Ilustrasi

Pemkab Sorong Alokasikan 30 Persen Otsus untuk Pendidikan

MANOKWARI, Cahayapapua.com— Pemerintah Kabupaten Sorong Selatan, akan mengoptimalkan pemanfaatan 30 persen dana otonomi khusus untuk memperbaiki mutu pendidikan di daerah tersebut.

Sekretaris Dinas Pendidikan Sorong Selatan di Ansar Asis Sija di Manokwari, Minggu (18/12) mengatakan, Pemkab Sorsel telah meluncurkan gerakan ‘Sorsel Cerdas’ untuk mengejar ketertinggalan dari daerah lain. Gerakan ini akan direalisasikan melalui program pembentukan guru prifesional dan pendidikan murah.

“Bapak bupati ingin, pendidikan di Sorong Selatan maju layaknya daerah lain seperti Sulawesi dan wilayah Jawa. Beliau akan memanfaatkan segenap sumber daya yang ada di daerah,” kata dia.

Mengawali program ini, pemerintah daerah ingin merubah paradigma berfikir masyarakat tentang pendidikan. Gerakan tersebut akan dimulai dari daerah pinggiran.

Selain mengoptimalkan peran Dinas Pendidikan dan para guru, pemerintah pun, kata dia, akan melibatkan seluruh masyarakat, lembaga swadaya masyarakat, serta insan pers.

“Pemerintah daerah sadar bahwa kemajuan daerah berikut manusianya hanya bisa diraih melalui pendidikan. Untuk itu, bidang pendidikan akan menjadi salah satu prioritas utama pembangunan,” katanya lagi.

Dia mengutarakan, gerakan ini akan dimulai pada tahun 2017. Pemerintah mengoptimalkan pemanfaatan anggaran baik dari pemerintah pusat maupun daerah.

Menurut dia, Pemkab akan memanfaatkan sepenuhnya 20 APBD dan 30 persen dana otonomi khusus yang diterima kabupaten tersebut untuk meningktan mutu pendidikan.

“Melalui dana tersebut, pemerintah akan meluncurkan subsidi pendidikan cukup besar. Sehingga pendidikan murah bisa dinikmati anak-anak Sorong Selatan,” ujarnya.

Melalui dana itu juga pemerintah akan meningkatkan kapasitas guru dan membuka penerimaan guru kontrak. Penerimaan guru kontrak dilakukan sebagai solusi atas minimnya jumlah guru di daerah tersebut.

“Perbandingan rasio jumlah guru dan jumlah siswa sangat jauh. Jumlah siswa dari sekolah pendidikan anak usia dini (PAUD) sampai SMA sudah belasan ribu, sementara guru tak lebih dari 700 orang,” ujarnya lagi. (IBN)

Tinggalkan Balasan