Pendidikan yang Memanusiakan

Oleh: Thomas Ch. Syufi

Ketua Lembaga Pusat Kajian Isu Strategis (LPKIS) Pengurus Pusat PMKRI Sanctus Thomas Aquinas, periode 2013-2015.

Thomas Ch Syufii. Ketua Lembaga Pusat Kajian Isu Strategis (LPKIS) Pengurus Pusat PMKRI Sanctus Thomas Aquinas, periode 2013-2015.

Kata Albertus Magnus (1206-1280), filsuf, biarawan dominikan, dan cendikiawan Katolik Abad Pertengahan, “Cum amore et scientia serviamus homines, dengan cinta dan ilmu pengetahuan kita dapat melayani sesama.

Selain Magnus, ditulis oleh Doni Koesoema A, mahasiswa program doktoral Universitas Kepausan, Gregoriana, Roma Italia, di Kompas 22 Desember 2003. “Niccolo Macchiavelli (1469-1527), filsuf politik dan konsul Italia, mengkritik kacaubalaunya situasi politik di Florence dengan merujuk gejala amnesia historis atas sistem pendidikan Romana Antica. “Kita cenderung mengagumi masa lalu daripada mencontohnya,” tulisnya dalam Discorsi sopra la prima deca di Tito Livio (Milano, 1984).

Kebencian dan ambisi politik di banyak provinsi dan kota-kota kristiani bukanlah alasan mengapa situasi politik di Florence begitu kacau. Kekacauan terjadi karena kurangnya “pengenalan sejati akan sejarah dan mencecap nilai intrinsik yang ada”. Singkatnya, belajar dari sejarah adalah awal reformasi politik. Belajar pada pendidikan Romana Antica berarti memberi prioritas pendidikan keluarga.

Pedagogi pendidikan Romawi kuno bergerak dari ranah privat (keluarga) ke ranah publik (kesejahteraan rakyat). Visi pendidikan ini kental dengan ideal moral ciceronis, Salus publica suprema lex (Cicero, la Leggi. III, 8). Kemaslahatan umum adalah norma, nilai, dan keutamaan (virt¨) dalam setiap proses pendidikan.

Macchiavelli lebih dikenal sebagai seorang pemikir politik ketimbang pendidik. Namun, tak dapat diragukan karya- karya “sekretaris negara Florence” memiliki dimensi edukatif genial, khususnya refleksinya atas ketakterpisahan (dialektika) antara dimensi privat dan publik proses pendidikan. Kacaunya dunia politik bisa dilacak dalam carut-marutnya dunia pendidikan sebab “contoh yang baik lahir dari pendidikan yang baik, dan pendidikan yang baik terlahir dari tatanan hukum yang baik (buone legge)…”.

“Pendidikan yang direfleksikan dan ditelaah Macchiavelli adalah pendidikan politik dalam rangka merespons kebutuhan politis mendesak. Seandainya pendidikan tidak menciptakan situasi politik nyata, menyiapkan setiap orang agar dapat hidup bersama sesuai aturan, bagaimana mungkin mencapai tujuan pendidikan?” (Manuel Anselmi, 2000).

Macchiavelli amat menjunjung tinggi gaya pendidikan Romana Antica yang secara intensif membentuk pribadi-pribadi yang siap terjun ke kancah politik.
Ia mencoba mencari jawab fakta adanya perbedaan karakter dalam setiap keluarga bangsawan di Roma. Ia bertanya, mengapa keluarga bangsawan Manlii, misalnya, memiliki karakter keras dan kasar, sedangkan keluarga Publicoli menghasilkan orang-orang bersahaja dan disukai rakyat, sementara keluarga Appii begitu ambisius dan menjadi musuh kalangan jelata? Perbedaan karakter ini tak mungkin karena garis keturunan. “Jika karena darah, karakter keluarga akan berubah melalui proses perkawinan satu sama lain. Karakter dalam keluarga mereka muncul karena perbedaan pendidikan antara keluarga yang satu dan yang lain.”

Pendidikan Romawi kuno menempatkan keluarga sebagai locus educationis utama. Keluarga dianggap sebagai patron bagi Republik Roma. Ide paterfamilias menjadi semacam jembatan antara pendidikan privat dan publik. Ayah adalah penanggung jawab keluarga yang mengantar anak untuk memasuki dunia publik pemerintahan. Selain itu, pendidikan Romawi kuno menempatkan ibu sebagai tokoh utama dan pendidik pertama bagi anak-anak. Ibu yang berkualitas akan memberikan pendidikan bagi anak-anaknya agar mereka kelak siap terjun dalam kancah politik. Tokoh perempuan seperti Cornelia (ibu Gracchi), Aurelia (ibu Caesar), Attia (ibu Augusto) merupakan protagonista utama bagi pendidikan politik anak-anaknya.

