Simulasi pengamanan fasilitas Tangguh LNG di Distrik Babo, Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, Minggu (30/11/2014). Foto: Ist

Pengamanan Fasilitas Tangguh Kedepankan Prinsip HAM

TELUK BINTUNI, CAHAYAPAPUA.com– Staf Pemantau Aktivitas HAM Komnas HAM Papua, Yorgen Numberi mengatakan, ekspansi proyek Tangguh train 3 di Papua Barat hendaknya tetap memperhatikan dimensi pemenuhan Hak Asasi Manusia terutama terhadap warga asli Papua yang terkena dampak secara langsung dari megaproyek itu.

“Misalnya, desalinasi air asin menjadi air layak minum. BP harus berpikir bagaimana agar air bersih dari fasilitas itu juga bisa diakses oleh warga sekitar,” kata Yurgen saat berbicara dengan Site Manager Tangguh LNG, Refrizal Bustaman, di site Tangguh, Babo, Teluk Bintuni, Sabtu (29/11/2014).

Selain itu, Komnas HAM Papua berharap agar upaya penanggulangan aksi massa yang menyasar fasilitas Tangguh hendaknya mengedepankan prinsip-prinsip HAM atau tidak mengedepankan kekerasan.

Soal itu, Government and Public Affairs Manager BP Tangguh Budiman Moerdijat menyatakan, pihaknya berkomitmen untuk memastikan bahwa selain masyarakat mendapat manfaat, BP juga berkomitmen untuk menjaga stabilitas keamanan di kawasan Teluk Bintuni.

Pendekatan keamanan yang dilakukan Tangguh selama ini berbasis pada Kemanan Terintegrasi Berbasis Masyarakat. Dengan prinsip ini BP percaya bahwa keamanan dan penghargaan terhadap HAM dapat selaras jika diperkuat dengan kemitraan yang melibatkan masyarakat setempat.

Konsep ini juga diaplikasi dari Voluntary Principles on Security and Human Rights (VPSHR). Lewat konsep ini, masyarakat setempat, lembaga pemerintahan dan petugas keamanan mengatur tanggung jawab bersama dalam isu-isu keamanan. Pihak militer tidak terlibat kecuali dalam keadaan luar biasa.

Tangguh Expansion Community Affairs, Hidayat Alhamid menjelaskan bahwa dalam kaitannya dengan pemenuhan Hak Ekosob, sudah ada ada pergeseran paradigma BP dalam upaya pengembangan komunitas yang terkena dampak ekspansi proyek Tangguh.

“Dulu berbasis kewilayahan. Tetapi sekarang ada arus migrasi besar-besaran ke Bintuni dan sekitarnya. Itu bisa membuat penduduk asli termarginalisasi. Itu sebabnya upaya-upaya kami kini diarahkan untuk memprioritaskan masyarakat asli Papua,” katanya saat mengunjungi sentra pengembangan Rumput Laut di Kampung Arguni, Distrik Kokas, Fakfak.

Proyek Tangguh menginvestasikan 25 juta dollar Amerika lewat sejumlah program yang dimaksud untuk memperkuat perekonomian wilayah di sekitar wilayah operasinya. (Baca: Gas Tangguh Juga Dipasok untuk Kebutuhan Domestik)|PATRIX BARUMBUN TANDIRERUNG

 

EDITOR: DUMA TATO SANDA

Tinggalkan Balasan