Tim Ekspedisi Lengguru 2014 saat presentasi hasil penelitian belum lama ini di Kaimana, Papua Barat. Foto: CAHAYAPAPUA.com | Isabela Wisang

Misteri Kekayaan Alam Kaimana Terungkap

KAIMANA,CAHAYAPAPUA.com- Kabupaten Kaimana ternyata menyimpan kekayaan alam yang tidak kalah dengan Raja Ampat. Baru-baru ini, seperti yang ditulis Cahaya Papua cetak, Senin, 24 November 2014, gabungan peneliti dalam negeri dan luar negeri menemukan 50 calon spesies baru di daerah berjuluk kota senja tersebut.

50 spesies tersebut ditemukan dalam ekspedisi Lengguru 2014. Tim peneliti ekspedisi ini beranggotakan 150 peneliti dari IRD Perancis, Spanyol, Belgia dan Indonesia (LIPI dan Universitas Cendrawasih).

Peneliti menyebut spesies tersebut ditemukan di laut dengan kedalaman laut 100 meter hingga darat dengan ketinggian 1.000 meter diatas laut.

Penelitian yang berlangsung selama 36 hari dalam tiga kelompok Lengguru, Kumawa dan Zoologi ini juga menemukan sebuah gunung kapur dan sungai yang terdapat di belakang Kota Kaimana.

Lengguru merupakan formasi masif karst terbesar dan kompleks di Pulau Niugini. Lengguru terdiri dari bebatuan kapur, yang mengalami pengikisan akibat hujan, sehingga mengakibatkan banyak lubang berbentuk goa dan terdapat aliran sungai bawah tanah. Kondisi gunung yang berlubang ini, memungkinkan banyak spesies hidup didalamnya. Sungai Lengguru sendiri ada dua, satu diantaranya masih aktif, sedangkan satunya lagi tidak aktif, akibat pergeseran dua lempengan didasar laut, yang mengakibatkan posisi gunung miring dan aliran sungai berpindah.

Selain Lengguru, tim yang dikoordinir Laurent Pouyaud, PhD, Cahyo Rahmadi, PhD dan Prof. Christophe Thibaud, PhD ini juga melakukan penelitian di Gunung Kumawa, yang berumur 3 juta tahun. Hasil penelitian pada wilayah perairan Kumawa menemukan; 8 family kipas laut/akar bahar, teripang 16-17 jenis.

Tim juga menemukan cumi-cumi di perairan Kaimana yang melimpah, namun tim mengingatkan bahwa banyaknya cumi-cumi menandakan karang di perairan Kaimana banyak yang rusak.

Selain itu, ditemukan pula beranekaragam ikan hias, penyu dan juga ikan kecil dan besar jenis hiu, serta lumba-lumba dengan jumlah mencapai 300 ekor per kelompok.

Tim yang melakukan penelitian di wilayah laut merekomendasikan bahwa Nusaulan memiliki pulau-pulau kecil dengan kekayaan alam yang sangat besar, sehingga harus dijaga.

Tim juga menemukan 8 spesies baru ikan pelangi, yang kemudian menempatkan Kaimana sebagai daerah dengan spesies ikan pelangi terbesar mengalahkan Sorong Selatan, yang sebelumnya disebut sebagai perairan dengan spesies ikan pelangi terbanyak. Dari hasil penelitian juga disimpulkan bahwa nenek moyang ikan pelangi bukan berasal dari Australia berdasarkan penelitian sebelumnya, tetapi ternyata berasal dari perairan Kaimana.

Sementara hasil penelitian tim zoologi (perbinatangan) di Gunung Lengguru dan Kumawa juga menemukan; kupu-kupu unik sebanyak 110 spesies yang merupakan endemik Papua, capung sebanyak 37 spesies (8 diantaranya endemik Papua) yang tersebar pada tiga titik dan terbanyak terdapat di wilayah Lobo sebanyak 20 spesies.

Selanjutnya, jangkrik berjumlah 100-150 spesies dan dua diantaranya merupakan spesies baru. Kalajengking, kalacemeti dan laba-laba sebanyak 3 spesies dan 1 diantaranya endemik Papua.

Ditemukan pula reptilia amfibia sebanyak 37 spesies (8 diantaranya endemik Papua) dan mamalia kelelawar sebanyak 20 spesies, tikus 8 spesies serta unidentified sebanyak 5 spesies.

Tim zoologi juga menemukan 1 jenis burung nuri terkecil di dunia dan 1 jenis burung mambruk terbesar di dunia yang hanya terdapat di Kaimana.

Tim merekomendasikan kepada Pemerintah Kabupaten Kaimana agar hasil awal penelitian ini ditindaklanjuti. |ISABELA WISANG

SUMBER: CAHAYA PAPUA CETAK EDISI 24 NOVEMBER 2014

 

EDITOR: DUMA TATO SANDA

 

Simak berita terbaru tentang Papua Barat dan Papua melalui situs www.cahayapapua.com atau follow kami di twitter dan halaman facebook untuk mendapatkan pembaruan berita.

One comment

  1. Semoga kekayaan tersebut dapat dilestarikan agar kelak nanti anak cucu bisa melihat secara langsung bukan hanya cerita di masyarakat.

Tinggalkan Balasan