktorat Kriminal Khusus Polda Papua Barat AKP. Tomy H Pontororing mengatakan, selain Albert Rombe, masih ada tersangka lain dalam kasus tersebut yakni Yanuarius Renwarin.

Berkas tahap I Yan, menurut Tomy, kemarin, juga telah diserahkan ke Kejari Manokwari. Yan merupakan Ketua Harian KONI Papua Barat tahun 2012 yang menurut Tomy memiliki peran yang sama seperti Albert Rombe dalam kasus yang sama.

“YR juga diduga melakukan tindak pidana korupsi dengan modus pembangunan kantor KONI tanpa didasari NPHD dana hibah tahun anggaran 2012-2013 kemudian dikerjakan lalu ada permohonan penarikan dana agar dilakukan pembangunan kantor tersebut, kemudian ditanda tangani oleh YR. Selain itu juga diduga mengelambungkan pengeluaran dana KONI yang di lakukan bersama-sama.

(karena) sudah ada rekening giro milik KONI Papua Barat namun oleh tersangka dibuka lagi rekening bisnis lalu ditarik uang dari rekening giro ke rekening bisnis dan bukti setoran di pertanggung jawabkan seolah-olah pembangunan kantor KONI Papua Barat menggunakan uang pribadi milik kedua tersangka,” terang Tomy.

Menurut Tomy, sejauh ini Yan belum ditahan karena selain alasan subyektif penyidik, penyidik juga masih membutuhkan keterangan saksi untuk melengkapi berkas yang bersangkutan. “Sambil menunggu apakah persyaratan formil dan materil sudah lengkap atau belum. Kita menunggu hasil penelitian berkas yang sudah diserahkan ke Jaksa Penuntut Umum (Kejari Manokwari),” tambah Tomy.

Secara ringkas, saat ini penyidik masih membutuhkan keterangan dari auditor BPK yang melakukan audit terhadap dana KONI pada masa tugas Albert dan Yan. Keterangan tersebut dibutuhkan karena sejauh ini penyidik masih kekurangan dokumen hasil audit BPK.

“Proses penahanan AR sudah memenuhi dua alat bukti sedangkan YR dokumen pertanggungjawaban keuangan dibawa saat itu oleh auditor BPK ke pusat, (namun) setelah dikembalikan, dokumen tersebut tidak dalam keadaan utuh. Sehingga tim auditor semestinya perlu diperiksa,” kata Tomy.

Kepolisian telah berupaya untuk meminta ijin ke Kejagung agar bisa memeriksa dua auditor tersebut, namun sejauh ini belum ada jawaban dari Kejagung, meski begitu Tomy menjamin jika dokumen dan keterangan yang dibutuhkan penyidik sudah lengkap Yan akan ditahan. (MAR)

Tinggalkan Balasan