Ilustrasi investasi, porosberita.com

Pemerintah Target Realiasi Investasi Papua Barat Capai 33,2 Triliun

MANOKWARI, CAHAYAPAPUA.com– Gubernur Papua Barat Abraham O. Atururi berharap ada impelementasi koordinasi antara pemerintah pusat dengan kabupaten/kota dalam meningkatkan investasi daerah.

Hal ini disampaikan staf Ahli gubernur Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia, Matias Rumfabe pada sosialisasi kebijakan penanaman Modal dalam negeri di Swissbel-hotel Manokwari, Kamis (3/9/2015).

Kata gubernur, sesuai Undang-undang Otsus dan visi misi Papua Barat, kegiatan investasi di Papua Barat diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi Papua Barat sehingga dapat menekan angka pengangguran di provinsi ini, memeprluas lapangan kerja, dan peningkatan ekonomi masyarakat.

“Kedepan diharapkan, kebijakan ini menjadi dasar dalam mendorong kegiatan penanaman modal baik penamaman modal dalam negeri maupun modal asing,” kata gubernur.

Sosialisasi ini mengusung materi penyederhanaan pertanahan/lahan, peraturan pemerintah No 18 tahun 2015 tentang fasilitas pajak penghasilan untuk penanaman modal dibidang usaha tertentu dan atau di daerh tertentu, kebijakan pemerintah daerah provinsi Papua Barat dalam rangka mendorong investasi daerah.

Pada kegiatan tersebut, Direktur Pelayanan Fasilitas Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) diwakili Kepala Sub Bidang Sektor sekunder, Agus Suwondo menjelaskan, sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional atau RPJMN 2015-2019, proyeksi perumbuhan ekonomi nasional antara 5,8-8 persen, dengan terget peprtumbuhan realisasi investasi 15% setiap tahun.

Proyeksi total realisasi investasi dari 2015-2019 sebesar 3588 triliun dengan rasio penanaman modal dalam negeri 39% ditahun 2019. Pertumbuhan investasi ini dinilai penting untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional agar terus meningkat hingga 8% pada 2019.

Pelayanan dan perbaikan iklim investasi yang dilakukan secara berkesinambungan, dari segi perbaikan aturan dan perundang-undangan, penyederhanaan pelayanan perizinan dan non perizinan pelayanan modal serta pemberian insentif penanaman modal.

“Tahun ini BKPN memiliki target realisasi investasi baik penanaman Modal dalam Negeri (PMDN) dan Penamanan modal Asing (PMA) sebesar 519,5 triliun.” Tentu, ini merupakan target kita bersama,” ujarnya.

Tantangan yang saat ini berada didepan mata lanjut Agus, semakin tingginya persaingan dalam menarik investasi.diharapkan 88,4 triliun investasi nasional berasal dari sektor primer seperti peternakan, tanaman pangan, perkebunan, perikanan, kehutanan, pertambangan.

Sedangkan 267,5 triliun diharapkan dari industri pengolahan dan industri pengolahan bahan mentah seperti industri padat karya, subsitusi impor, industri hilir sektor pertanian, perikanan, pertambangan dan industri olahan lainnya. investasi 163,3 triliun sisanyadi bebankan pada sektor jasa, baik konstruksi infrastruktur, perdagangan, transportasi, komunikasi dan sektor tersier lainnya.

Sementara target investasi perwilayah diharapkan bisa mencapai 282,6 triliun. Di wilayah Jawa ditarget 75,2 triliun, Sumatera, 74,5 triliun, Kalimantan, 27,8 triliun, Sulawesi 19 triliun, Bali dan NT 7,3 triliun, di Maluku, Papua dan Papua Barat 33,2 triliun.Di pulau Jawa focus pada industri teknologi, jasa dan keuangan, di luar pulau jawa yang memberi nilai tambah.

“Khusus untuk Papua dan Papua Barat diharapkan dilakukan pemerataan ekonomi yakni penanaman investasi pertanian dan pengolahanya, perikanan dan pengolahannya, pertambangan dan pengolahannya serta industri kimia,”imbuhnya.

Untuk mencapai ini telah dilakukan upaya perbaikan iklim investasi yang lebih kondusif diantaranya melalui pengaturan bidang usaha yang terbuka dan tertutup dan lebih transparan, penguatan kelembagaan pelayanan perizinan investasi baik pusat maupun daerah, penyederhanaan perizinan dan persayaratan perizinan menajdi lebih sederhana trasnparan dan terintegrasi, pemberian insentif investasi yang lebih luas dan trasnparan dalam bentuk teks lound dan tax holiday dan peningkatan pelayanan perizinan dengan menggunakan teknologi informasi melalui pelayann secara elektronik.

Realisasi ienvestasi penanaman modal pada triwulan pertama April-Juni tahun 2015 sebesar 135,1 triliun yang kembali mencetak rekor tertinggi dimana terjadi peningkatan 16,3% bila dibandingkan dengan tahun 2014.
Jumlah realisasi PMDN 42,9 T atau 31,8% dan jumlah realisasi PMA 92,2 T (68,2%) akumulasi realisasi inevastasi penanaman modal semester satu januari hingga juli 2015 adalah sebesar 259,7 T terjadi peningkatan dari periode yang sama di 2015 (16,6%) terdiri dari realisasi PMDN 65,5 T atau 32,9%, dan realisasi PMA 174,2 Triliun atau 63,1%.

Dari sebaran investasi berdasarkan wilayah pada semester satu tahun 2015, realisasi di pulau jawa 44,5 T atau 55,7%, dan di luar pulau jawa 115,2 T tau 44,3%, realisasi di luar pulau jawa meningkat 25,3% dibanding pada 2014 yang mencapai nilai 91,7 T.

Terjadi peningkatan realisasi PMDN pada Triwulan 1 tahun 2015 jika dibandingkand engan periode yang sama 2014 sebesar 13,3% dari nilai realisasi investasi 38,2 T menajdi 42,9 T. Untuk PMA pada periode Triwulan ke dua 2015 jika dibandingkan dengan 2014 meningkat sebesar 18,2% dari nilai realisasi inevstasi sebesar 78 T menjadi 92,2 T. | DINA RIANTI | EDITOR : TOYIBAN