Pertanian organik

Menuai sukses melalui pola pertanian organik

Dilanda kerugian, tidak lantas membuat Obet menyerah. Hal itu justru membuatnya bangkit dan terbebas dari keterpurukan. Di wilayah Distrik Masni Kabupaten Manokwari ada seorang petani tanaman holitikultura.

Ia adalah salah satu pemasok sayur mayur, cabai, melon dan semangka di dua pasar tradisional dan Supermarket di daerah tersebut.

Ia cukup piawai, dibantu Istri, anak dan beberapa pekerja, pertanian yang ia kelola terus berkembang. Kunci sukses yang ia terapkan adalah sungguh-sungguh, fokus dan menggunakan pola tanam yang tepat dalam pertanian.

Selain itu, obet rupanya menggunakan pupuk organik untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi tanamanya.

“Saya pernah bangkrut, sawah saya jual dan harus bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan keluarga,” katanya.

Sudah tiga tahun, obet menerapkan pola organik. Berkat saran dan bimbingan dari Sunarman, salah satu PPL di wilayah tersebut usahanya semakin maju dan menjadi contoh bagi petani lain di wilayahnya.

Obet menuturkan, dari pengalaman yang ia rasakan pupuk organik mampu menjaga kesuburan tanah dan meningkatkan kualitas panen.

“Mikro bakteri dalam tanah hidup kembali. Tanah yang semula keras menjadi gembur lagi setelah memakai pupuk organik. Sayur dan buahan organik ini tidak mudah layu atau busuk,” katanya.

Sejak tiga tahun menerapkan pola organik, hasil produksi pertaniannya meningkat dibanding sebelumnya yang hanya menggunakan pupuk kimia.

“Kita pun tidak perlu berulang kali mengolah lahan. Lahan bisa kita manfaatkan untuk tiga kali penanaman dan hasilnya masih bagus, beda kalo kita pake pupuk kimia,” ujarnya.

Profesi petani digeluti sejak ia masih muda. Jatuh bangun baginya adalah hal yang biasa dalam hidup.

Saat ini ia mengelola 4 hektare lahan.  2,5 hektare diantaranya milik sendiri dan sisanya ia menyewa lahan dari warga.

Obet pernah mengambil kredit sebesar Rp.200 juta dari bank. Saat ini kreditnya sudah tuntas dan tanah yang dulu ia jual kini telah kembali.

Pendampingan yang ia peroleh dari PPL membuatnya semakin terampil dalam mengola hasil pertanian.

“Setiap hari saya harus mengeluarkan Rp.400 ribu untuk ongkos kerja. Dan ini tidak perlu mengambil uang dari keluarga, cukup memutar hasil penjualan dari panen yang ada di lahan ini,” sebutnya.

PPL Masni Sunarman menyebutkan, ladang yang dikelola Obet saat ini sudah bisa menjadi lokasi pelatihan bagi petani di wilayah Papua Barat.

“Untuk studi banding, kita tidak perlu jauh-jauh ke Jawa atau Sulawesi. Disini sudah cukup,” sebutnya.

Menurutnya, Obet sudah berhasil menerapkan pola pertanian modern. Ia berharap petani lain daerah tersebut mencontohnya. (ibn)

Tinggalkan Balasan