Papua Barat Butuh Rumah Rehabilitasi Pecandu Narkoba

MANOKWARI,CAHAYAPAPUA.com—Pemerintah Provinsi Papua Barat dan Pemerintah Pusat diminta segera mendirikan rumah rehabilitasi atau rumah singgah bagi pecandu Narkotika dan obat-obatan terlarang di wilayah timur.

Gerakan Anti Narkotika (Granat) Papua Barat mencatat, kasus penyalahgunaan Narkoba di provinsi ini terus meningkat setiap tahun.

Ketua Granat Provinsi Papua Barat, Max Hehanusa mengataka pembangunan rumah singgah dapat dilakukan di Kota Sorong, Papua Barat. Sebab Kota Sorong merupakan titik central bagi Provinsi Papua, Papua Barat dan Maluku.

“Di Papua Barat ada 3 kelas kasus Narkoba, pertama kelas bawah yakni penghisap lem aibon, kelas menengah pengguna ganja dan kelas elit pengguna sabu-sabu,” kata Max, Kamis (30/4/2015).

Dari seluruh kabupaten/kota di provinsi ini, jumlah kasus yang paling dominan terjadi kota Sorong dan Manokwari, baik Sabu-sabu, Ganja, maupun Aibon.

“Pemda kabupaten/kota dan provinsi harus melihat kasus ini dari sisi pembangunan manusia. Bahwa anak-anak Papua harus diselamatkan,” sebutnya.

Upaya pencegahan harus dilakukan secara sinergis oleh aparat keamanan, pemerintah daerah, LSM serta intitusi terkait lainya. Menurutnya pemberantasan Narkoba harus harus dilakukan sebelum barang itu sampai ke tangan anak-anak Papua.

“Kasus pengguna Narkoba di Papua Barat, terjadi dari kalangan anak-anak, remaja hingga pejabat pemerintahan. Mata rantai peredaran Narkoba harus diputus, jangan sampai masuk ke Papua, pengawasan pintu masuk harus diperketat dengan alat deteksi yang memadai,” kata Max.

Di kota Sorong lanjut Max, tahun lalu sudah sebanyak 10 orang pengguna yang kondisinya parah. Mereka telah dibawa ke Jawa untuk menjalani proses rehabilitasi.

Saat memperingati ulang tahun Granat tahun lalu, Max pun berkesempatan mengunjungi Lembaga Pemasyarakatan kelas -IIB Kota Sorong. Dilapas itu sebut Max, terdapat 30-40 tahanan kasus Narkoba. Mereka sebagai pengguna dan pengedar.

“Entah seperti apa kondisi mereka didalam, tindakan di Papua Barat, baru sebatas penegakan hukum,” cetusnya.

Khusus untuk penyalahgunaan Aibon, di Papua Barat sudah mencapai ratusan kasus, seluruhnya anak dan remaja. Keberadaan rumah singgah penting, salah satunya untuk melakukan pembinaan terhadap korban penyalahgunaan aibon yang didominasi anak dibawah umur.

“Belum ada aturan menyangkut penyalahgunaan lem Aibon, disisi lain lem ini dijual bebas dan rata-rata penggunanya anak-anak dibawah umur,” kata Max. |TOYIBAN