Ribuan Warga Manokwari Menggelar Demo Damai di Kantor Bupati Menolak Pembangunan Masjid Andai

Pembangunan Masjid Andai Ditolak

MANOKWARI, CAHAYAPAPUA.com– Lembaga gereja di Kabupaten Manokwari menolak pendirian masjid di Andai, Distrik Manokwari Selatan. Selain telah menimbulkan keresahan di tengah masyarakat dan berpotensi merusak toleransi beragama, pembangunan rumah ibadah itu juga mengabaikan status Manokwari sebagai Kota Injil.

Para pimpinan gereja dari berbagai denominasi meminta pembangunan masjid di Andai dihentikan dan agar tidak dilanjutkan pembangunannya. Terlebih pula karena pendiriannya tidak mengantongi ijin resmi dari Pemerintah Daerah.

Demikian antara lain bunyi pernyataan sikap pimpinan gereja di Manokwari yang dibacakan di hadapan Bupati Manokwari Bastian Salabai serta Ketua DPRD Dedi S. May pada unjuk rasa damai di halaman kantor bupati di Sowi Gunung, Kamis (29/10/2015).

Demonstrasi itu diikuti ribuan massa dari berbagai kalangan. Sebelumnya, massa yang mengenakan pakaian serba hitam sebagai bentuk keprihatinan, melakukan long march dimulai dari halaman GOR Sanggeng.

Dalam komunike bersama gereja-gereja se Kabupaten Manokwari yang dibacakan Wakil Ketua Klasis GKI Manokwari, para pimpinan gereja menyatakan pendirian masjid di Andai harus dibatalkan demi menegakkan eksisten Manokwari sebagai Kota Injil sekaligus sebagai pusat peradaban orang Papua.

Terlebih karena Andai, secara historis merupakan tanah zending yakni wilayah yang merupakan pusat Pekabaran Injil oleh para misionaris di masa lalu. Dalam rangka itu, lembaga gereja meminta Bupati agar tidak mengeluarkan IMB untuk masjid Andai.

“Manokwari sebagai kota Injil sejak 1856 harus dihargai oleh semua pihak di tanah Papua sebagai kearifan lokal. Sehingga pembangunan rumah ibadah di Manokwari harus memperhatikan status kota Injil dan suara gereja,” seru Wakil Ketua Klasis GKI Manokwari.

Perda Kota Injil

Pimpinan gereja juga mendesak Bupati bersama DPRD secepatnya mengesahkan Peraturan Daerah (Perda) tentang Manokwari Kota Injil. Status Kota Injil hendaknya dipandang sebagai bentuk kearifan lokal yang musti dihargai semua pihak yang hidup di tanah Papua.

“Kami minta DPRD untuk segera mengesahkan Perda kota Injil paling lambat Desember 2015, “ demikian salah satu butir pernyataan yang disampaikan pada saat itu.

Bupati Bastian Salabai menegaskan Pemda akan segera menindaklanjuti apa yang menjadi aspirasi umat Kristen Manokwari itu. “Kami akan menindaklanjuti dalam waktu yang tidak terlalu lama, “ ucap Salabai.

Dedi May menambahkan, DPRD Manokwari siap membahas dan mengesahkan Perda Manokwari Kota Injil. Dia mengajak para pimpinan gereja juga pemuka agama Kristen lainnya untuk ikut serta dalam pembahasan nantinya.

“Perda Manokwari Kota Injil merupakan bagian dari penghargaan terhadap sejarah di tanah Papua. Karena itu saya minta kepada semua pihak agar tidak memandang Perda Kota Injil sebagai sesuatu yang ekstrim, “ ujar Dedi.

Meski sempat terjadi perdebatan karena banyak massa tidak puas dengan jawaban Bupati, namun massa akhirnya membubarkan diri secara tertib. Aksi long march yang juga melibatkan para pendeta dari berbagai gereja ini sempat membuat arus lalulintas sepanjang jalan yang dilalui tersendat.

Pekerjaan fisik masjid di Andai sejauh ini sudah mencapai sekitar 70 persen. Kepada Cahaya Papua beberapa waktu lalu, Haji Ape selaku penangungjawab pembangunan masjid mengklaim pihaknya sudah mengantongi restu dari pemilik hak ulayat setempat juga dari Lurah Andai. |ZACK TONU BALA|ADITH SETYAWAN