Pendidikan, Dapur Kehidupan Hari Esok

Oleh: Luis Jarfi, S.Pd, M.Pd

Karena pendidikan bersendikan kemanusiaan, dan karena nilai-nilai kemanusiaan itu membutuhkan pemberdayaan melalui suatu aktivitas belajar mengajar (ABM), maka pengelolaan pendidikan mestinya tidak kehilangan rohnya, yaitu: memanusiakan manusia

PENDIDIKAN adalah suatu layanan jasa. Oleh karena itu, memerlukan pengelolaan yang benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat. Pendidikan dianalogikan seperti sebuah dapur yang  menyediakan atau mengolah berbagai macam bahan menu yang dibutuhkan banyak orang.  Mereka hanya datang dan melihat menu mana yang sesuai dengan selera, kemudian membayar lalu memakannya. Jika makanan itu enak, mereka akan datang lagi membeli makanan tersebut, jika tidak enak, mungkin mereka akan pergi dan tidak pernah datang lagi. Kondisi ini akan membawa suatu keberhasilan atau keburukan bagi masa depan dapur tersebut.

Dari anologi di atas, dapat diartikan bahwa lembaga pendidikan (sekolah) harus  menyediakan pendidikan yang bermutu (berkualitas) bagi masyarakat. Dengan kata lain, sekolah harus menghias dirinya sebaik mungkin agar dapat menjadi daya tarik bagi publik (masyarakat). Sekolah harus memiliki sistem manajemen atau pengelolaan yang baik dan benar sehingga apa yang menjadi harapan masyarakat dapat terialisasi. Sebelum layanan jasa akan ditawarkan kepada masyarakat, sekolah terlebih dahulu mengidentifakasi dan mengetahui apa yang menjadi kebutuhan pelanggan (masyarakat). Dengan begitu, pendidikan yang disediakan di sekolah benar-benar  sesuai dengan kebutuhan mereka.

Kepala sekolah menjadi kunci penentu mutu pendidikan di sekolah yang dipimpinnya. Meskipun begitu, mereka dalam pengelolaannya selalu bertumpu pada sumber daya organisasi baik manusia (guru/Tata Usaha), material, maupun keuangan.  Semua ini dapat menjadi sebuah kekuatan yang dimanfaatkannya secara efektif dan efisien untuk mencapai kualitas pendidikan di sekolahnya. Guru menjadi salah satu dari sumber daya organisasi yang sangat berpengaruh terhadap kualitas pendidikan di sekolah. Agar mereka dapat bekerja optimal guna mencapai tujuan sekolah tersebut, maka kepala sekolah harus mengetahui dan menyediakan hal-hal yang menjadi kebutuhannya. Dengan begitu, mereka dapat menyumbangkan yang terbaik dari dalam dirinya untuk sekolah.

Kebutuhan yang dimasudkan di sini antara lain seperti fasilitas yang digunakan guru harus baik dan lengkap. Bahan ajar yang dipakai guru harus lengkap. Pelatihan yang merata bagi guru. Pemberian penghargaan dan insentif yang cukup kepada guru. Ruangan kerja yang nyaman. Perhatian yang merata kepada guru yang sakit, berduka, tidak masuk kerja pada jam efektif sekolah, dan memiliki masalah keluarga. Transparansi atau keterbukaan, pembagian tugas yang merata dan keamanan yang kondusif di lingkungan sekolah.  Jika unsur-unsur sebagaimana yang diutarakan di atas dapat diperhatikan dengan sungguh-sungguh, maka secara optimal mendorong kemajuan (kualitas) pendidikan di sekolah itu.

Di lain pihak, mutu produk pendidikan di sekolah juga memerlukan partisipasi serta tanggungjawab dari pemerintah,  masyarakat, dan stakeholder. Ini berarti bahwa, mutu (kualitas) pendidikan pada suatu sekolah dapat bersentuhan dengan berbagai faktor di antaranya: sarana dan prasarana, biaya, metode, sistem, dukungan masyarakat, dan kesejahteraan tenaga pendidik. Implikasinya, bilamana salah satu dari faktor-faktor dimaksud tidak dapat dipenuhi, akan membawa kepincangan terhadap kualitas pendidikan bagi sekolah itu.

Selanjutnya, metode dan strategi manajemen sekolah adalah hal penting dan tidak mungkin ditawar lagi. Karena peserta didik adalah manusia (individu) yang memiliki karakter, pola pikir, dan sikap yang berbeda dan tidak bisa disamakan dengan barang atau material yang diproduksi di dunia industri. Artinya, kesalahan terhadap hasil produksi di suatu perusahaan dapat ganti atau diperbaiki dalam waktu yang relatif singkat.

Sementara kesalahan dalam mendidik seseorang, akan mengakibatkan fatal dalam kurung waktu yang panjang bahkan sampai masuk ke liang kubur. Karena itu, diperlukan sosok guru yang mengajar peserta didiknya dengan hati. Dengan demikian, peserta didiknya dapat mengalahkan kebodohan yang mengikuti kehidupannya.

