Minim kompetisi, komunitas catur Manokwari gelar turnamen terbuka

MANOKWARI— Antusiasme masyarakat Manokwari  terhadap olahraga catur semakin meningkat. Ini dibuktikan dengan tumbuhnya  sejumlah komunitas catur, terutama yang terpusat di beberapa warung kopi. Sayangnya, pertumbuhan ini tidak diikuti oleh kompetisi reguler yang representatif.

Atas dasar itu, muncul inisiatif sejumlah penghobi olahraga asah otak ini untuk menggelar kompetisi terbuka yang rencananya akan dilaksanakan pada 9 -11 Desember nanti di Warung Kopi Daeng, Wosi Manokwari.

Kompetisi yang diorganisir oleh Komunitas Catur Manokwari ini membuka pendaftaran untuk umum. Namun untuk mengantisipasi membludaknya peserta, panitia membatasinya hingga 50-60 pendaftar. Sejak kemarin setidaknya sudah ada 20-an orang yang menyatakan kesediannya secara lisan untuk bertanding.

“Selain untuk mencari bibit-bibit pecatur handal, serta menyediakan ruang kompetisi, kegiatan ini dimaksud untuk membangun silaturrahmi sesama penggemar catur,” kata Mochammad Zainal, Selasa (5/12) kepada Cahaya Papua.

Zainal– akrab disapa Anjas– menjelaskan, kompetisi akan dilakukan dengan menggunakan sistem poin. Seorang pemain mengikuti 7 pertandingan. Mereka yang menang mendapat poin 1, remis 0,5 dan kalah 0.  “Skema ini akan digunakan hingga kita mendapatkan juara 1, 2 dan 3 serta harapan 1 dan 2,” jelasnya.

Panitia menyediakan piala, piagam dan uang pembinaan untuk para juara. Untuk memeriahkan kompetisi, panitian juga merancang eksebisi hiburan dan game problem catur. Sementara setiap peserta dibebankan biaya pendaftaran sebesar Rp. 20.000,.

Anjas juga menjelaskan bahwa kompetisi ini boleh disebut inisiatif nekat. Alasannya karena event ini dimulai dari minimnya kapasitas panitia untuk mengelola kompetisi hingga mencari dukungan sponsor.

“Pokoknya kita mulai dari kebersamaan. Gotong royong. Kalau kita lihat perkembangannya bagus, ada pikiran untuk menggelarnya secara berkelanjutan,” pungkasnya. [Patrix B. Tandirerung]

 

Leave a Reply

%d bloggers like this: