Mendagri Tjahjo Kumolo (kanan) bersama Gubernur Papua Barat Abraham Atururi.

Mendagri Minta Maaf Soal Insiden Aceh dan Tolikara

MANOKWARI, CAHAYAPAPUA.com– Mendagri Tjahjo Kumolo meminta maaf kepada seluruh masyarakat Indonesia khususnya Papua Barat terkait insiden Aceh dan Tolikara. Djahjo menyampaikan permohonan maaf tersebut dihadapan warga dalam peresmian kantor gubernur Papua Barat di bukit Arfai II Manokwari.

“Saya sebagai mendagri mohon maaf masih terjadi kerusuhan yang ada di Aceh Singkil dan Tolikara termasuk di sejumlah daerah yang masyarakatnya masih kesulitan mendapatkan izin membangun tempat beribadah,” kata mendagri.

Tjahjo berharap kejadian di Aceh Singkil menjadi yang terakhir dan tidak akan insiden serupa di Indonesia. Masyarakat Indonesia diimbau untuk menjaga persatuan dan menghargai keberagaman, sesuai amanat Pancasila.

Ia juga menegaskan agar pemerintah daerah memberikan pelayanan yang terbaik kepada seluruh warga tanpa memandang suku, golongan dan agama.

Mendagri menegaskan kepala daerah agar mengimbau jajaran di daerah seperti Kesbangpol, termasuk kepolisian, TNI dan BIN dan agar segera melakukan deteksi dini terhadap potensi yang memecah belah keberagaman. “Kami tidak ingin ada istilah intelijen kecolongan,” tegas Djahjo.

Berbicara kepada wartawan dalam pertemuan berbeda, Djahjo meyakini bahwa masyarakat Papua, Aceh dan Ambon sebenarnya memiliki toleransi beragama yang cukup tinggi.

“Saya yakin akan aman karena semangat kita yang majemuk sudah ada. Di Papua Barat saja berbagai macam etnis, suku agama ada di sini sehingga tidak menjadi masalah. Saya kira ini yang paling penting bagaimana menjaga jangan sampai ada keputusan politik pembangunan pusat dan daerah yang menyinggung perasaan,” tambah Djahjo.

Djahjo juga menyatakan keyakinannya terhadap gubernur Abraham bahwa yang bersangkutan dapat membangun Papua Barat dengan baik. Bram menurut Djahjo sudah tahu apa yang harus dilakukan untuk mempercepat pembangunan Papua Barat secara baik dan aman. |DINA RIANTI