Memang benar seperti yang dikemukakan di atas, bahwa pendidikan adalah layanan jasa yang wajib menyediakan kebutuhan masyarakat. Namun perlu diingat juga bahwa, pemerintah, stakeholder dan masyarakat memiliki tanggungjawab yang sama dalam mendukung terwujudnya kualitas pendidikan di sekolah. Artinya, pemerintah mendukung pendidikan di sekolah melalui keuangan dan kebutuhan-kebutuhan lain yang diperlukan. Sementara masyarakat mendukung dalam bentuk mengirimkan anak-anaknya ke sekolah dan wajib menyelesaikan semua kewajibanya.

Demi terwujudnya kualitas pendidikan di sekolah, masyarakat (orang tua) seharusnya bekerjasama dengan sekolah. Tetapi faktanya, dukungan dari masyarakat (orang tua) akhir-akhir ini belum optimal. Ada orang tua yang menunda-nunda kewajibannya. Mereka kurang dalam mengawasi dan memotivasi serta memberikan semangat kepada anak-anaknya. Hal ini bisa dilihat dari ada anak-anak (peserta didik) yang kurang belajar dengan baik. Mereka kurang dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan guru. Mereka sering tidak disiplin terhadap aturan yang dibuat sekolah atau selalu ada pelanggaran pada setiap hari efektif sekolah.

Bahkan ada peserta didik yang datang ke sekolah “Senin Kamis”. Artinya,  masuk hari ini absen (tidak masuk kelas) besok. Jadi dapat disimpulkan bahwa, jika kondisi ini kurang adanya perhatian yang sungguh-sungguh  dari orang tua di rumah, jelas dapat berpengaruh signifikan terhadap mutu/prestasi dari peserta didik itu sendiri di sekolah. Dukungan yang lain adalah Perguruan Tinggi (PT) yang notabene sebagai salah satu stakeholder demi terciptanya kualitas pendidikan di sekolah. Ini berarti bahwa, sekolah harus bekerjasama dengan PT untuk mempersiapkan mutu peserta didiknya, sehingga mereka dapat masuk dan bersaing di berbagai PT yang berkualitas di Indonesia.

Jadi secara holistic (keseluruhan), dapat disimpulkan bahwa terwujudnya mutu pendidikan yang baik di sekolah membutuhkan partisipasi dan kerjasama yang harmony dari berbagai pihak (pemerintah, stakeholder, sekolah, dan masyarakat).

Selain itu, manajemen (pengelolaan) pendidikan pada suatu sekolah juga dapat dipandang sebagai suatu strategi meningkatnya mutu (kualitas) dan daya saing pendidikan. Karena pendidikan bersendikan kemanusiaan, dan karena nilai-nilai kemanusiaan itu membutuhkan pemberdayaan melalui suatu aktivitas belajar mengajar (ABM), maka pengelolaan pendidikan mestinya tidak kehilangan rohnya, yaitu: memanusiakan manusia sebagai individu yang bermartabat, bermoral, bertakwa, serta bertanggungjawab untuk dirinya, masyarakat, dan bangsanya. Hal-hal seperti inilah yang mutlak diperhatikan oleh setiap pejabat, praktisi, dan pengelola pendidikan, karena pendidikan dalam bentuk apapun, mesti menjadikan nilai-nilai kemanusiaan dalam konteks budayanya untuk dibentuk menjadi warga masyarakat yang mampu meningkatkan kualitas dirinya, sesamanya, dan dunianya.

Beberapa hal yang dilihat sebagai penghalang mutu pendidikan di sekolah. Intervensi (campur tangan) dari para birakrat, praktisi pendidikan, dan masyarakat khususnya di Papua. Hal ini berdampak pada sikap dan tindakan yang tidak inovatif dan kaku dalam mengelola pendidikan karena selalu mengedepankan aturan dan ketentuan yang cenderung mengekang kebebasan sekolah untuk kreatif. Pengelolaan pendidikan seharusnya bersifat ‘bebas nilai’ dan bersih dari berbagai konflik, kepentingan politik dan individu tertentu atau berdasarkan kemauan penguasa dan masyarakat. Bila hal ini terus dipertahankan, bukan mustahil bahwa mutu (kualitas) pendidikan pada sekolah-sekolah di Papua tidak akan maju seperti daerah-daerah lain di Indonesia.

Sekali lagi, sekolah merupakan garda terdepan yang mengemban misi terbesar dan termulia bangsa dan negara, yaitu ‘mencerdaskan kehidupan bangsa.’ Kepala sekolah maupun guru dipandang sebagai pelaksana atau eksekutor yang menjalankan semua program dan kebijakan pendidikan di lapangan dalam mencapai tujuan mulia ini. Karena itu, mereka perlu saling bekerjasama dan saling melengkapi sehingga tercipta iklim kerja yang sehat dan menyenangkan. Dengan begitu,  amanah besar bangsa dan negara dalam tujuan pendidikan nasional dapat  terwujud.(*)

 

Oleh: Luis Jarfi, S.Pd, M.Pd

Guru SMA Negeri 2 Manokwari

Tulisan ini pernah dimuat di Harian Umum Cahaya Papua, Manokwari.

Tinggalkan Balasan