Wakil Gubernur Papua Barat, Mohamad Lakotani melantik dan mengukuhkan TPAKD, Kamis (8/3).

OJK dorong petani Papua Barat manfaatkan asuransi

MANOKWARI, Cahayapapua.com— Otoritas Jasa Keuangan (OJK) regional 6 Sulawesi, Maluku, dan Papua mengajak para petani, peternak untuk memanfaatkan program asuransi agar mendapatkan jaminan kerugian jika mengalami gagal panen akibat serangan hama dan penyakit serta bencana alam.

“Saya mengimbau petani agar memanfaatkan program asuransi pertanian tersebut, yang di tangani oleh jasa asuransi Jasindo,” kata Zulmi, Kepala OJK Regional 6 Sulawesi, Maluku dan Papua, Kamis (8/3).

Dia menjelaskan program asuransi petani padi ini diterapkan agar petani bisa mendapat layanan keuangan. Jika terjadi gagal panen, petani bisa mendapat perlindungan asuransi. Supaya petani bankable, perlu dijamin. Adanya jaminan dalam bentuk asuransi ini nanti petani bisa mendapatkan pembiayaan, khususnya dari bank, sehingga kontribusi petani akan terasa.

“Dengan memanfaatkan asuransi tersebut, para petani juga bisa mendapatkan pinjaman di perbankan, dengan jaminan surat asuransi dan bagi perbankan tidak ada alasan dalam memberikan pinjaman,” jelasnya.

Program asuransi petani merupakan program asuransi dengan tertanggung adalah Kelompok Tani (Poktan) yang terdiri dari anggota, yakni petani yang melakukan kegiatan usaha tani sebagai satu kesatuan risiko (anyone risk). Obyek Pertanggungan adalah lahan sawah yang digarap para petani, baik pemilik maupun penggarap, anggota Poktan.

Premi Asuransi petani sebesar Rp180 ribu per hektare per masa tanam. Pembayaran premi sebesar Rp150 ribu dibayarkan pemerintah, sehingga petani cukup membayar premi sebesar Rp 30 ribu per hektar-nya. Sedangkan uang pertanggungan sebesar Rp6 juta setiap hektar.

“Artinya, jika terjadi musibah atau gagal panen, petani bisa mendapatkan klaim asuransi sebesar Rp 6 juta per hektar,” imbunya.

Dia menyebut di Manokwari pada tahun 2017 ada sebanyak 3.982 nelayan yang sudah tergabung dalam asuransi dengan target sebanyak 3.320. “Pencapaiannya luar biasa, ini mencapai 120 persen dari target,” lanjutnya.

Selain petani padi, para peternak juga bisa memanfaatkan asuransi tersebut. Nilai asuransi ternak Rp 00 ribu per ekor, dengan 80 persen dibayarkan pemerintah. Sehingga, peternak hanya membayar premi per ekor sebesar Rp 40 ribu.

“Jika sapi meninggal atau hilang, pihak asuransi akan mengganti sebesar Rp 10 juta per ekor,” tandasnya. |Elyas Estrada

Leave a Reply

%d bloggers like this: