Peserta pentas seni budaya SMANSA menampilkan busana kertas koran. Foto:CAHAYAPAPUA.com |Isabela Wisang

Pelajar Kaimana Sulap Koran Jadi Busana

KAIMANA,CAHAYAPAPUA.com–Ada-ada saja kreatifitas siswa-siswi SMA Negeri I Kaimana, ketika melaksanakan pentas seni dan budaya (Senbud) beberapa hari lalu. Kertas koran bekas, bungkusan sabun cuci rinso dan daia, didaur dan dikombinasikan menjadi gaun terunik yang menyita perhatian ratusan warga Kota Kaimana, yang memadati lokasi pelaksanaan pentas seni dan budaya SMANSA Reklamasi Pantai Taman Kota Kaimana. Pentas Senbud digelar untuk membina generasi muda agar tidak mudah terpengaruh budaya luar, tetapi sebaliknya tetap mencintai budaya asli Indonesia dan kearifan lokal.

Kegiatan yang dibuka Kepala SMA Negeri I, Yosafat Lamawuran, S.Si ini menampilkan 30 jenis atraksi yang melibatkan kelompok siswa kelas 10-12.    Adapun sejumlah tari yang dipentaskan adalah; Tarian suku Mayrasi dengan busana kulit kayu, tari dan keroncong nelon suku Irarutu, tari dan keroncong nelon suku Napiti, tari dan keroncong nelon suku Oburauw, tarian Nirmala (Melayu), ceritera tari dari suku Kuri, tari sawat suku Koyway, tari Indologo dari Sulawesi Selatan, keroncong nelon Arguni, tari Tor-tor Batak, dancer dan solois.

Disamping tari-tarian, tampil pula group fashion shouw beranggotakan siswi SMA dan juga kelompok cilik yang merupakan anak dari beberapa guru SMA. Salah satunya, fashion show menggunakan busana hasil daur ulang dari kulit rinso dan koran. Kulit rinso dibuat menjadi blus di padukan rok kembang dari kertas koran bekas. Ada juga blus dari kulit rinso dipadukan rok kembang dari bungkusan sabun daia, blus dari bungkusan pewangi molto dipadu dengan rok kembang dari daun rumbia/daun sagu dan hiasan kepala burung cendrawasih serta busana modern yang dipadukan dengan rok kembang dari bungkusan rinso dan daia. Gaun daur ulang ini didesain oleh murid SMA N I.

Kepala SMAN I, Yosafat Lamawuran saat dikonfirmasi menjelaskan, kegiatan pentas seni dan budaya merupakan kegiatan rutin yang digelar setiap semester, dalam rangka membina generasi muda agar tidak meninggalkan budaya sendiri, tanpa harus ketinggalan zaman. Kegiatan yang dilaksanakan ini merupakan perpaduan antara seni dan tari modern dan klasik. Yosafat juga jelaskan, kegiatan ini juga merupakan bagian integral dari proses pendidikan, tidak hanya untuk dapat nilai kesenian, tapi juga sebagai proses pembinaan bakat, minat dan potensi peserta didik.

“Bagaimanapun generasi ini generasi transisi. Kalau tidak dohidupkan terus, bisa putus untuk generasi seterusnya. Kegiatan ini juga bagian integral dari proses pendidikan, tidak hanya untuk dapat nilai kesenian, tapi juga sebagai proses pembinaan bakat, minat dan potensi peserta didik. Ini memang kami merasa penting untuk dilakukan setiap tahun dari semester ke semester karena kami punya perhatian khusus untuk ini. Mungkin kedepan kami akan membentuk salah satu sanggar untuk SMA. Kegiatan ini melibatkan semua siswa-siswi dari kelas 10-12 yang sudah terbentuk dalam kelompok masing-masing,” jelas Yosafat. |ISABELA WISANG

 

EDITOR: IMRAN

Tinggalkan Balasan