Warga melihat Pasar Remu di Kota Sorong yang terbakar baru-baru ini. Ratusan Lapak dilaporkan hangus.

Pasar Remu Terbakar, DPRD Tanya Nasib Pedagang ke Pemkot

SORONG – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Sorong akan melakukan pertemuan (hearing) untuk menyampaikan sejumlah aspirasi pedagang yang menjadi korban kebakaran pada kamis pekan lalu kepada Pemerintah Kota Sorong pada Selasa (21/02/17) pagi ini di Aula Pertemuan Samusiret.

Anggota Komisi B DPRD Kota Sorong, Syarif Nari mengatakan, ada beberapa agenda yang akan dibahas saat berlangsungnya pertemuan dengan Pemerintah Kota Sorong, salah satunya adalah nasib pedagang korban kebakaran. 

Karena pasca kebakaran pada tanggal 16 Februari 2017 lalu, hingga saat ini para pedagang belum menempati lapak jualan disebabkan lokasi tempat penjualan yang belum jelas, apakah pedagang dikembalikan ke tempat lama (bekas kebakaran, red) atau akan dibuat lapak semantara sembari menunggu perbaikan Pasar Remu.    

“Kita akan bahas tentang bagaimana tindak lanjut dari nasib pedagang korban kebakaran, warga korban meminta ada tindakan dari pemerintah daerah supaya nasib mereka tidak terkatung-katung,” terang Syarif kepada Cahaya Papua saat dihubungi, Senin (20/2) sore.

Saat ditanya apakah ada unsur kesengajaan dari sejumlah oknum yang membakar Pasar Remu agar pedagang direlokasi ke pasar modern yang baru, kata Syarif hal itu tidak benar. Menurutnya, pasar modern yang terletak di Kelurahan Rufei, Distrik Sorong Barat belum selesai dibangun. 

“Tidak benar itu, pasar yang baru dibangun itu belum selesai, pekerjaannya baru mencapai 80 persen, masa kita mau pindahkan pedagang sementara pasar yang modern elum selesai dibangun,” tegas Syarif.  

Dikatakannya, Walikota Sorong Ec Lambert Jitmau pernah menyampaikan bahwa relokasi para pedagang Pasar Remu baru bisa dilaksanakan apabila pembangunan pasar modern selesai 100 persen. Jadi jika ada isu yang menyatakan terbakarnya pasar karena pedagang ingin direlokasi ia menilai tidak tepat. 

“Sangat tidak tepat sekali kalau pemerintah melakukan relokasi pasar, karena pemerintah juga tidak mau ambil resiko yang fatal. Contoh, binatang saja kalau mau dipindahkan harus tunggu kandangnya selesai dulu, bagaimana dengan kita manusia,” ungkap Syarif. 

Oleh karena itu pria berdarah Buton ini mengimbau korban kebakaran untuk tetap bersabar menunggu keputusan dari pemerintah. Karena kejadian yang menimpa masyarakat adalah murni fenomena alam, bukan unsur kesengajaan.

“Tidak ada yang inginkan pasar terbakar, tidak ada yang bisa tandingi kuasa Tuhan, jangan terpengaruh dengan isu yang murahan sehingga kita terprovokasi,” imbuhnya. (NSR)

 

Tinggalkan Balasan