Ketua Bawaslu Provinsi Papua Barat, Alfredo Ngamelubun

Partisipasi Pemilih Pegaf Nomor Wahid di Papua Barat

MANOKWARI, Cahayapapua.com— Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Papua Barat mengapresiasi tingkat partisipasi pemilih di Kabupaten Pegunungan Arfak yang dinilai sangat tinggi dibanding 11 kabupaten/kota yang telah menyelesaikan rekapitulasi suara Pilgub Papua Barat, Sabtu (25/2).

Pasalnya partisipasi pemilih di kabupaten yang baru dimekarkan itu mencapai 100 persen, tanpa ada surat suara yang rusak akibat salah coblos. Di kabupaten itu juga tercatat tak ada pemilih tambahan atau pengguna E-KTP maupun surat keterangan Disdukcapil.

Pemilih terdaftar DPT Pegaf mencapai 31.735, terdiri dari laki-laki 16.446 dan pemilih perempuan 15.289. Dari jumlah tersebut, pengguna hak pilih yang menggunakan suara mencapai 31.735.  Sementara surat suara cadangan sebanyak total 2,5 dari surat suara atau 874 lembar tidak terpakai.

Partisipasi yang tinggi ini berbeda dengan kabupaten/kota lain di Papua Barat, sebut saja Kabupaten Induk Manokwari, yang memiliki jumlah pemilih dalam DPT 122.859 jiwa. Di kabupaten ini pemilih yang menggunakan hak pilih mencapai 100.226 jiwa atau 81,6 % sementara surat suara rusak akibat salah coblos sebanyak 60 lembar.

Komisioner Bawaslu Papua Barat Alfredo Ngamelubun cukup kagum dengan tingkat partisipasi pemilih serta proses administrasi yang baik di kabupaten yang baru berusia belia itu. Kata dia satu segi untuk tingkat partisipasi pemilih di sana sangat baik bahkan mengacu pada data yang ada pemilih di Pegaf sangat cerdas.

“Warga bisa mencoblos dan hasil coblosannya semua sah tanpa ada yang cacat atau rusak, kemudian bisa terlihat dihasil yang ada bahwa semua pemilih Pegunungan Arfak terdata tidak ada yang tertinggal,” ujar Ngamelubun usai rekapitulasi.

Dikatakan satu satunya kabupaten di Papua Barat Pilgub Papua Barat kali ini yang pemilihnya terdata sehingga tidak perlu menggunakan KTP atau surat keterangan dari Dukcapil untuk memilih mesti menjadi contoh bagi kabupaten yang lain di wilayah ini.

Meski demikian Alfredo juga meragukan fakta yang ada karena tidak mungkin satu kabupaten tidak ada salah coblos, begitu juga satu kabupaten semua pemilih terdaftar dan melakukan pencoblosan sesuai dengan jumlah yang ada bahkan semuanya sah.

“Bagaimana mungkin satu kabupaten terdapat pemilih yang tidak ada yang terdata. Semua terdata, jadi ini ada dua kemungkinan. Bisa menjadi hal positif dan contoh bagi yang lain begitu juga bisa dicurigai ada apa sebenarnya,” kata dia.

Sampai saat ini Panwaslu Kabupaten Pegaf saat memberikan laporan kepada Bawaslu menurutnya tidak ada pelanggaran atau laporan apapun terkait hasil yang diperoleh di Kabupaten Pegaf. Ini berarti semua berjalan dengan baik.

Sementara itu Ketua KPU Kabupaten Pegunungan Arfak Yan Maurids Ayomi, mengatakan, sesuai hasil yang sudah disampaikan dalam pleno, itulah kenyataan yang ada, bahwa 100 persen pemilih menggunakan hak pilih.

“Masyarakat pedalaman ingin memiliki gubernur seorang putra asli daerah. Itu yang ada dibatin mereka sehingga tingkat partisipasi di Pegaf sangat tinggi. Saya kira masyarakat Arfak itu beda dengan masyarakat di pantai. Kalau mereka sudah punya pilihan maka mereka tunjukan,” ujar mantan Ketua KPU Manokwari ini.

Untuk pengguna KTP atau surat keterangan Dukcapil, Ayomi mengatakan, Kabupaten Pegunungan Arfak diberikan kebijakan oleh Mendagri untuk masih menggunakan KTP biasa. Alasanya sarana dan prasarana disana belum memadai karena daerah tersebut baru berdiri.

“Menjadi pertimbangan pemerintah pusat bahwa Pegaf belum waktunya menggunakan KTP elektronik. Kalau surat keterangan pindah memang tidak terlalu banyak disana, hanya PNS yang pindah dari kabupaten induk ke Pegaf. Itu yang mereka sudah ambil surat keterangan untuk memilih di sana,” kata Ayomi. (MAR)

Tinggalkan Balasan