Pungli Sekolah

Ombudsman PB: Praktik Pungli Terbanyak di Sekolah

MANOKWARI, Cahayapapua.com— Sekolah menjadi tempat paling banyak menjadi tempat praktik pungutan liar. Dalam perspektif Ombudsman, penjualan buku dan iuran yang diwajibkan kepada siswa masuk dalam kategori pungutan liar, sebab sudah ada alokasi dana BOS setiap tahun yang disalurkan untuk itu.

Kepala Kantor Ombudsman Perwakilan Provinsi Papua Barat, Nobertus, kepada wartawan membeberkan, banyak sekali modus yang dilakukan sekolah untuk menarik keuntungan dari siswa-siswi.

“Ada uang pagar, uang kalender, bahkan ada uang study banding. Padahal diharapkan dana BOS bisa mencover kebutuhan siswa meski jumlahnya sedikit,” ujarnya.

Diakui, sudah ada beberapa sekolah yang mendapat teguran langsung bahwa kebiasaan seperti ini masuk dalam kategori pungutan liar. Sejak keberadaannya tahun 2013, Ombudsman masih melakukan pendekatan persuasive dengan teguran untuk tidak mengulangi lagi.

“Semenjak sudah diawasi oleh kami, lumayan berkurang, namun tetap saja masih ada yang membandel,” jelasnya lagi, meski enggan menyebutkan sekolah-sekolah mana yang kerap melakukan hal tersebut.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Manokwari Barnabas Dowansiba menanggapi hal ini, dikatakan telah keluar Permendikbud Nomor 75 Tahun 2016, akan disosialisasikan bersama dinas dan Ombudsman bahwa apa yang bisa lakukan di sekolah-sekolah.

Didalam permendikbud yang disahkan pada bulan Desember tersebut, berisi aturan tentang komite sekolah, didalamnya tentang biaya apa saja yang bisa diberikan oleh komite dan orangtua siswa untuk membantu sekolah.

“Keluarnya permendikbud ini menyatakan bahwa memang tidak ada pendidikan yang gratis, silahkan komite dan orangtua melakukan apa saja untuk membantu memajukan pendidikan,” jelasnya menanggapi.

Lebih lanjut, kata Barnabas, belum tentu yang dilakukan adalah pungutan liar namun ada batasan-batasan juga yang harus di sadari oleh komite dan guru disekolah tersebut. (ACS)

Tinggalkan Balasan