Cukup beralasan jika Macchiavelli meneropong kekacauan politis di Florence dengan membidik tajam bidang pendidikan. Ia begitu prihatin dengan proses pendidikan yang berlaku di Florence pada masanya sebab sistem pendidikan pada masa itu rupanya lebih suka, “mengagumi” masa lalu daripada “mencontohnya”. Mereka tak belajar dari sejarah kejayaan pendidikan Romana Antica.

“…jika proses pendidikan di Italia tidak menghasilkan orang- orang yang kuat dan tegas, dan mereka lebih menyalahkan unsur alamiah, tentu, jujur saya katakan, hal ini tak dapat dimaafkan dan justru inilah kelemahan kita. Sebab, pendidikan dapat melengkapi apa yang kurang dari kapasitas alami yang kita miliki. Italia telah berkembang dan mampu menguasai dunia sejauh ia memiliki proses pendidikan yang ulet dan kuat” (Macchiavelli, dellÆAmbizione).
Pendidikan kita

Jika analisis Macchiavelli benar, carut- marut dunia politik kita, merajalelanya korupsi, ketidakpastian hukum, macetnya pelayanan publik negara terhadap warga negaranya bisa dilacak juga dari kacaunya sistem pendidikan yang kita miliki sebab “contoh yang baik lahir dari pendidikan yang baik, dan pendidikan yang baik terlahir dari tatanan hukum yang baik”. Selain itu, luputnya perhatian kita pada pendidikan dalam keluarga bisa menjadi bumerang bagi kehidupan sosial berbangsa di masa depan.

Ada kesan, proses pendidikan kita makin mengarahkan anak didik yang dari sono-nya adalah manusia politis (baca, manusia public) menjadi manusia rohani (manusia privat). Rusaknya moralitas bangsa sering dikambinghitamkan pada lemahnya iman. Karena itu, pendidikan agama mesti diterapkan pada seluruh jenjang pendidikan. Baik kita ingat, pemerintah fasis Italia dibawah kepemimpinan Benito Mussolini justru mewajibkan pendidikan agama Katolik di tiap sekolah pada Reformasi Gentile (1922-1923).

Ketertarikan Mussolini pada pola pendidikan Katolik yang lebih memprioritas pendidikan karakter (kejujuran, disiplin, sopan santun, toleransi, dan humanis atau memiliki sikap kasih), juga menjunjung tinggi tiga nilai benang merah; intelektualitas (kecerdasan), fraternitas (persaudaraan), dan spiritualitas (iman). Bila pendidikan tanpa ketiga hal ini, maka para pendidik atau cendekia yang dihasilkan tidak ada membawa manfaat apa-apa bagi salus publicum, keselamatan umum atau bonum commune, kebaikan bersama. Mereka hanya menjadi para “pelacur” intelektual.

Karena masyarakat modern yang akan berdiri kokoh dan stabil bukan karena kehadiran para eksekutor, tetapi para professor (para guru). Simbol kekuatan sebuah bangsa tidak didsarakan banyaknya guillotine, namun pada kualitas dan kuantitas kalangan cerdik pandai yang dimiliki.

Karena itu, monopoli legitim atas dunia pendidikan kini menjadi amat penting daripada monopoli perilaku kekerasan. Singkatnya, sebuah bangsa akan kokoh jika mampu mendidik diri sendiri dan cinta damai.

Seharusnya pendidikan mengarahkan anak didik untuk bergerak dari ranah privat menuju publik, bukan sebaliknya. Pendidikan dalam keluarga dengan demikian tak terlepas dari proses kehidupan sosial politik dalam masyarakat.

Menjadi orangtua yang bertanggung jawab dan dapat memberi bekal pendidikan anaknya memang tidak mudah. Tidak ada sekolah untuk menjadi bapak atau ibu. Setiap orang bisa menjadi bapak atau ibu karena kapasitas alami biologis reproduktif dalam melanggengkan keturunan.

Mengharapkan output pendidikan yang bervisi salus publica suprema lex menjadi sekadar impian jika hingga kini masih banyak kita temui orangtua yang pasrah bongkokan menyerahkan anaknya untuk dididik di sekolah tanpa mau terlibat proses pendidikan anak-anak mereka sendiri, entah karena alasan kerja, sibuk, tak ada waktu, atau alasan ekonomi, “Saya sudah bayar mahal ke sekolah untuk pendidikan anak saya.” Mental jual beli inilah sebenarnya yang menghambat kualitas pendidikan kita. Pendidikan yang baik mengandaikan kontinuitas dan kerja sama antara orangtua dan sekolah.

Apabila yang punya anak sendiri saja tidak punya komitmen mendidik anaknya sendiri, jangan harapkan orang lain punya komitmen terhadap anak-anak kita. Siapakah anak-anak kita bagi mereka?

*). Penulis adalah Ketua Lembaga Pusat Kajian Isu Strategis (LPKIS) Pengurus Pusat PMKRI Sanctus Thomas Aquinas, periode 2013-2015.

Tinggalkan Balasan