MTQ Papua Barat dan Toleransi Beragama di Bintuni

BINTUNI, Cahayapapua.com—- Ada kesan mendalam yang terselip di penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) di Kabupaten Teluk Bintuni, yaitu kesan yang menyampaikan pesan kepada masyarakat luas soal toleransi beragama yang musti dijaga.

Pesan toleransi itu nampak dari antusias vokal grup pesta paduan suara gerejawi (Pesparawi) umat Kristiani yang turut meramaikan dan menjadi paduan suara perayaan pembukaan MTQ ke 6 tahun 2016 yang dilaksanakan di lapangan Gedung Serba Guna, Bintuni, Sabtu (14/5/2016).

Dengan suara yang merdu dan menggema, paduan suara ini juga menjadi paduan suara terindah yang tururt meramaikan pembukaan MTQ, selain menyanyikan lagu Indonesia raya, mereka juga menyanyikan lagu himne dan mars MTQ dengan merdunya.

Bukan hanya Pesparawai, toleransi beragama juga ditunjukan dari anak-anak sekolah yang menarikan tarian kolosal. Berjumlah 265 anak dari SMP dan SMA kota Teluk Bintuni yang berasal dari agama yang berbeda mulai dari Islam, Kristen, Katolik dan Hindu.

Mereka tampak antusias menarikan tarian kolosal yang menceritakan masuknya agama islam ke tanah Papua pada umumnya dan ke Teluk Bintuni secara khusus yang dibawa oleh tiga kesultanan seperti kesultanan tidore dan jailolo melalui pedagang pedagang muslim yang berlayar ke Papua.

Antusias untuk meramaikan pagelaran dua tahun sekali ini juga nampak dari jumlah pengunjung dan warga masyarakat dari berbagai agama yang menyaksikan pagelaran keagamaan ini, karena bukan hanya umat islam yang menyaksikan megahnya acara pembukaan melainkan juga dari umat beragama yang berbeda.

“Kami senang sekali karena dengan begini bintuni jadi lebih ramai, jadi kami ikut berjualan untuk menambah penghasilan” kata maria (35) salah satu pedagang pinang dan minuman di depan GSG ini. Wanita paruh baya ini nampak selalu ramah kepada setiap pembeli, rasa toleransi juga ia sampaikan melalui tutur kata dan senyumnya kepada setiap pembeli yang datang.

Ahmad (14), salah satu peserta tari juga menyampaikan antusiasnya, ia nampak bangga menjadi bagian dari penari meskipun tugasnya hanya sebagai pendorong kapal namun ia bangga menjadi bagian dari penyelenggaraan MTQ tingkat provinsi yang baru pertama kalinya digelar di Bintuni.

Menurut ketua panitia penyelenggaraan kegiatan MTQ, DR Alimudin Baedu, MM mengatakan, panitia sengaja melibatkan pesparawai sebagai paduan suara untuk melibatkan agam lain dalam penyelenggaraan MTQ ini karena ini adalah hajatan besar tingkat provinsi yang menghadirkan seluruh kabupaten kota.

Selain itu, hal ini juga dilakukan, untuk menunjukan kepada masyarakat bahwa umat islam selalu terbuka kepada siapa saja dan selalu menjunnjung tinggi toleransi umat beragama.
Alimuddin juga mengatakan bahwa yang terlibat didalam kepanitiaan MTQ ke VI, juga melibatkan dari berbagai unsur masyarakat yang berbeda agama. Baik itu yang bekerja di pemerintahan, pengusaha, maupun masyarakat biasa, semuanya menyatu menysukseskan iven ini.

Sebelumnya, kepala Departemen Agama Kabupaten Teluk Bintuni, NR. Agus Hidayat, SH kepada wartawan mengatakan, kehadiran pesparawi untuk mengisis paduan suara pada pembukaan MTQ dilakukan secara sukarela. AGus Hidayat juga menyampaikan ungkapan terimakasihnya kepada tim pesparawi untuk mau dengan sukarela menyanyikan Mars MTQ. “ini merupakan bukti bahwa kebersamaan itu penting, karena ini merupakan ivent bersama yang perlu disukseskan untuk teluk bintuni” katanya.

Toleransi umat beragama yang ditunjukan dimasa transisi kepemimpinan bupati ini juga menjadi agenda keberhasilan kepemimpinan bupati sementara Ishak L. Hallatu. Dalam sambutannya, Hallatu mengatakan semoga ajang MTQ ini tidak hanya dimaknai sebagai ajang lomba tetapi yang terpenting adalah silaturahmi dalam konteks pandangan yang lebih luas yakni memahami kandungan alquran.

Dikatakannya pelaksanaan MTQ ke 6 ini menjadi tantangan tersendiri bagi hallatu sebagai penjabat bupati sementara karena disaat energy terkuras untuk menyelesaikan konflik pilkada, ia juga harus memastikan pelaksanaan MTQ ini harus berjalan lancar dan sukses. (ART)

One comment

  1. Iswandi Hasan

    Sayangnya ada beberapa banyak kabupaten dengan yang bangga dengan khafilahnya yang juara padahal khafilah tersebut merupakan kontrakan bukan asli dari kabupatennya… miris

Tinggalkan Balasan