Palang

Kemarin mace pulang agak terlambat dari pasar. Poro yang su tunggu di halaman, begitu mace turun dari ojek, dia langsung bantu pegang mace pu keranjang. “Sa kira mama menginap di pasar,” poro sindir. “Ko sabarang saja. Memangnya sa penjaga pasar ka? “Baru mama dorang lama bikin? Poro tanya sambil bawa keranjang ikut mace ke dapur. “Tadi mama-mama di pasar kitorang bicara-bicara soal masyarakat yang ancam palang lokasi penampungan air PDAM di luar kota sana,” mace kasih info. “Kalau masalah palang di sini su biasa to,” “Biasa bagaimana, ini masalah air menyangkut kitorang pu kebutuhan utama. Baru dorang minta lima puluh milyar. Tara masuk akal skali. Dorang kira pemerintah berak uang ka pa,” mace ganas. “Sa kira ini karena pemerintah terlalu kasih manja, ikut mau. Sedikit-sedikit kalau ada masyarakat yang palang minta ganti rugi, selalu dorang bayar. Akhirnya masyarakat bikin jadi kebiasaan dan mata pencarian,” Poro tarik kesimpulan. “Itu lagi, makanya orang kalau mau buka usaha di sini dorang pikir seratus kali. Gara-gara model begini kitorang tinggal jalan di tempat,” mace pu suara naik. Poro langsung sambung,“Kalau di daerah lain, pemerintah bangun apa saja untuk kepentingan orang banyak, masyarakat sekitar atau yang punya hak ulayat dorang dukung. Tara menghambat seperti begini. Makanya dorang cepat maju.” “Susah juga, tara tau kitorang mau bilang apa. Kantor palang, sekolah palang, bandara palang, tanah palang, air palang, kuburan palang…semua sudah.” ”Tinggal neraka yang belum.”