Terumbu Karang di Taman Nasional Teluk Cendrawasih di sekitar Pulau Roon, tepatnya di depan kampung Yende. Foto TNTC

Nelayan Asing Jarah Taman Nasional Teluk Cendrawasih

MANOKWARI, CAHAYAPAPUA.com Aktivitas illegal fishing melibatkan kapal dan nelayan asing rupanya tak hanya menyasar perairan yang terbuka untuk aktivitas penangkapan ikan di Papua Barat.  Dalam sejumlah kasus, nelayan asing juga mulai berani menjarah kawasan konservasi laut semisal Taman Nasional Teluk Cendrawasih.

Kepala Balai Taman Nasional Teluk Cendrawasih, Ben Gurion Saroy mengatakan pihaknya pernah mendapat laporan masyarakat soal adanya aktivitas kapal asing di kawasan itu. Sayangnya kapal itu berhasil kabur.

“Saat kami dekati mereka langsung bergerak keluar dari taman nasional. Tidak bisa dikejar karena bahan bakar kapal yang digunakan aparat kami terbatas,” ungkapnya, Kamis (30/10/2014) di Manokwari.

Taman nasional Teluk Cendrawasih (TNTC) adalah kawasan konservasi laut seluas 1,4 juta hektar di wilayah kepala burung Tanah Papua. TNTC menjadi kawasan konservasi karena kunikan alamnya.

Kawasan yang 89,9 persen luasannya berupa perairan dan sisanya berupa daratan pesisir pantai, pulau-pulau kecil serta hutan mangrove ini memiliki kekayaan sumberdaya alam berupa keanekaragaman flora dan fauna yang tinggi. Misalnya anggrek hutan dataran rendah di pulau-pulau kecil, padang lamun, mangrove, ribuan jenis ikan endemik dan terumbu karang yang masih terawat.

Kondisi alam terutama perairan yang masih seimbang dan lestari memungkinkan sejumlah ikan yang memiliki nilai ekonomis tinggi semisal kerapu dan tuna berkembang dengan baik di kawasan ini. Inilah potensi perikanan yang disasar para nelayan asing.

Kapal asing biasanya memasuki kawasan taman nasional pada malam hari. Pada siang hari mereka memilih berlabuh di luar kawasan sehingga luput dari pantauan aparat dan warga.  “Mereka mendekat saat malam lalu menyelam. Mereka juga mencari kima,” kata Ben.

Ada tiga jalur yang bisa digunakan oleh nelayan asing untuk masuk ke kawasan yakni jalur Numfor – Manokwari, Numfor-Biak, Biak –Yapen atau melalui Selat Saireri. Namun Ben menduga para nelayan asing masuk melalui jalur yang pertama, Numfor-Manokwari. Sementara lokasi yang disasar untuk aktivitas illegal fishing adalah perairan kaya ikan di sekitar Kepulauan Auri dan Wairundi, Teluk Wondama.

Keberadaan armada kapal – nelayan asing juga dilaporkan sejumlah nelayan di Manokwari. Nelayan asing yang muncul di sekitar mil 40-60 biasanya menyasar ikan tuna kualitas eksport. Mereka pun tak segan-segan menguras dan merusak rumpon nelayan, terutama bila nelayan lokal berani melaporkan aktivitas mereka kepada aparat.

Nelayan lokal yang kalah dari sisi jumlah dan peralatan tak berkutik di bawah tekanan nelayan asing. Namun ada pula kemungkinan bahwa para nelayan asing memanfaatkan sejumlah oknum nelayan lokal sebagai kaki-tangan untuk beroperasi.

Ben Saroy mengatakan, apa yang terjadi di kawasan Taman Nasional Teluk Cendrawasih merupakan gambaran umum betapa lemahnya Indonesia dalam melindungi sumberdaya laut.  Ia mengatakan sebenarnya tak sulit melakukan pengawasan. Tapi butuh komitmen dan dukungan semua pihak.

“Kalau bicara kapal asing berarti itu kewenangan kementerian pertahanan – keamanan, ada kementerian kelautan dan perikanan, polisi perairan, perhubungan dan lainnya. Jadi secara politik, langkah presiden Jokowi untuk membentuk koordinator kementerian bidang maritim sangat tepat. Komitmen dan langkah bersama bisa dimulai dari situ,” katanya.

Institusi Balai TNTC terbagi atas 3 bidang wilayah yakni Wilayah I Nabire, Wilayah II Wasior dan Wilayah III Ransiki. Namun personil balai di masing-masing wilayah ini rata-rata hanya 9 orang, sementara kawasan yang harus dijaga seluas 1,4 juta hektar lebih.|PATRIX BARUMBUN TANDIRERUNG

EDITOR: DUMA TATO SANDA

Tinggalkan Balasan