Ilustrasi minuman keras.

Mulai 1 April, Seluruh Distributor dan Penjual Miras Wajib Tutup

SORONG, CAHAYAPAPUA.com—– Seluruh distributor, tepatnya 5, dan toko minuman keras atau minuman beralkohol di Kota Sorong, Papua Barat, mulai 1 April 2016, wajib menutup seluruh dagangan mereka tanpa terkecuali.

Hal ini ditegaskan Wali Kota Sorong Lambert Jitmau dalam pertemuan dengan distributor dan pemilik toko minuman keras yang berlangsung di Ruang Anggrek, Kantor Wali Kota Sorong, Rabu malam, (30/3/2016).

“Pokoknya saya tidak mau tahu, tanggal 1 April 2016, jam 10 pagi sampai selesai, saya bersama tim terpadu akan turun dengan truk langsung ke semua toko miras. Kami akan amankan sisa miras yang ada.

Saya akan tampung semua sisa miras yang ada ke dalam GOR (Gedung Olahraga) Pancasila sampai menunggu gudang kelima distributor miras (di Kota Sorong) kosong. Saya sudah tidak main-main lagi. Saya sudah harus komitmen dengan apa yang disepakati,” tegas wali kota.

“Jadi bapak atau ibu (distributor dan toko penjual miras) pulang lalu mulai packing sisa miras yang ada sudah, karena kami akan turun dan langsung membuat pernyataan selanjutnya miras (sisa) kami angkut,” tambah wali kota.

Lambert Jitmau mengatakan, ia dengan berat hati terpaksa harus tegas demi kepentingan orang banyak dan demi kepentingan daerah tersebut mengacu pada UU dan Perda pembatan minuman keras.

“Saya harus berkomitmen dengan keputusan agar tidak ada tekanan dan desakan dari berbagai pihak, terutama tekanan dari tokoh-tokoh agama di Kota Sorong,” ujarnya.

Kepada para distributor dan pengecer ia meminta untuk berjiwa besar dan tunduk pada aturan hukum yang berlaku serta meminta mereka untuk secepatnya beralih profesi ke bidang lain yang tidak terkait dengan miras.

“Dengan berat hati demi kepentingan orang banyak dan demi kepentingan daerah, saya harus komitmen untuk menutup semua tempat penjualan miras. Ini harus saya lakukan, sehingga tidak lagi ada tekanan buat saya dari tokoh-tokoh agama. Saya harap kedepan bapak dan ibu dapat beralih profesi ke tempat lain,” ujarnya.

“Saya minta semua pengecer agar siapkan sisa miras yang ada tanpa terkecuali, sehingga mempermudah petugas untuk mengeksekusi berdasarkan toko-toko miras yang ada untuk di drop langsung ke GOR.”

Kota Sorong pada 2015 lalu telah menetapkan perda pembatasan penjualan minuman keras yang harusnya mulai berlaku pada Desember 2015 lalu.

Namun karena permintaan para distributor dan pemilik maupun pengecer minuman keras agar diberi kelonggaran waktu selama 3 bulan hingga 30 Maret 2016, akhirnya Lambert menyanggupinya.

“Bapak dan Ibu minta perpanjang saya perpanjang selama tiga bulan, ikut bapa dan ibu pung (punya) mau. Sekarang sudah tidak ada tawar menawar lagi, saya tutup, titik..!,” tegas wali kota menambahkan. (NSR)

Tinggalkan Balasan