Membaca Konflik Sosial di Kota Injil (Refleksi Budaya)

Dalam bukunya “Ajaib di Mata Kita”, jilid 1, karya Dr. F. C. Kamma menulis bahwa keputusan memilih Mansinam sebagai peradaban dan pusat penyebaran Injil adalah karena Mansinam adalah pulau perlindungan. Semua manusia terlindung dari angin pada segala musim.

 

BERKUMPULNYA beragam suku dan didominasi orang laut, menjadi daya tarik untuk segera menyuarakan dan memberitakan Injil oleh Zending. Kehadiran Injil mengubah wajah manusia Papua dari “dunia gelap”, menjadi “dunia terang”.  Atas perubahan tersebut, Ia menulis bahwa berbicara Papua berarti berbicara Injil.

Barangkali fenomena diatas yang menjadi inspirasi, sehingga manusia-manusia Papua yang ada di Manokwari mulai membayangkan bagaimana kalau Manokwari di perjuangkan sebagai kota dengan label sosial Kota Injil. Usaha keras untuk memperjuangkan identitas sebagai Kota Injil, dilakukan dengan membentuk tim penyusun Kota Injil yang menurut informasi akhir, naskah tertulis sudah diserahkan kepada pihak-pihak terkait (eksekutif dan legislativ) untuk dilegalkan secara hukum.

Berbicara Injil, berarti berbicara kebenaran Injil yang tertulis dalam kitab suci umat Kristen Protestan yaitu Alkitab. Sama halnya dengan ajaran kitab suci agama yang lain (Islam, Hindu, Budha Khatolik), Alkitab mengajarkan kedamaian, keharmonisan, kesejahteraan dan tertib sosial antara manusia, antar umat beragama dan antar kelompok etnik yang bermukim di kota Injil.

Menyaksikan kehidupan di Kota Injil akhir-akhir ini, barangkali kedamaian semakin jauh dan memang menjauh. Konflik-konflik sosial atas nama kelompok etnik masih saja terjadi. Dalam hitungan 2 bulan yakni bulan September hingga Oktober, sudah terjadi dua konflik sosial yang mengatasnamakan kelompok etnik tertentu. Dengan mudah konflik yang terjadi antar individu satu dengan individu yang lain, berkembang menjadi konflik atas nama kelompok etnik tertentu.

Lihat saja apa yang terjadi pada awal bulan ini, terjadi penyerangan satu kelompok etnik kepada kelompok etnik yang berlokasi di  Terminal Sanggeng tepatnya di pangkalan ojek dan pangkalan mobil rental. Akibatnya sejumlah mobil rusak, dan pos pembayaran karcis pasar Sanggeng dibakar massa.

Bahkan yang terbaru adalah konflik sosial atas nama kelompok etnik tertentu terjadi pada hari sabtu, 22 oktober 2016 di Sanggeng.  Akibatnya, dalam hitungan beberapa jam Kota Injil seakan lumpuh. Jalan-jalan protokol dari Pasar Tingkat Sanggeng hingga Kampung Makasar Wosi, terhalang oleh pecahan botol, bahkan sebagian warga memalang jalan dengan bambu dan pohon-pohon yang sengaja ditebang menutup jalan protokol.

                Penulis ketika memasuki wilayah Sanggeng menyaksikan hampir sebagian manusia memegang parang, tombak, kayu, siap berjaga-jaga. Kepada penulis, seorang Papua di Sanggeng sambil memegang parang mengatakan bahwa “Mari kita bikin sudah, tong baku potong sudah”. Artinya, mereka sudah siap-siap, bila mana konflik berkembang atas nama kelompok etnik.

                Melihat, mendengar, dan merasakan konflik yang akhir-akhir terjadi di kota Injil,  semua pihak seharusnya bertanggung jawab. Tulisan ini, merupakan salah satu wujud tanggungjawab penulis. Artinya tulisan ini memberikan sumbangan pemikiran agar konflik di Kota Injil dapat diminimalisir, atau setidak-tidaknya dapat diantisipasi.

                Untuk mengantisipasi konflik sosial di masa depan, maka setidaknya hari ini kita harus berbuat sesuatu. Sesuatu itu adalah membaca konflik sosial di Kota Injil. Artinya, kita membaca dan memaknai konflik sosial di Kota Injil hari ini, agar hari depan kita bisa antisipasi.

 

Benih-benih Konflik

Kalau era Zending, Manokwari di pandang sebagai wilayah perlindungan sejumlah manusia, maka pada konteks modern konsep perlindungan masih relevan. Manokwari dipandang sebagai wilayah perlindungan yang nyaman bagi sejumlah manusia di wilayah nusantara. Artinya, Manokwari sebagai pusat peradaban, pusat pemerintahan modern (ibu kota Provinsi Papua Barat), maka peluang-peluang ekonomi, peluang-peluang penawaran jasa, peluang-peluang bisnis, dan peluang investasi, atau singkat kata peluang mencari makan dan mencari hidup banyak tersedia, sehingga menjadi daya tarik manusia diseantero nusantara.

                Manokwari sebagai wilayah “Indonesia mini”, artinya wajah Indonesia ada di Manokwari. Ada orang Batak, Toraja, Sulawesi, Jawa, Madura, Maluku, Manado, Bali, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat. Awalnya satu orang “pendatang” datang sendirian, setelah sukses dalam usaha, mengajak sudara-saudara yang lain datang. Jumlah warga “pendatang” yang semakin bertambah, maka dibentuk organisasi atas nama suku. Ada ikatan suku Jawa, Manado, Batak, Makasar, Manado, Bali, Nusa Tenggara Timur. Bahkan lokasi-lokasi pemukiman sebagian warga pendatang diberi nama atas nama suku. Sebut saja Kampung Makasar, Kampung Bugis, Kampung Jawa dan Kampung Ambon.

