AY (49), tengah, pembunuh Abdul Hakim Hafid (57), juragan coto Makassar 9 April lalu yang diperlihatkan kepada pers di Polres Manokwari, Senin (8/5). Pembunuhan terhadap Abdul Hakim ternyata diotaki oleh sang istri YR (45).

Misteri pembunuh juragan coto Makassar terbongkar

Manokwari, Cahayapapua.com— Pembunuh Abdul Hakim Hafid (57), juragan Coto Makassar yang beralamat di Pasar Sowi, akhinya terungkap. Polisi yang menemukan sejumlah kejanggalan sejak awal kasus, akhirnya menetapkan sang istri, YR (45), sebagai otak pembunuhan. YR dibantu mantan pacarnya AY (49) sebagai eksekutor.

Abdul Hakim, ditemukan tewas bersimbah darah dengan 11 tusukan, di rumahnya, yang juga digunakan sebagai warung Coto Makassar, tepatnya di lantai 2, kompleks Maduraja, Pasar Wosi, Minggu (9/4).

YR dan AY yang kini telah ditetapkan sebagai tersangka, diperlihatkan kepada pers dalam rilis kasus ini di Polres Manokwari, Senin (8/5). Rilis tersebut dihadiri Kapolda Papua Barat Brigjen Pol Martuani Sormin Siregar dan Kapolres Manokwari AKBP Christian Ronny Putra dan Kasat Reskrim Polres Manokwari AKP Aries Diego Kakori.

Kapolda menerangkan, YR berdalih tega menghabisi suaminya karena sering diancam dan dianiaya. Intensitas komunikasi dengan sang pacar akhirnya menemui momentum. Ia kemudian mengatur siasat untuk menghabisi suaminya.

“Korban sering menganiaya dan mengancam, hingga membuat istirinya sakit hati. Dan ketika YR minta cerai, korban tidak mau. Jadi mungkin ini akibat sakit hati, dendam,” kata Martuani menjelaskan.

YR kemudian curhat dengan AY dan akhirnya menyiapkan pembunuhan. “Yang kami pastikan bahwa pelaku dan istri korban ini memiliki hubungan khusus atau CLBK (cinta lama bersemi kembali),” kata Martuani.

Polisi menemukan dugaan kuat hubungan YR dan AY hingga merencanakan pembunuhan terhadap Abdul Hakim berdasarkan bukti percakapan di telepon genggam YR, yang sebelumnya telah dihapus.

Dalam percakapan tersebut, YR meminta AY untuk terbang ke Manokwari pada 7 April. Dua hari kemudian atau pada 9 April, suaminya dibunuh. YR terbang kembali ke Makassar satu hari setelah itu, atau pada 10 April.

“Ini semua unsur perencanaan, karena sesungguhnya pelaku AY ini didatangkan dari Makassar atas permintaan YR,” kata Martuani.

Kapolda menceritakan, sebelum dibunuh, suaminya sedang tertidur dalam kamarnya bersama dia dan putranya. Pelaku kemudian ke dalam rumah dengan mudah dan mendatangi korban kemudian mencekiknya. Saat itu korban sempat melakukan perlawanan namunya akhirnya terbunuh.

“Kami yakin istrinya turut membantu pembunuhan itu, dan dari modus yang dilakukan dengan 11 tusukan, itu hanya bisa dilakukan dengan unsur perencanaan. Kedua tersangka kami kenakan pasal pembunuhan dengan perencanaan 338 dan 340 KUHP,” ujar Martuani. (tnj)

Tinggalkan Balasan