Ratusan Warga Toraja mendatangi Mapolres Teluk Bintuni, menuntut pengungkapan kasus pembantaian ibu rumah tangga dan dua anak di daerah tersebut baru-baru ini.

Misteri Pembunuhan Frelly dan Dua Anaknya Sisakan Rasa Trauma Warga

MANOKWARI, CAHAYAPAPUA.com— Kasus pembunuhan sadis seorang ibu dan dua anaknya di Bintuni membuat suasana di kota itu sangat berbeda dari biasanya. Ada kesan traumatis yang membekas di benak warga setempat pasca kejadian itu. Terlebih karena kasus ini berikut pelakunya belum terungkap.

“Jam sembilan malam kota sudah mulai sepi. Warga terutama perempuan yang ditinggal suaminya bertugas ke pedalaman merasa ketakutan. Mereka tidak berani tinggal bersama anaknya di rumah,” tutur Wakil Ketua DPRD Teluk Bintuni, Dan Topan Sarungallo kepada Cahaya Papua via telepon, Senin (14/9) malam.

Menurut Topan, kesan traumatis itu dengan sendirinya akan sirna secara perlahan jika kasus ini terkuak dan terang benderang. Masalahnya, hingga sekarang aparat penegak hukum belum menetapkan tersangka.

“Kita sebenarnya sangat membutuhkan suasana yang lebih kondusif terutama menjelang Pilkada. Tapi kalau belum ada kemajuan signifikan dalam pengusutan kasus ini maka situasinya akan tetap begini,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Ari, seorang rekan jurnalis yang bekerja di Bintuni. Ia mengatakan, meski keadaan di kota ini relatif aman, tidak bisa dipungkiri bahwa peristiwa pembunuhan sadis tersebut mengganggu kondisi psikologi warga. “Sebenarnya masih terbilang normal. Tapi fakta bahwa warga meningkatkan kewaspadaannya memang ada,” ucapnya.

Sejumlah warga Bintuni yang dihubungi media ini juga membenarkan kesan itu. Menurut mereka rasa traumatik pada umumnya mendera warga yang tinggal di sekitar lokasi kejadian. Namun warga yang biasanya melintasi kota dari titik yang relatif jauh ke titik lainnya juga kuatir melintasi kota terutama ketika berkendara pada subuh dan malam hari.

Situasi ini mengganggu mobilitas mereka ketika hendak beraktivitas pada dini hari.
Kamis, (27/8) lalu, seorang warga Bintuni, Ny Frelly Dian Sari (26 Tahun) bersama dua anaknya Cicilia Putri Natalia (6 Tahun) dan Andhika (2 Tahun) ditemukan tewas bersimbah darah di rumahnya, Jl Raya Bintuni Km 7, Distrik Bintuni.

Frelly yang sedang mengandung 4 bulan, ditemukan di ruang tengah lantai 2 rumahnya dengan kondisi mengenaskan. Tubuhnya penuh luka dan tusukan. Sementara jenazah 2 anaknya yang ditemukan di ruang berbeda di lantai 2 juga mengenaskan dengan sejumlah luka tusuk dan tebasan di tubuhnya.

Ny Frelly adalah istri dari Julius Hermanto. Suaminya bekerja sebagai guru di Kampung Yensey. Saat kejadian, Julius mengaku sedang berada di tempat tugas. Selasa pagi adalah pertemuan terakhir keluarga ini, tepat ketika Herman berangkat ke tempat tugasnya. Keluarga ini adalah warga Teluk Bintuni yang juga adalah anggota Ikatan Keluarga Toraja (IKT).

Para korban sejauh ini diduga kuat adalah korban pembunuhan. Proses hukum sedang berjalan. Belasan saksi sudah diperiksa. Pihak kepolisian optimistis dapat mengungkap kasus ini, namun sejauh ini, belum seorang pun yang ditetapkan sebagai tersangka.

Berkembang informasi bahwa ada saksi kunci yang pemeriksaannya akan melibatkan polisi militer. Kabar ini dibenarkan oleh Letnan Kolonel Warjito,SH, Komandan Denpom Sorong. Institusi yang ia pimpin membawahi institusi kepolisian militer (Subdenpom) di Teluk Bintuni.

Warjito mengatakan, Denpom Sorong telah mengutus beberapa personil polisi militer untuk membantu aparat di Bintuni melakukan penyelidikan, pemeriksaan dan investigasi. Ia pun sedang berada di Bintuni bersama tim tersebut. “Kami masih melakukan pemeriksaan. Mereka yang diperiksa masih berstatus sebagai saksi,” katanya kepada Cahaya Papua melalui sambungan telepon, Minggu (13/9).

Keterlibatan Polisi Militer dalam penyelidikan dan penyelidikan kasus ini sebagaimana diungkap Warjito, secara tidak langsung mengungkap adanya kemungkinan keterlibatan oknum anggota TNI dalam kasus pembunuhan ini.
“Kalau berat ke militer, oknum tersebut bisa diproses dengan hukum pidana militer,” ucap Aktivis HAM yang juga Direktur Lembaga Penelitian Pengkajian dan Pengembangan Bantuan Hukum (LP3BH) Manokwari, Yan Christian Warinussy.

“Jika polisi sudah memperoleh minimal 2 alat bukti sebaiknya segera tetapkan tersangkanya. Tidak perlu ragu siapa dia dan dari institusi mana. Polisi juga tidak boleh terpengaruh oleh tekanan,” jelasnya lagi.

Sementara itu, proses politik juga akan dilakukan oleh DPRD Teluk Bintuni terkait kasus ini. Menurut Topan DPRD terus memantau perkembangannya. Hari ini, DPRD menggelar rapat dengar pendapat dengan Polres Teluk Bintuni untuk menanyakan sejauh mana perkembangan penyelidikan kasus ini.

Topan menyebut rapat ini tidak dimaksud untuk mengintervensi aparat penegak hukum. “Lembaga penegak hukum adalah mitra DPRD. Ini semacam sinergi,” katanya singkat.

Upaya lain untuk mendapat keadilan juga dilakukan keluarga besar etnis Toraja yang diorganisir oleh Ikatan Keluarga Toraja.

Topan yang beberapa hari lalu diutus oleh IKT Papua Barat menemui sejumlah stakeholder strategis yang dinilai relevan dengan kasus ini mengatakan sejumlah institusi seperti Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak; Komnas Anti Kekerasan Terhadap Perempuan dan Komnas Perlindungan Anak sudah merespon laporan yang disampaikan oleh IKT.

“Beberapa lembaga tadi sudah menggelar rapat soal kasus ini di Jakarta. Ada beberapa persyaratan laporan yang diminta oleh berbagai pemangku kebijakan tersebut kepada IKT. Secepatnya akan kami lengkapi dan kirim. Kami juga memohon dukungan masyarakat agar ikut memantau perkembangan kasus ini,” katanya. | PATRIX B. TANDIRERUNG