Ilustrasi. Foto: antarafoto.com

Natal adalah Melayani dengan Kasih…

Malam Kudus… Sunyi Senyap. Bintang pun gemerlap. Ayah Bunda mesra dan kudus. Lahir Sang Penebus, Lahir Sang Penebus. Penggalan kidung Malam Kudus itu mengalun merdu mengiringi perarakan patung Kanak-Kanak Yesus menuju Palungan. Ketika itu semua lampu gereja dipadamkan. Penerangan berganti dengan cahaya dari lilin-lilin kecil yang ada di tangan semua umat yang hadir.

———————————————————-

Oleh: Zack Tonu Bala

LAMPU dinyalakan. Koor kemudian menyanyikan lagu pujian Gloria in Ex Celcis Deo diikuti seluruh jemaat gereja dengan penuh semangat. Ini menjadi pertanda Yesus Kristus Sang Juru Selamat telah lahir ke dunia.

Suasana itu tergambar dalam Misa malam Natal di gereja katolik Imanuel Sanggeng Manokwari, Rabu (24/12/2014) malam. Ratusan umat Katolik hadir dalam misa agung yang dipimpin pastor Aloysius Teniwut, OSA itu.

Dalam tradisi gereja katolik, misa malam Natal untuk merayakan kelahiran Yesus, selalu diawali dengan perarakan patung bayi Yesus. Ini merupakan bentuk penghormatan terhadap Yesus Sang Putera Natal. Itu sebabnya, hampir di semua gereja katolik selain pohon Natal, di dibangun pula kandang Natal yang merepresentasikan kandang ternak tempat dulu Yesus dilahirkan.

Dalam pesan Natalnya, pastor Aloysius Teniwut mengingatkan kembali bahwa kelahiran Yesus adalah bukti betapa besar cinta kasih Allah kepada manusia. Dialah Imanuel, Allah beserta manusia. Yesus datang dengan misi utama membebaskan umat manusia dari belenggu dosa.

Dia yang adalah Raja, justru rela meninggalkan semua keagungan-Nya untuk menjadi pelayan bagi manusia yang dicintai-Nya. Yesus mengajarkan bahwa menjadi pemimpin, sejatinya adalah pelayan bukan sebaliknya menuntut untuk dilayani setiap waktu.

“Dia datang sudah datang di kandang yang hina untuk membuat kita ‘kaya’. Dia datang untuk melayani kita dengan kasih. Umat Kristen harus mencontoh apa yang telah dilakukan Yesus, “ kata pastor Alo.

Pastor paroki Imanuel Sanggeng itu menekankan pentingnya semangat melayani dengan kasih seperti yang ditunjukkan Yesus, terpatri dalam jiwa para pemimpin di tanah Papua. Hanya dengan pemimpin yang mengusung konsep melayani dengan kasih lah, rakyat Papua akan menikmati kesejahteraan hidup.

“Sekarang penyakit AIDS sudah merajalela di Papua, banyak orang Papua mati karena AIDS. Juga karena kemiskinan dan keterbelakangan. Kalau pejabat di Papua ini, mulai dari Gubernur, Bupati, para kepala dinas, pejabat gereja dan lainnya tidak memikirkan jalan keluar untuk atasi, maka suatu saat orang Papua akan habis, “ ujarnya.

Di sisi lain, banyak kaum muda di tanah Papua kini terjebak dalam prilaku yang menyimpang dari ajaran Tuhan. Seperti sex bebas, narkoba dan juga kejahatan lainnya. Kondisi ini membutuhkan perhatian serius dari para pemimpin.

“Para pejabat harus lebih peduli pada orang Papua. Jangan hanya berangkat ke Jakarta terus pakai pesawat. Mari kita bekerja bahu membahu untuk selamatkan orang Papua, “ lanjut rohaniawan kelahiran distrik Senopi, Manokwari Barat itu.

Dia juga mengajak pejabat gereja termasuk umat Kristen agar lebih peka terhadap nasib orang-orang kecil, mereka yang masih menderita maupun terpinggirkan.

“Kelahiran Yesus membawa damai dan kebaikan bagi dunia. Maka gereja harus turun tangan untuk bekerja secara nyata. Semua pastor, pendeta dan umat Kristen harus berbuat untuk menyelamatkan orang Papua. Tidak bisa hanya sembayang, tapi kita pikirkan solusinya, “ tandas Alo.

“Mari kita gunakan karunia yang Tuhan kasih untuk mengembangkan diri menjadi lebih baik dan untuk menyelamatkan orang lain, “ pungkas imam katolik dari ordo Santo Augustinus itu.

Secara umum, perayaan Natal di Manokwari berlangsung aman dan tertib. Mulai dari ibadah malam Natal hingga Natal pertama maupun Natal kedua, semuanya berjalan hikmat dan lancar. Seperti terpantau di gereja katolik Imanuel Sanggeng, petugas gabungan dari TNI/Polri secara rutin melakukan pengamanan di areal gereja. (*)

Tinggalkan Balasan