Seminar dan Sosialiasi Provinsi Konservasi, Papua Barat.

Membangun Opini “Aktor” untuk Masa 20-30 Tahun Mendatang

MANOKWARI, Cahayapapua.com——  Masa depan provinsi Papua Barat sebagai provinsi konservasi untuk masa 20-30 tahun mendatang menjadi pertanyaan penting. Akan seperti kondisi provinsi ini diwaktu yang akan datang?

Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Provinsi Papua Barat, Jack Manusawai mengatakan, kondisi provinsi konservasi akan sangat bergantung pada opini “aktor” yang akan bermain.

“Siapa itu aktor. Aktor adalah, bupati, gubernur, DPR, dan SKPD serta mitra lainnya. Kedepan, komitmen para aktor ini seperti apa? Sekarang kita mencari opini aktor yang akan bermain,” kata Jack di sela-sela Seminar dan Sosialiasi Provinsi Konservasi, Senin (6/6/2016).

Seminar dan sosialiasi ini dihadiri sejumlah pakar hukum, akademisi lingkungan, aktivis lingkungan, dan LSM serta sejumlah mitra pemerintah.

“Konsep, kita sudah bicarakan. Sehingga fase berikut, untuk prediksi 20-30 tahun ke depan, kita mau bagaimana aktor itu bermain dalam pelaksanaannya,” ujar Jack.

Kata Jack, peran aktor menjadi harapan keberlangsungan provinsi konservasi. Dan, peran ini dapat dilihat dari penataan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan pemanfaatan SDA yang berkelanjutan.

“Model di Indonesia ini susah-susah gampang terkait komitmen pimpinan daerah. Harapannya, 30 tahun ke depan Papua Barat dapat menjadi model provinsi konservasi di Indonesia bahkan, dunia ,” tandasnya.

Dia mengatakan, komitmen serta peran aktor – yang adalah pimpinan daerah juga dapat dilihat dari porsi APBD pada sektor lingkungan khususnya program konservasi. “Sudah sesuai dan mendukung atau belum?,” ujarnya lagi.

Jack menambahkan, peran dan komitmen para aktor harus dievaluasi setiap tahunnya, untuk menjamin kesesuaiannya dengan keadaan provinsi konservasi.

Mewakili gubernur Papua Barat, Staf ahli bidang Pembangunan, Niko Tike mengatakan, predikat provinsi konservasi merupakan kebanggaan sekaligus kepercayaan yang patut dijaga. “Partisipasi masyarakat sangat penting dalam pengelolaan lingkungan dan sumber daya kehutanan,”kata Niko mengutip pernyataan Menteri Lingkungan Hidup. (ALF)

Tinggalkan Balasan