                Ada kecendurungan bahwa ketika kaum “pendatang” hidup di negeri orang, maka ikatan mereka semakin kuat karena ada rasa yang sama diantara suku sendiri. Sama-sama berasal dari asal yang sama, sama-sama merantau di negeri orang yang sama. Mereka tidak sekedar datang dengan tangan hampa, tetapi  membawa budaya-budaya dari tempat asal. Ketika datang dan hidup di Kota Injil, budaya kaum “pendatang” akan bertemu dengan budaya suku Papua di Manokwari. Terjadi semacam dua pertemuan budaya, yang dalam bahasa seorang antropolog Indonesia  Prof. Dr.Koenjarangnigrat adalah fenomena akulturasi budaya.

Perasaan senasib, dan seperjuangan suku “pendatang” di perkuat dengan tinggal dalam lokasi pemukiman yang sama serta nama pemukiman suku “pendatang” diberi  nama suku. Inilah yang barangkali menurut penulis sebagai benih-benih konflik di  hari ini dan hari esok.

Coba tengok saja peristiwa konflik hari Sabtu 22 Oktober 2016. Awal konflik adalah pemukulan dan penikaman antara individu dengan individu. Apabila penyelesaian antara individu-individu diselesaikan dengan cara-cara terbaik, maka saya rasa akan lebih baik. Namun yang terjadi, konflik individu berkembang. Karena korbannya bermata pencaharian sebagai tukang ojek, maka sesama tukang ojek bersatu dan menuju Polda Provinsi Papua Barat menuntut polisi menangkap pelaku. Berkembang pula konflik atas nama suku. Karena korban berasal dari salah satu suku “pendatang”, maka sebuah pemukiman warga yang bernama pemukiman suku tertentu, meminta izin kepolisian yang berjaga-jaga untuk melepaskan suku tertentu, karena mereka siap mencari dan menangkap pelaku.

                Oleh sebab itu, perlu kewaspadaan pengelolah negeri Manokwari (lembaga eksekutif, legislativ, yudikataif, lembaga adat, lembaga budaya, dan lembaga agama), karena Kota Injil sudah terdapat benih-benih konflik di masa kini maupun masa depan. Ada suku “asli”, ada suku “pendatang”, ada ikatan-ikatan atas nama suku “asli” dan suku “pendatang”, dan ada pemukiman-pemukiman atas nama suku.

 

Benih-benih Perdamaian

Ibarat dua sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan. Ada konflik pasti ada perdamaian. Meskipun di Kota Injil sudah di mulai dengan konflik, marilah kita mengakhiri dengan menanamkan benih-benih perdamaian.

Dalam buku seorang antropolog yang berjudul “Ken Sa Faak : Benih-Benih Perdamaian dari Kepulauan Kei”, Prof. Dr.P.M. Laksono,M.A, memberi pesan bahwa penelusuran kembali berbagai unsur dasar budaya dan sejarah lokal itu, pada hakekatnya, tiada lain adalah sejumlah modal sosial yang memungkinkan bagi proses-proses rekonsiliasi dan resolusi konflik sosial di masyarakat. Artinya, modal sosial apa yang di miliki di Manokwari, sehingga proses perdamaian tercapai.

Secara sederhana penulis berpikir bahwa dalam konteks modern ini Manokwari memiliki modal sosial yaitu sebagai Kota Injil. Kota Injil sebagai modal sosial untuk menjaga tertib sosial. Panduan atau semacam kompas bagi semua penghuni Manokwari entah suku “asli” atau Suku “pendatang” adalah Injil. Semua pikiran dan tindakan bersumber dari injil. Siapa bertindak  sesuai nilai-nilai Injil dikategorikan sebagai  individu dan suku yang normal sehingga layak tinggal, hidup dan berkarya untuk Kota Injil. Sementara individu dan suku yang bertindak jauh dari nilai-nilai Injil dapat dikategorikan sebagai tidak normal atau dalam bahasa seorang Antropolog Papua bernama Dr. Yosua Mansoben, M.A, adalah perilaku menyimpang. Manusia-manusia tidak normal atau perilaku menyimpang bisa saja dievaluasi oleh Pemerintah dan rakyat Papua, apakah masih layak tinggal, hidup dan berkarya di Kota injil ?  atau silahkan saja berurusan dengan kekuatan fisik Negara yang sah (kepolisian).

 

Menuju Tertib Sosial di Kota Injil

Saya rasa kita akan kesulitan dimasa depan mengantisipasi konflik sosial di Kota Injil, apabila kita tidak memulai dari sekarang. Benih-benih konflik sudah ada dan hanya menunggu waktu meletus. Modal sosial sebagai Kota Injil segera diterbitkan dalam lembaran Negara sebagai “Undang-Undangnya Kota Manokwari”. Kota injil selain sebagai kompas berpikir dan bertindak semua penghuni Manokwari, juga sebagai alat kontrol perilaku setiap individu dan suku “asli” serta suku “pendatang”.

Kita berharap jika  hari ini konflik terjadi biarlah kita hidup dalam era konflik, dan hari esok ketika Kota Injil diimplementasikan, maka kita sedang mewariskan benih benih perdamaian bagi hari depan. Generasi masa depan tidak lagi melanjutkan warisan konflik dari generasi masa kini, tetapi mereka menerima warisan benih-benih perdamaian dari generasi sekarang karena kita sudah memulai sekarang       menamkan benih-benih perdamian dengan berlandaskan Kota Injil.

 

*ADOLOF RONSUMBRE

Dosen Antropologi dan Kepala Pusat Studi Bahasa dan Budaya Papua Universitas Papua

Tinggalkan Balasan