Musa Ingens
Musa Ingens

Musa Ingens, Pisang Raksasa Pegunungan Arfak 

MANOKWARI, Cahayapapua.com–Pegunungan Arfak, memiliki beberapa kekayaan hayati yang sangat menakjubkan, satu diantaranya adalah pohon pisang raksasa yang tingginya mencapai 15 meter. 

Dalam bahasa latin tanaman endemic pegunungan ini disebut Musa Ingens NW Simmonds.

Kepala Pusat Penelitian Keanekaragaman Hayati (Puslit Kehati) Universitas Papua (Unipa) Manokwari Prof. Charly Heatubun mengatakan, musa ingens adalah tanaman endemic di pulau Neu Genea atau pulau besar Papua, Papua Barat dan Negera Papua Neu Genea.

Pohon pisang tersebut, satu-satunya pohon pisang terbesar di dunia. Sejauh ini, tanaman tersebut masih mudah ditemukan di beberapa daerah di wilayah Pegunungan Papua dan Papua Barat. Pegunungan Arfak, Papua Barat, menjadi salah satu habitat pertumbuhan tanaman langka ini.

“Ketinggian pohon pisang ini bisa mencapai 12 hingga 15 meter dengan deameter pohon atau pelepahnya lebih dari 50 cm. Pohon ini hidup diatas ketinggian 900 meter dari permukaan laut (dpl),” kata dia.

Selain Pegunungan Arfak, kata dia, tanaman raksasa ini pun dapat ditemukan di Pegungan wilayah Kabupaten Yapen, Puncak Jaya, Siklop Provinsi Papua serta beberapa dataran tinggi di Negara Papua Neu Genea.

Dia mengutarakan, selain menakjubkan dibanding pohon pisang pada umumnya,  buah pisang ini oleh masyarakat digunakan sebagai obat tradisional. Masyarakat meyakini, buah pisang tersebut berkasiat untuk mengobati beberapa jenis penyakit.

“Selain itu, pelepahnya pun bisa dimanfaatkan sebagai bahan kerajinan. Selain ukuranya cukup lebar dan tebal,  pelepah tersebut cukup kuat,” katanya lagi.

Charly mengungkapkan,  selain pisang raksasa Pegunungan Arfak pun memiliki satu jenis tanaman pisang yang hanya dapat ditemukan di daerah tersebut. Nama latin pisang ini adalah Musa Arfakiana Argent.

“Umumnya tandan pisang itu menjuntai ke bawah mengikuti grafitasi bumi. Namun tandan dari pohon pisang Musa Arfakiana ini menjulur keatas,  tanamaan ini endemic Pegunungan Arfak,” kata dia lagi.

Menurut dia, ada genetika tertentu yang membedakan pisang Musa Ingens dan Musa Arfakiana dengan pohon pisang pada umumnya. Hal ini merupakan keunggulan dari kekayaan hayati Pegunungan Arfak yang harus dilestarikan melalui upaya-upaya konservasi.

Pegunungan Arfak adalah kabupaten baru di Papua Barat yang dimekarkan pada tahun 2012 dari Kabupaten Manokwari. Daerah yang 80 persen merupakan kawasan hutan konservasi ini memiliki cukup banyak kekayaan alam yang tidak dapat ditemukan di daerah lain.

Pemerintah daerah bertekad mengembangkan daerah tersebut sebagai kabupaten pariwisata. Selain Musa Ingens dan Musa Arfakiana, daerah ini memiliki kekayaan hayati lain baik flora maupun fauna.

“Kami punya dua danau Anggi Giji dan Anggi Gida, ada tempat penangkaran kupu-kupu, ada tempat pengintaian burung pintar d an burung cendrawasih,” kata Bupati Pegunungan Arfak Yosias Saroy yang dihubungi dari Manokwari, Selasa.

Dia menyebutkan, kekayaan alam di daerah ini cukup melimpah, namun keterbatasan infrastruktur masih menjadi kendala sekaligus tantangan pembangunan daerah.

“Sektor pertanian dan perkebunan pun menjadi salah satu prioritas pembangunan, dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kami ingin mengembangkan konsep agrowisata,” ujarnya lagi.(IBN)

Tinggalkan Balasan